Pelajaran dari KH Hamam Dja’far
Sebagai bahan refleksi, kita simak kisah yang diceritakan sendiri oleh KH Hamam Ja’far dari Pondok Pabelan. Beliau bercerita, suatu saat beliau ditanya oleh Sudomo (Menko Polkam waktu itu) pertanyaannya sederhana: Apa perbedaan antara Gus Dur (Abdurrahman Wahid) dan Cak Nur (Nurcholis Majid)? Menjawab pertanyaan sesederhana itu –menurut pandangan kita—beliau tidak langsung menjawab, “sebentar saya izin dahulu mencari jawabannya,” Apa yang dilakukan Kiai Hamam? Beliau shalat dan memohon petunjuk Allah SWT untuk jawabannya. Setelah itu beliau kembali dan menjawab pertanyaan tadi, jawabannya: “Gus Dur itu perpustakaan, kalau Cak Nur itu sekolahan.” Pak Domo (panggilan akrab Sudomo) mengomentari: “Masak jawabannya begitu?” Kiai Hamam menjawab “Ya yang ditanyanya Kiai jawabannya ya begitu.”
Retorika dan diplomasi Kiai Hamam adalah buah dari berpikir tipe 2 menurut model Kahneman; konsentrasi, usaha mental yang berat dan logika, berhenti sejenak bahkan dengan shalat, tarik napas, lalu berpikir; kenapa pak Domo bertanya begitu? Ditemukanlah jawaban yang tidak menyudutkan atau mengangkat A atau B, tapi jawabannya tetap tak terbantahkan.

Comments are Closed