media berbagi dan silaturahmi

Familial Approach (2)

Dari Parental Involvement ke Family Engagement

Ada dua model pendekatan kekeluargaan yang dewasa ini dikembangkan di pendidikan sekolah (non pesantren) antara lain Pendekatan Kekeluargaan dengan konsep lama yaitu Keterlibatan Orang tua dalam pendidikan di sekolah Parental Involvement dan konsep baru dikembangkan dengan lebih menekankan pada kolaborasi dan kemitraan antara sekolah dan keluarga yang disebut Family Engagement.

Dalam dunia pendidikan diyakini bahwa kemanjuran lembaga pendidikan dalam mendorong keberhasilan siswa sangat erat kaitannya dengan kualitas hubungan yang terjalin dengan pemangku kepentingan utama siswa: keluarga dan masyarakat. Konsep pemanfaatan pengaruh eksternal ini, yang secara kolektif disebut Pendekatan Keluarga (Familial Approach) telah mengalami transformasi yang ketat dalam kebijakan pendidikan, bergeser dari kerangka kerja yang sempit dan berorientasi kepatuhan yang dikenal sebagai “keterlibatan orang tua” (parental involvement)   menjadi paradigma sistemik yang luas yang dikenal sebagai “Kemitraan Keluarga” “family engagement” atau “Family-School-Community Partnership” (FSCP); Kemitraan Keluarga-Sekolah-Masyarakat. Transformasi ini penting untuk membangun fondasi bagi capaian siswa yang adil dan berkelanjutan.

Model pendidikan tradisional yang berfokus pada Keterlibatan Orang Tua (“parental involvement)sering kali mengadopsi perspektif standar yang berpusat pada sekolah. Model ini sering kali dicirikan oleh struktur top-down, di mana sekolah mengidentifikasi tujuan, sumber daya, dan persyaratannya, kemudian mengomunikasikan kepada orang tua bagaimana mereka dapat membantu. Pendidik Ferlazzo menangkap perbedaan ini secara tepat dengan menggambarkan sekolah yang berupaya mewujudkan keterlibatan sebagai sekolah yang “sering kali langsung berbicara — mengidentifikasi proyek, kebutuhan, dan tujuan, lalu memberi tahu orang tua bagaimana mereka dapat berkontribusi” filosofis yang mendasarinya memandang populasi orang tua sebagai klien yang menerima layanan atau bantuan tambahan yang mendukung agenda sekolah yang telah ditetapkan (Ferlazzo, 2011).

Sebaliknya, model kontemporer, Kemitraan Keluarga (Family Engagement), didasarkan pada prinsip-prinsip timbal balik dan rasa hormat. Sekolah yang berkomitmen pada keterlibatan keluarga “cenderung mendengarkan — mendengarkan apa yang dipikirkan, diimpikan, dan dikhawatirkan orang tua.” Tujuanfundamentalnya bergeser dari mengelola klien menjadi membina mitra sejati dalam proses pendidikan. Etos kolaboratif ini secara formal dirangkum dalam definisi kolaborasi keluarga-sekolah, yang mencakup “proses perencanaan kooperatif yang menyatukan staf sekolah, orang tua, anak-anak, dan anggota masyarakat untuk memaksimalkan sumber daya bagi pencapaian dan perkembangan anak.” (Mapp & Kuttner, 2013)

Sangat penting bagi lembaga pendidikan untuk menyadari bahwa konsep ini bukan sekadar hubungan diadik (komunikasi dua orang) antara orang tua tunggal dan guru. Keterlibatan keluarga yang efektif jauh melampaui pandangan sempit ini, termasuk hubungan antara orang tua, anak-anak mereka, guru, administrator, dan bahkan “personel sekolah yang lebih terpencil”.hubungan ini saling terkait, menegaskan bahwa “tidak ada ikatan tunggal yang berdiri sendiri”. Selain itu, definisi kebijakan keterlibatan “keluarga” harus inklusif, mencakup pengasuh atau wali dalam situasi di mana siswa tidak memiliki hubungan aktif dengan orang tua kandung mereka (The Annie E. Casey Foudation, 2023).

Kalau diperhatikan kedua konsep di atas memahami konsep pendekatan kekeluargaan dalam pendidikan diartikan sebatas pada bagaimana interaksi antara keluarga (wali murid) dengan lembaga pendidikan (sekolah). Termasuk di dalamnya komunikasi antara keluarga dan sekolah. Model pertama Parental Involvement tujuannya tiada lain mengomunikasikan tujuan dan program sekolah, sehingga bersifat top-down kerangka kerjanya sekolah menyampaikan saja apa yang dituntut  oleh sekolah dari keluarga untuk dipahami dan kontribusi wali murid dalam konteks tersebut. Sedangkan model kedua Family Engagement berusaha memperluas ranah keterlibatan keluarga dengan seluruh staf yang ada di sekolah baik pendidik maupun tenaga kependidikan –masih dalam komunikasi—dan memberi ruang kepada keluarga untuk terlibat dalam menyelesaikan persoalan pendidikan secara menyeluruh baik individu yang ada di sekolah maupun individu keluarga,  dan bersifat terbuka, menyampaikan harapan dan kekhawatiran, dengan asas saling menghormati kedua belah pihak.

Pendek kata Involvement menjawab pertanyaan: “Apakah Anda ikut serta?” Involvement menjawab pertanyaan seputar “Doing To” (apa yang dilakukan ke/oleh orang tersebut agar mereka ada di dalam proses). Engagement menjawab pertanyaan seputar “Doing With” (apa yang dilakukan bersama-sama sebagai mitra/partner). sedangkan kata Engagement menjawab pertanyaan: “Seberapa peduli dan antusias Anda saat ikut serta?”

Maren Madalyn mengisahkan apa yang disampaikan Rebecca Honig (Kepala Bagian Konten dan Kurikulum ParentPowered)  dan Jessica Webster (Spesialis Keterlibatan Keluarga Senior di MAEC, Inc.) dalam diskusi panel yang menarik untuk mengupas mengapa pemahaman tentang asumsi paling umum tentang keterlibatan keluarga sebenarnya dapat membantu pendidik mengarahkan kemitraan ini menuju masa depan yang lebih menjanjikan.

Ada empat asumsi yang disarikan dari pengalaman mendalam mereka dalam pendidikan. Semuanya menginspirasi pendidik untuk memikirkan kembali apa yang mereka ketahui tentang keluarga dan mengeksplorasi cara-cara nyata untuk mengembangkan hubungan positif dengan mitra penting ini. Empat asumsi tersebut:

Pertama, Keluarga menghubungi Anda ketika mereka memiliki masalah atau pertanyaan. Pelajaran dari kenyataan ini Ketika kita (pendidik) tidak memiliki sistem untuk komunikasi dengan keluarga, kita secara default akan bereaksi terhadap suara yang paling keras. Ini berarti kita harus mencari cara bagaimana bisa tercipta komunikasi dua arah (two-way communication) antara keluarga dan sekolah.

Kedua, Keluarga memiliki pemahaman yang baik tentang cara kerja sekolah Anda. Ini berarti bahwa  semua keluarga memiliki titik awal yang berbeda dan unik dalam hal terlibat dengan sekolah mereka. Maka yang harus dilakukan adalah mengenali berbagai macam latar belakang keluarga, mencari titik temu yang bisa memberikan pemahaman sehingga keluarga tertentu bisa bekerja sama dengan sekolah  kita.

Ketiga, Keluarga berada di halaman yang sama dengan guru dan memahami tujuan guru untuk anak-anak mereka. Pelajarannya adalah kemitraan sejati bisa berantakan dan tak beraturan dan ruit! Maka dengan mengenali berbagai jenis keahlian mengarah pada hasil yang kuat.

            Keempat, Keluarga memiliki pandangan positif terhadap guru dan sekolah. Pelajarannya adalah Orang tua, pengasuh, dan wali semuanya datang ke meja dengan pengalaman dan asumsi mereka sendiri tentang sekolah yang memengaruhi bagaimana dan apakah mereka terlibat (Madalyn, n.d.) Secara universal, keluarga menginginkan yang terbaik untuk anak-anak mereka, begitu juga pendidik. Menjadikan keterlibatan keluarga sebagai bagian integral dari budaya sekolah membutuhkan bergerak melampaui asumsi menuju komunikasi dan kolaborasi secara terbuka. Bagaimanapun, keterlibatan keluarga adalah proses yang berkelanjutan, bukan kotak untuk dicentang. Dari berbagai asumsi ini, satu hal yang pasti — selalu ada ruang untuk tumbuh dan belajar dalam hal memelihara kemitraan dengan keluarga! Keterlibatan keluarga yang berkembang dalam pendidikan untuk masa depan. Bersambung

Comments are Closed