Skip to content
mtatataufik.id

mtatataufik.id

media berbagi dan silaturahmi

  • Profil
  • Gallery
  • Tafsir Inspiratif III
    • Tafsir Inspiratif I& II
  • Untuk Putra-putriku
  • Buku
  • Artikel
    • Kolom
    • Komunikasi Pendidikan Islam
    • Hikmah
    • Arsip
  • Home
  • خالف تعرف (khālif tu’raf )

خالف تعرف (khālif tu’raf )

Posted on April 23, 2020April 25, 2020 By M Tata
Kolom

Dalam khazanah kesusastraan Arab dikenal istilah matsal, maksudnya perkataan yang menyebar penggunaannya melalui cerita di masyarakat, dan digunakan untuk menyamakan suatu keadaan atau kondisi atau kejadian yang terjadi dengan perkataan/ungkapan tersebut dipakai pertama kalinya (sesuai cerita).  Bisa dalam bentuk perkataan yang dinisbahkan kepada binatang atau manusia. Dalam Bahasa Indonesia dikenal istilah farabel yang kisahnya dinisbahkan kepada manusia atau fabel yang dinisbahkan kepada binatang atau tumbuh-tumbuhan, ada juga istilah metafora.

Konon ada seorang penyair Arab bernama Abu Mulaikah Jarwal Bin Aus Bin Malik al-Abasi yang dikenal dengan julukan Al-Huthai’ah, ia hidup masa Jahiliyah dan masuk Islam pada masa Khalifah Abu Bakar. Latar belakangnya tidak begitu menggembirakan karena tidak dikenal keturunan  dari siapa dan dari kabilah mana. Lahir dari seorang sahaya permpuan, karenanya dia sering dicemooh dan diejek.  Untuk mencari penghidupannya dia terpaksa harus membuat syair, dan syair tersebut dia memilih genre tersendiri dalam Bahasa rab disebut al-Hajā’ suatu genre syair yang kontennya mencemooh atau mengejek orang (ngenye). Pemilihan genre tersebut sebagai refleksi dari masa lalunya dan kondisi sosialnya.

Dikisahkan pada suatu saat Al-Huthai’ah mengunjungi kota Kufah, saat ia bertemu seseorang ia menanyakan: “bisakah kamu tunjukkan seorang mufti (pemberi fatwa) yang pendapatnya jitu di kota ini?” Orang itu menjawab: “kamu temui seorang bernama Utaibah.” Lalu ia mendatangi rumahnya kemudian ketemu dengannya, seraya bertanya: “apakah kamu Utaibah?” “Bukan” jawabnya, lalau ia bertanya lagi “kamu Itāb (Tercela) jika namamu mirip dengan ungkapan itu?” “Ya, nama saya Utaibah” jawabnya.

Kemudian Utaibah menanyakan “ siapa namamu?”  Namaku Jarwal Abu Malaikiyah,”  Utaibah tidak mengenalnya, lalu dia katakan “saya Al-Huthai’ah”  baru dia mengenalnya dan menyambutnya. Kemudian Al-Huthai’ah menanyakan siapa sebetulnya penyair yang paling popular? “Engkaulah penyair paling popular,” jawabnya. Lalu   Huthai’ah mengatakan: “خالف تذكر”  (berbedalah pasti akan dikenang), bahkan bagi saya, lanjutnya, penyair  popular itu yang membuat syair ini:

ومن يجعل المعروف من دون عرضه يفره، ومن لا يتق الشتم يشتم

ومن يك ذا فضل فيبخل بفضله على قومه يُستغنى عنه ويذمم

Siapa yang berbuat kebaikan tanpa dibarengi harga dirinya, sama dengan menghilangkan kemuliaannya, siapa yang tidak waspada terhadap hinaan, akan dihina, dan siapa yang memiliki kelebihan lalu ia pelit atas kelebihannya itu, maka ia akan dicampakkan oleh kaumnya dan akan dihina.

Yang mengucapkan syair ini adalah Zuhair bin Abi Salma, beberapa bait kutipan dari syair Zuhair yang digantungkan di Ka’bah pada masa Jahiliyah karena posisinya yang masuk dalam Top Ten karya para penyair masa Jahiliyah. Tradisi menggantungkan 10 Syair terbaik di Ka’bah pada masa itu merupakan ajang adu prestasi para pujangga dengan sebutan Mu’alaqāt (yang digantungkan) dan gelar penyairnya disebut Shāhib Mualaqāt.

Inilah asal mula cerita perumpamaan خالف تعرف yang merupakan perubahan dari pernyataan al-Hathi’ah خالف تذكر (khālif tudzkar) artinya berbedalah pasti akan dikenang, kemudian berubah menjadi khālif tu’raf artinya berbedalah pasti akan dikenal.

Perumpamaan ini digunakan ketika melihat seseorang yang “ingin berbeda” dengan menyampaikan ide atau gagasan yang beda dari pendapat umum saat itu.  Di Indonesia almarhum Cak Nur sering mengungkapkan kata ini jika beliau ceramah di kalangan santri. Dan sekarang menjadi gaya para santri tatkala mereka menemukan sesuatu yang berbeda dari kawan-kawannya. Bahkan lebih dari itu seakan menjadi metode yang sering dipakai untuk mengenalkan diri; mempopulerkan diri. Ya, harus berani berbeda supaya dikenang dan dikenal.

 

Tags: beda fabel farabel matsal zuhaer

Post navigation

❮ Previous Post: Generation X, Y, dan Z
Next Post: Sahur ❯

You may also like

Kolom
Mi’raj
March 26, 2021
Kolom
Rumah
May 12, 2020
Kolom
Kita Tetap Butuh Pesantren
February 10, 2026
Kolom
Mewujudkan Indonesia Raya
October 31, 2023

Recent Posts

  • Kurikulum Holistik: Dari Model Tokkatsu, Child to Child Pedagogy, Hingga Pesantren
  • Ahead of GIHES 2026: From the Hidden Curriculum to a Holistic Curriculum
  • Kami Alihkan Pesawatnya ke Surabaya
  • Menjelang GIHES 2026: Dari Hidden Curriculum ke Holistic Curriculum
  • The Expensive Warung: How Commercialism Is Changing Indonesian Hospitality

Archives

Memes

Categories

Quotes

Kalender

September 2026
M T W T F S S
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
282930  
« Jul    

Memes

Link

  • PP Al-Ikhlash
  • Al-Ikhlash Institute
  • P2i

https://www.youtube.com/c/TataTaufik

Copyright © 2026 mtatataufik.id.

Theme: Oceanly Green by ScriptsTown