Kita Tetap Butuh Pesantren
Sejak kapan kita perlu sekolah? Konon pada era kuno, Peradaban Mesir Kuno dan Mesopotamia (3000 – 500 SM) sekolah hanya untuk pera juru tulis (Scribes). Biasanya bertempat di kuil atau istana. Pelajaran terfokus pada baca tulis agar bisa mencatat pajak, hukum, dan doa-doa keagamaan. Pada Era Yunani dan Romawi mulai sekolah untuk “Warga Negara” (500 SM – 400 M). Di sini konsepnya berubah, di Athena, sekolah bertujuan membentuk warga negara yang ideal (Paideia). Orientasi pada pembinaan fisik (Gymnasium ) menyiapkan warga negara yang tangguh untuk menjadi prajurit, dan para filsuf pecinta kebaikan (Academy). Kata “School” sendiri berasal dari bahasa Yunani skholē yang artinya waktu luang. Jadi, sekolah dulu dianggap sebagai aktivitas mewah bagi mereka yang punya waktu luang untuk berpikir.
Era Abad Pertengahan (500 – 1400 M), Muncul Biara dan Madrasah sebagai tempat pendidikan dan belajar, setelah Romawi runtuh, agama menjadi pusat pendidikan. Di Eropa, Pendidikan berpusat di katedral dan biara. Inilah cikal bakal universitas pertama seperti Bologna dan Oxford. Sedangkan di Dunia Islammuncul sistem Madrasah (seperti Madrasah Nizamiyyah). Pendidikan Islam sangat maju karena menggabungkan teologi dengan sains (astronomi, kedokteran, matematika). Konsep “ijazah” pun mulai dikenal secara sistematis di dunia Islam.
Sejak Era Revolusi Industri (Abad ke-18 – 19), sekolah berubah orientasinya, inilah cikal bakal sekolah yang kita kenal sekarang (seperti di Indonesia). Model Prusia (sekarang Jerman) menciptakan sistem sekolah wajib untuk menciptakan warga negara yang patuh dan tentara yang disiplin. Karena revolusi industri, sekolah didesain mirip pabrik, ada lonceng, duduk berbaris, dan ujian massal. Tujuannya adalah mencetak pekerja yang seragam keterampilannya.
Perkembangan di Era Modern, sekolah bergerak menuju pendidikan personal (Abad ke-20 – Sekarang). Pada fase ini muncul tokoh-tokoh seperti Ki Hajar Dewantara dengan konsep Among-nya, atau Maria Montessori, yang mulai mengkritik “sekolah rasa pabrik”. Mereka ingin sekolah kembali ke fitrahnya: tempat menumbuhkan potensi unik anak, bukan sekadar mencetak pekerja.
Menarik untuk melihat bahwa Pesantren adalah salah satu bentuk institusi pendidikan tertua yang berhasil mempertahankan nilai “kekeluargaan” di tengah gempuran sistem sekolah model pabrik (Prusia). Topik pesantren menjadi sangat menarik karena Pesantren (atau lembaga serupa dengan nama berbeda) merupakan jantung dari transmisi peradaban Islam yang tetap bertahan hingga ribuan tahun. Secara esensi, institusi ini adalah tempat di mana murid tinggal bersama guru untuk mendalami agama (tafaqquh fiddin).
Cikal Bakal Pesantren:
Era Awal, cikal bakal pesantren dimulai dari Ashabus Suffah di Masjid Nabawi—para sahabat yang tinggal di emperan masjid untuk belajar langsung dari Nabi Muhammad SAW. Suffah dan Halaqah (Madinah & Baghdad), sistem Halaqah di Baghdad dan Kufah, berkembang menjadi lingkaran belajar di masjid. Guru duduk bersandar pada tiang, dan murid melingkar di sekelilingnya. Ini adalah bentuk paling murni dari hubungan emosional guru-murid. Sistem ini masih tetap berjalan hingga sekarang, di mesjid-mesjid seperti Mesjidil Haram Makah dan Madinah masih ditemui halaqah-halaqah, seorang Syaikh duduk di kursi dikelilingi para pembelajar yang mengitarinya, bahkan para pesertanya melampaui batas-batas teritorial dan sekat benua. Ini juga ditemui di mesjid-mesjid kita di Indonesia, melalui majelos taklim mingguan misalnya.
Afrika Utara dikenal sistem Zawaiya dan Ribat. Di wilayah Maroko, Aljazair, hingga Sudan, institusi ini disebut Zawiyah. Ia berfungsi mirip pesantren, Zawiyah adalah pusat pendidikan sufi dan ilmu syariat. Ribat pada awalnya adalah benteng pertahanan di perbatasan, namun lambat laun berubah menjadi pusat ibadah dan pendidikan bagi para mujahid dan pencari ilmu. Hingga kini, pengaruh Zawiyah sangat kuat dalam menjaga identitas Islam di Afrika.
Di Asia Tengah dan Persia, Madrasah Nizamiyyah memulai era formalisasi pendidikan. Pada abad ke-11, Wazir Nizam al-Mulk mendirikan madrasah-madrasah besar seperti di Baghdad dan Isfahan. Fase ini merupakan fase perubahan. Jika sebelumnya belajar bersifat sukarela di masjid, kini ada asrama, beasiswa, dan kurikulum tetap. Inilah yang menginspirasi sistem universitas di Eropa dan sistem asrama pesantren di Nusantara.
Afrika Barat dikenal Tsangaya atau Almajiri, di Nigeria dan sekitarnya (Kekaisaran Sokoto), ada sistem Tsangaya. Dengan karakteristik unuk, para Murid (Almajiri) berpindah-pindah mengikuti guru (itinerant scholars) dan hidup dalam kemandirian yang sangat ketat untuk menghafal Al-Qur’an.
Di Nusantara Pesantren (Indonesia) dan Pondok (Malaysia/Patani). Nama Pesantren sendiri diduga oleh sebagian ahli kemungkinan berasal dari kata shashtri (India/Hindu) yang berarti orang yang tahu kitab suci, atau santri dari bahasa Sanskerta sastriman yang artinya berpendidikan. Proses transformasi terjadi pada masa Wali Songo (khususnya Sunan Ampel) yang mengadaptasi model pendidikan asrama yang sudah ada di era Hindu-Buddha (Mandala/Asrama) dan mengisinya dengan konten Islam. Berbeda dengan sekolah kolonial yang eksklusif, pesantren menjadi basis perlawanan rakyat dan pelestarian budaya lokal yang diislamkan.
Meskipun namanya berbeda-beda, ada satu kesamaan yang konsisten di semua lembaga tersebut, terutama pada tradisi Sanad (Mata Rantai Ilmu). Ilmu tidak hanya diambil dari teks, tapi melalui perjumpaan fisik, keteladanan akhlak, dan keberkahan dari seorang guru.
Perkembangan selanjutnya terutama di akhir abad 19 dan awal abad 20 terjadi “Modernisasi Pendidikan Islam” sering kali menjadi “medan pertempuran” antara mempertahankan tradisi (ashalah) dan mengadopsi kemajuan (ashriyah). Jika kita bicara tentang starting point, ada sebuah pola besar yang bisa kita amati. Rekonstruksi Paradigma, titik berangkatnya yang paling krusial terletak pada cara kita memandang siswa. Sekolah modern (model Prusia) sering menganggap siswa sebagai produk pabrik yang harus seragam. Sedangkan kita memandang siswa sebagai sosok yang membutuhkan bantuan untuk mengembangkan dirinya menuju kedewasaan jasmani dan rohani serta perilaku.
Untuk itu upaya modernisasi pendidikan ala pesantren menyeru kembali ke model Pesantren/Zawiyah yang menganggap sekolah sebagai “organisme” atau keluarga. Dari sudut konten dilakukan integrasi ilmu (Ilmu Agama + Ilmu Umum), Starting point dimulai dengan menghapus dikotomi (pemisahan) antara ilmu dunia dan akhirat, sehingga mempelajari ilmu pengetahuan menjadi ibadah, apa pun disiplin ilmunya, selama berisikan ajaran kemaslahatan bagi kehidupan manusia, dan dibingkai dengan niat yang baik, ibadah thalabul ilmi.
Perubahan Paradigma:
Perubahan paradigma ini menggeser konsep sekolah ala Barat –sebagai akibat langsung Revolusi Industri– yang berorientasi mencipta tenaga terampil pabrik atau tenaga juru tulis semata, menjadi manusia yang memiliki kualitas kemandirian berpikir, kemandirian belajar, memberi solusi bagi umat manusia, memiliki literasi global, serta kemampuan leadership dalam kerangka “Khairun-nāsi anfa‘uhum lin-nāsi.” Wujud dari manusia yang bertakwa, versi terbaik dari dirinya, yang tidak saja baik secara personal, tapi baik juga secara sosial; kesejahteraan yang memiliki tanggung jawab sosial dan tanggung jawab publik, tidak saja mendirikan shalat dan menunaikan zakat, tapi melakukan amar ma’ruf nahi munkar: Al-lażīna in makkannāhum fil-arḍi aqāmuṣ-ṣalāta wa ātawuz-zakāta wa amarū bil-ma‘rūfi wa nahaw ‘anil-munkari, wa lillāhi ‘āqibatul-umūri. (QS. Al-Hajj: 41). Orang-orang yang jika Kami teguhkan kedudukan mereka di muka bumi, mereka mendirikan shalat, menunaikan zakat, menyuruh berbuat ma’ruf dan mencegah dari yang munkar; dan kepada Allah-lah kembali segala urusan.
Kita Membutuhkan Pesantren:
Kita harus mempertahankan model pendidikan seperti ini mengingat kebutuhan manusia akan pendidikan emosional yang hanya bisa dikembangkan melalui pendidikan agama. Derita kekosongan spiritualitas dan kekakuan emosional manusia yang nyaris tidak tergarap pendidikan modern ala Barat sebagaimana diakui De Botton yang mempromosikan perlunya sekolah kehidupan yang berisikan pendidikan emosional, patut dihargai sebagai upaya memberi solusi bagi manusia modern terbaratkan yang tidak lagi percaya wahyu, tapi menurutnya mereka butuh tuntunan. Maka dia mencoba menyelundupkan nilai-nilai moral melalui jalur “budaya”. (De Botton, 2020).
Bagi kita di Indonesia, terutama di lingkungan pesantren, pemisahan ini tidak perlu karena agama sudah menjadi way of life. Karena emosionalitas kita sudah tercerahkan melalui ajaran agama. Kita sudah memiliki tata cara berkeluarga, mulai pernikahan sampai cara membina keluarga hingga mengisi diri untuk mencapai ketenteraman jiwa, as-sakînah, kita diajari mawadah dan rahmah, serta peran sosial dan interaksi sosial yang dipenuhi empati serta simpati.
Ini artinya kita harus bersyukur masih ada pesantren, Lembaga yang tidak saja memberikan pengetahuan secara kognitif, tapi lebih jauh dari itu memberikan literasi emosional bagi para santrinya. Suatu Kemahiran “mahal” bagi kehidupan manusia di era digital, agar tidak kering dan miskin nilai.

Comments are Closed