media berbagi dan silaturahmi

Komunikasi yang bersifat “Mendidik”

6. Komunikasi Empatik (Humanisasi Pendidikan):

Empatik secara bahasa the ability to understand and share the feelings of another artinya kemampuan memahami perasaan orang lain. Ketika dihubungkan dengan komunikasi, Rogers mendefinisikan Komunikasi Empatik sebagai kemampuan untuk masuk ke dalam dunia persepsi orang lain secara pribadi dan menjadi sangat peka terhadap perasaan mereka yang berubah-ubah dari waktu ke waktu. (Rogers, Freedom to Learn, 1969). Lain halnya dengan Tubbs dan Moss, yang memandangnya sebagai kemampuan untuk merasakan apa yang dirasakan orang lain, memahami perspektif mereka, dan mengomunikasikannya kembali sedemikian rupa sehingga orang tersebut merasa dimengerti (Tubbs & Moss, 2012). Dari sudut  kepemimpinan, Covey menyoroti aktivitas mendengar, jadi komunikasi empatik baginya, adalah mendengar dengan maksud untuk mengerti, bukan mendengar dengan maksud untuk menjawab (reaksi). Sedangkan Rosenberg melihat bahwa komunikasi empatik adalah menghubungkan diri dengan kebutuhan orang lain tanpa memberikan evaluasi, kritik, atau diagnosis yang menyakitkan (Rosenberg, 2015).

Jika kita gabungkan keempat definisi tersebut, maka komunikasi empatik adalah sebuah proses pertukaran makna yang tulus (Tubbs) dimulai dengan keberanian untuk memahami dunia batin orang lain sepenuhnya (Rogers), di mana kita sengaja menunda keinginan untuk menjawab demi benar-benar mengerti (Covey), lalu mengekspresikannya melalui diksi yang bebas dari penghakiman dan fokus pada kebutuhan jiwa (Rosenberg).

Artinya teori klasik Tubbs, dari segi stuktur, memberikan kerangka bahwa komunikasi harus sampai (shared meaning). Sehingga perasaan empati tersampaikan, jika tidak perasaan itu akan tidak berfungsi apa-apa.  Kemudian “Sikap” yang ditawarkan Rogers mengisikan “ruh” penerimaan. maka komunikasi menjadi hidup dan bermakna, bukan sekedar teknik manipulatif yang kering. Metode Covey  mengajarkan “Manajemen Karakter,”  Ia mengusulkan disiplin untuk “Mendengar Dulu”. Ini adalah jembatan praktis agar “sikap” Rogers bisa terwujud dalam struktur Tubbs. Selanjutnya Rosenberg melalui NVC menawarkan “alat bedah” berupa pilihan kata atau “Diksi” yang melibatkan observasi, perasaan, serta kebutuhan sebagai ujung tombak dari seluruh proses tadi.

Perspektif Theology of Dictionadalah tindakan untuk ikut “Merasakan Tanpa Menghakimi.” Ia merupakan seni mendengarkan dengan seluruh panca indera dan hati sebelum lisan memilih diksi. Ini adalah antitesis dari “Komunikasi Menghakimi” (yang hobinya melabeli orang nakal, bodoh dst).

Komunikasi empatik dimulai dengan I’tiraf pengakuan. Seorang guru melihat santri nakal bukan sebagai “musuh”, tapi sebagai jiwa yang sedang berproses. Maka  diksi empatik yang dipilih, bukan mengatakan“Kamu nakal!”, tapi menyatakan “Ustadz paham kamu sedang kesulitan, mari kita cari jalan keluarnya.” Di sini, diksi berfungsi sebagai jembatan hati, bukan dinding pemisah. Karena bentuk empati tertinggi adalah saat kita bicara kepada orang lain seolah-olah kita bicara kepada diri sendiri atau anak cucu kita. Inilah akar dari empati;  rasa khawatir yang tulus terhadap masa depan lawan bicara kita.

Jadi Komunikasi Empatik dalam Theology of Diction tidak berbentuk keramahan palsu –seperti para sales atau penunggu konter. Ia berupa kesadaran teologis bahwa di balik setiap sosok murid, ada jiwa yang butuh dipahami, bukan sekadar diklasifikasi. Bisa dikatakan bahwa empati merupakan kemampuan seorang pendidik untuk melepaskan jubah ke-maha-tahuan-nya, lalu duduk sejajar dengan santrinya untuk merasakan getaran kegelisahan mereka. Tanpa empati, diksi yang benar sekalipun hanya akan menjadi peluru yang melukai, bukan obat yang menyembuhkan.

Terkait dengan komunikasi empatik, Al-Qahthani menekankan bahwa Rasulullah SAW adalah teladan terbaik dalam menggunakan diksi yang menghargai fitrah anak. Mengutip hadis tentang cara Rasulullah menegur kesalahan “Rasulullah SAW tidak pernah mendahului sebuah teguran dengan kata-kata yang menjatuhkan harga diri, melainkan beliau menyentuh jiwanya terlebih dahulu agar pesan tersebut diterima dengan penuh cinta.” Al-Qahthani mengingatkan kita bahwa Komunikasi empatik adalah warisan utama kenabian. Rasulullah tidak menggunakan diksi yang menghakimi saat melihat kesalahan, melainkan diksi yang membimbing (Irsyad).

Kisah Al-Fadhl bin Abbas dan Wanita Khats’amiyah, saat Haji Wada’, Al-Fadhl bin Abbas membonceng di belakang unta Nabi SAW. Tak lama kemudian, datanglah seorang wanita cantik dari kabilah Khats’am untuk bertanya kepada Nabi tentang hukum haji ayahnya yang sudah tua. Al-Fadhl, yang saat itu masih muda dan tampan, terpikat melihat kecantikan wanita itu dan terus memandanginya. Begitu pula sang wanita, keduanya saling pandang.

Apa tindakan Nabi SAW untuk mendidik Al-Fadhl? Nabi tidak menghardik Al-Fadhl dengan kata-kata kasar seperti, “Heh, jaga matamu! Dasar tidak sopan!”. Beliau juga tidak memarahi wanita tersebut. Sebaliknya, Nabi SAW hanya memegang dagu Al-Fadhl, lalu memalingkan wajahnya ke arah lain agar tidak lagi memandang wanita itu. Nabi melakukannya sambil tetap menjawab pertanyaan sang wanita dengan tenang (Wahf al-Qaḥthānī , 2020).

Dari misah ini kita belajar berempati dengan “memahami gejolak Jiwa.” Dalam kisah ini, Nabi SAW menunjukkan empati yang luar biasa terhadap sifat kemanusiaan Al-Fadhl. Nabi memahami bahwa Al-Fadhl adalah seorang pemuda. Beliau tidak kaget atau marah melihat reaksi Al-Fadhl terhadap lawan jenis, karena Nabi memahami gejolak fitrah anak muda. Maka Pendidik yang empatik tidak akan “menghakimi” dorongan manusiawi santri –dalam hal ini Al-Fadgl– (seperti rasa bosan, rasa suka, atau rasa lelah), melainkan memahaminya terlebih dahulu sebelum meluruskannya. Jika Nabi menegur secara verbal: “Al-Fadhl, jangan melihat yang haram!” di depan wanita tersebut dan jamaah haji lainnya, Al-Fadhl akan merasa dipermalukan secara sosial.

Di sini empati berfungsi sebagai “Pelindung Harga Diri” Komunikasi empatik bertujuan agar pesan sampai tanpa merusak mental lawan bicara. Nabi berempati pada rasa malu Al-Fadhl. Beliau memutar wajah Al-Fadhl dengan tangannya agar orang lain tidak menyadari bahwa Al-Fadhl sedang ditegur. Ini adalah “Empati Tingkat Tinggi”—menegur tanpa ada orang lain yang tahu bahwa itu adalah teguran. Ini juga merupakan praktik mengubah “Hukuman” menjadi “Bimbingan. Pendidik yang tidak memiliki empati biasanya langsung memberikan vonis (hukuman). Pendidik yang empatik memberikan bimbingan fisik. Sebagaimana tindakan memalingkan dagu itu adalah komunikasi empatik yang berkata: “Aku tahu apa yang kamu rasakan, tapi ini tidak baik untukmu, mari aku bantu menjagamu.”

Dikaitkan dengan komunikasi empatik di pesantren, ketika melihat santri melamun atau melakukan kesalahan ringan karena godaan, kita tidak langsung “menampar” dengan diksi negatif, tapi “memutar” perhatian mereka kembali ke jalan yang benar dengan cara yang lembut.

 Jadi empati bukan berarti membiarkan kesalahan, tapi memahami mengapa kesalahan itu terjadi. Teladan Nabi SAW terhadap Al-Fadhl bin Abbas mengajarkan kita bahwa empati adalah kemampuan untuk merasakan rasa malu santri sebelum kita menegurnya. Dengan memalingkan wajah Al-Fadhl tanpa kata-kata, Nabi sedang mempraktikkan komunikasi empatik yang melindungi harga diri santri, seraya tetap menjaga kesucian adabnya.”

Contoh lain saat Rasulullah SAW memegang pundak Ibnu Abbas sambil berkata: ‘Yā ghulām, innī u’allimuka kalimāt…’ (Wahai anak muda, aku akan ajarkan kepadamu beberapa kalimat…). Perhatikan diksi ‘mengajarkan’, bukan ‘menyalahkan’. Di sinilah Theology of Diction bekerja: Sebelum materi pelajaran masuk ke otak, diksi kasih sayang harus lebih dulu masuk ke hati.

Seringkali guru pemula merasa kalau tidak membentak, mereka tidak berwibawa. Dengan kutipan Al-Qahthani ini, kita dapat memberikan justifikasi Syar’i bahwa: Lemah lembut dalam diksi bukan berarti lemah dalam wibawa. Artinya empati adalah metode yang lebih “Sunnah” daripada emosi.

Ikhtisar Komunikasi Empatik dan Diksi

TahapanAksi EmpatikDiksi yang Muncul
ListeningMenyimak tanpa menyela (Tabayyun).“Coba ceritakan lebih lanjut…”
ValidatingMengakui perasaan lawan bicara.“Iya, Bapak mengerti itu tidak mudah.”
SupportingMenawarkan solusi tanpa mendikte.“Bagaimana kalau kita coba cara ini?”

7. Komunikasi Simpatik:

      Setelah membahas Komunikasi Empati  yang mencoba “merasakan apa yang dirasakan lawan bicara” dalam arti ikut masuk ke dalam perasaan, maka Simpati lebih ke arah “perasaan peduli dan dukungan”  dan menunjukkan keberpihakan dari luar.

      Komunikasi Simpatik didefinisikan sebagai bentuk komunikasi yang didasari oleh rasa peduli, belas kasih, atau dukungan emosional terhadap orang lain tanpa harus ikut merasakan secara mendalam apa yang dirasakan orang tersebut (berbeda dengan empati). Jadi Komunikasi simpatik adalah kemampuan untuk mengekspresikan keberpihakan dan dukungan kepada orang lain. Tegasnya, empati adalah “I feel what you feel” (Saya merasakan apa yang kamu rasakan). Adapun simpati adalah “I feel for you” (Saya turut prihatin/peduli padamu).

      Dalam konteks pesantren, komunikasi simpatik berarti ustadz memosisikan diri sebagai pendukung (supporter). Ustadz tidak hanya memahami masalah santri, tetapi memberikan tindakan nyata, kata-kata penguat, atau doa yang menunjukkan bahwa “Saya ada di pihakmu.”

      Scheler menyatakan bahwa Simpati (Mitgefühl) adalah bentuk keterlibatan emosional di mana kita merespons perasaan orang lain dengan perasaan kita sendiri yang sesuai misalnya  santri sedih, kita menunjukkan rasa peduli/prihatin (Scheler, 1954).  Menurut Wispé, Simpati adalah kesadaran akan penderitaan orang lain yang disertai dengan keinginan agar orang tersebut merasa lebih baik (Wispé, 1991).

      Dalam Perspektif Imam Al-Ghazali konsep ini dekat dengan istilah Ar-Rahmah (kasih sayang) dan Asy-Syafaqah (rasa iba/peduli). Al-Ghazali menekankan bahwa seorang pendidik harus memiliki rasa peduli kepada muridnya seperti orang tua kepada anaknya. Inilah wujud komunikasi simpatik yang paling murni di pesantren.

      Jadi Komunikasi Simpatik ibarat  membangun dukungan emosional. Dalam konteks pesantren, bisa dikatakan sebagai kemampuan pendidik (ustadz/kyai) untuk mengekspresikan perhatian dan dukungan secara verbal maupun non-verbal terhadap kondisi santri. Pengungkapannya sangat erat dengan pemilihan dukungan kata positif (Positive Words) dan menghindari penggunaan kata negatif (Negative Words).

      Tabel berikut ini menyajikan cantoh bagaimana berkomunikasi secara simpatik dalam menghadapi berbagai situasi di pesantren:

Tabel 7.

Komunikasi Simpatik: Positive vs Negative Words

Situasi di PesantrenGunakan (Positive Words)Hindari (Negative Words)
Saat Santri Melanggar“Mari kita perbaiki”, “Kamu bisa lebih baik”, “Apa alasannya?”“Kamu nakal”, “Selalu saja bermasalah”, “Dasar malas!”
Saat Setoran Hafalan“Belum lancar”, “Ayo sedikit lagi”, “Coba diulang bagian ini.”“Gagal”, “Kamu tidak mampu”, “Otakmu bebal.”
Saat Santri Curhat“Saya paham”, “Itu berat, ya?”, “Terima kasih sudah jujur.”“Begitu saja manja”, “Jangan lebay”, “Salahmu sendiri.”
Memberi Instruksi“Tolong fokus”, “Mari kita rapihkan”, “Silakan kerjakan.”“Jangan berisik!”, “Jangan berantakan!”, “Dilarang ini-itu.”

      Positive Words dapat menciptakan Radiasi Ketenangan.  Santri yang sering mendengar kata-kata penguatan akan tumbuh menjadi pribadi yang percaya diri dan memiliki kesehatan mental yang baik. Sementara lawannya Negative Words menciptakan Radiasi Ketakutan. Kata-kata negatif yang berulang (labeling) justru akan menjadi self-fulfilling prophecy (kenyataan yang terjadi karena sering diucapkan). Maka seorang ustadz yang simpatik adalah ia yang mampu menyaring ‘sampah kata’ dari lisannya. Alih-alih mengatakan ‘Kamu payah karena tidak hafal’, ia akan memilih kata ‘Mungkin cara murajaahmu perlu kita evaluasi’. Perubahan satu kata ini mengubah mentalitas santri dari merasa dihukum menjadi merasa didukung.

      Sebelum kita membedah teori, mari kita lihat bagaimana Rasulullah SAW memenangkan hati manusia bukan dengan kekuasaan, melainkan dengan pancaran simpati yang tulus. Kisah Arab Badui di Masjid: Ketika seorang Badui kencing di pojok masjid, para sahabat marah. Namun Nabi SAW menahan mereka dengan berkata, “Biarkan dia, siramlah bekasnya dengan seember air.” Beliau kemudian mendekati orang itu dan menjelaskan dengan lembut kegunaan masjid.

      Di sini Nabi tidak menyerang pribadinya (Negative Words), melainkan memaklumi ketidaktahuannya dan memberikan solusi (Positive Words). Beliau menunjukkan keberpihakan pada proses belajar seseorang.

      Kisah lain adalah kisah Zahir bin Haram: Zahir adalah sahabat yang merasa wajahnya tidak tampan dan rendah diri. Suatu hari Nabi memeluknya dari belakang dengan bercanda. Saat Zahir tahu itu Nabi, beliau berkata, “Siapa yang mau membeli hamba sahaya ini?” Zahir menjawab sedih, “Engkau akan mendapati aku tidak laku, Ya Rasulullah.” Nabi langsung menimpali: “Tapi di sisi Allah, engkau sangat mahal.” Nabi menggunakan kata-kata penguat untuk mengangkat harga diri seseorang yang sedang jatuh.

      Berdasarkan keteladanan di atas, kita dapat mendefinisikan komunikasi simpatik dalam konteks pesantren sebagai: Bentuk interaksi yang berlandaskan rasa kasih sayang (rahmah) dan kepedulian, di mana seorang pendidik menunjukkan dukungan nyata serta keberpihakan emosional kepada santri, sehingga santri merasa diterima, dihargai, dan didampingi dalam proses belajarnya.

      Mengapa Simpati Penting di Pesantren? Pesantren adalah miniatur kehidupan. Santri yang jauh dari orang tua membutuhkan sosok “ayah” atau “ibu” ideologis. Di sinilah komunikasi simpatik berperan sebagai: Pertama, Penyembuh (Healer), mengobati rasa rindu rumah (homesick). Kedua sebagai Pembangun Motivasi, mengubah rasa lelah menghafal menjadi rasa bangga berjuang. Ketiga sebagai Perekat Ukhuwah, menciptakan hubungan ustadz-santri yang bukan sekadar atasan-bawahan, tapi pembimbing dan yang dibimbing.

      Di dunia pesantren, kata-kata seorang ustadz atau kyai bukan sekadar bunyi, melainkan benih. Jika yang ditanam adalah kata-kata positif, maka yang tumbuh adalah kepercayaan diri. Jika yang ditanam adalah kata-kata negatif, yang tumbuh adalah mentalitas pecundang. Rasulullah SAW bersabda: “Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berkata baik atau diam.” (HR. Bukhari & Muslim). Inilah prinsip utama komunikasi simpatik.

Kita perlu menyemai Positive Words (Kata-Kata Penguat), kita menggunakan kata-kata yang berfungsi sebagai ventilasi bagi sesak dada santri. Berikut adalah beberapa kata “ajaib” yang bisa menyalurkan simpati:

      Kata seperti “Mari” atau “Kita”: Mengganti kata “Kamu” menjadi “Kita” dalam sebuah masalah membuat santri merasa didampingi. Misalkan: “Mari kita cari cara agar hafalanmu lebih lancar,” bukan “Kamu harus cari cara!”

      Demikian juga kata “Paham.” Kata ini adalah kunci validasi. Contoh: “Ustadz paham rasanya lelah mengantri,” membuat santri merasa beban emosionalnya terbagi. Selanjutnya kata “Proses.” Menekankan pada usaha, bukan hasil akhir. Misalnya: “Ustadz melihat proses belajarmu sangat baik hari ini.”

      Sebaliknya kita juga membuang Negative Words (Kata-Kata Penghambat). Seringkali, niat simpatik kita gagal karena “terpeleset” menggunakan kata-kata yang menutup hati santri. Di pesantren, hindarilah kata-kata yang mengandung unsur Labeling (pemberian julukan buruk) dan Sarcasm (sindiran tajam). Ucapan seperti “Kenapa kamu selalu…”: Kata “Selalu” adalah vonis mati bagi perubahan. Seolah-olah tidak ada ruang bagi santri untuk menjadi benar. Menggunakan kata “Manja”: Menganggap remeh perasaan santri (misal saat sakit atau rindu rumah) dengan kata “manja” akan memutus ikatan emosional seketika. Demikian juga dengan kata “Percuma”: Ini adalah kata paling mematikan bagi semangat santri yang sedang berjuang.

      Kita bisa membuat semacam Laboratorium Komunikasi, misalnya  mengubah “Ancaman” menjadi “Simpati.” Mari kita lihat perubahan atmosfer komunikasi dalam dua skenario yang sering terjadi di asrama: Kasus santri yang melanggar jam tidur (Masih Mengobrol). Kalau kita menggunakan Respons Negatif (Gaya Komando & Menghakimi), maka kita akan mengatakan:  “Heh! Masih melek aja? Kurang kerjaan ya? Besok kalau subuhnya kesiangan, ustadz hukum lari satu lapangan! Dasar santri nggak tahu aturan!” Maka hasilnya Santri diam karena takut, tapi dalam hati mereka jengkel. Tidak ada kesadaran, yang ada hanya rasa ingin memberontak di lain waktu.

      Lain halnya kalau kita menggunakan Respons Simpatik (Gaya Rasulullah – Menghargai Kondisi). Kita katakan: “Wah, asyik sekali sepertinya obrolannya sampai belum tidur. Ustadz paham kalau malam begini waktu paling seru buat cerita. Tapi, kita punya agenda besar besok pagi, yaitu menghadap Allah di waktu Subuh. Kasihan badan kalian kalau kurang istirahat. Yuk, kita simpan ceritanya buat besok, sekarang kita istirahat ya?” Hasil yang didapat, Santri merasa dimanusiakan karena hobinya mengobrol tidak disalahkan sepenuhnya, namun mereka diingatkan akan konsekuensi dan tujuan yang lebih besar.

      Skenario lain, Santri yang Menangis karena Ingin Pulang (Homesick). Respons Negatif (Meremehkan/Invalidasi) akan berbunyi: “Sudah besar kok cengeng! Malu sama sarungnya. Baru juga seminggu di sini sudah minta pulang. Lihat tuh temanmu yang lain, mereka kuat kok!” Hasilnya, Santri akan merasa dirinya lemah, malu, dan semakin tertekan. Luka emosionalnya bertambah.

      Ketika Respons Simpatik (Validasi & Harapan) kita berikan, kita ungkapkan begini: “Sini duduk dekat ustadz. Menangis itu wajar, kok. Tandanya kamu sayang sama orang tua. Ustadz dulu waktu pertama mondok juga merasakan hal yang sama, rasanya berat sekali. Tapi percaya deh, ini adalah proses jihadmu. Setiap tetes air mata ini insyaAllah jadi pahala. Kita coba bertahan seminggu lagi ya? Nanti kita ngobrol lagi.” Hasilnya, Santri merasa didengar dan memiliki sekutu (ustadznya). Beban mentalnya berkurang karena ia merasa perasaannya “normal”.

      Rumus Simpati, untuk memudahkan secara teknis, kita bisa gunakan rumus 3S berikut: Sebut namanya dengan lembut; Setujui perasaannya (Validasi); dan terakhir Sertakan solusi bersama (Bukan perintah sepihak).

8. Komunikasi Asertif (Seni Menegur Tanpa Melukai)

      Setelah kita mampu memenangkan hati santri melalui pintu Simpati—dengan memvalidasi perjuangan mereka dan menyirami mereka dengan kata-kata penguat (Growth Mindset)—maka akan muncul satu pertanyaan: ‘Apakah menjadi simpatik berarti kita harus selalu memaklumi kesalahan santri?

      Tentu tidak. Di sinilah letak kematangan seorang pendidik. Simpati tanpa ketegasan akan melahirkan santri yang manja dan kehilangan arah. Sebaliknya, ketegasan tanpa simpati akan melahirkan perlawanan.

      Maka, setelah jembatan kepercayaan terbangun melalui komunikasi simpatik, kita perlu melintasi jembatan tersebut dengan Komunikasi Asertif. Asertif adalah cara kita menegakkan aturan tanpa meruntuhkan harga diri santri. Ini adalah seni menyampaikan ‘Haq’ (kebenaran) dengan ‘Luthf’ (kelembutan), agar kedisiplinan di pesantren tidak dirasakan sebagai hukuman, melainkan sebagai bentuk cinta yang paling jujur

      Jika Komunikasi Simpatik adalah tentang “merangkul”, maka Komunikasi Asertif adalah tentang “meluruskan dengan cara yang terhormat”.Asertif berarti Al-Haqqu Bil-Luthfi (Kebenaran dengan Kelembutan). Bila kita definisikan, komunikasi asertif adalah kemampuan untuk menyampaikan keinginan, teguran, atau batasan secara jujur dan tegas, tanpa melanggar hak atau harga diri seseorang (santri).Kaidah dasarnya Asertif: “Saya menghargaimu, tapi aturan ini harus tegak.”

      Dalam konteks pendidikan, perbaikan atau teguran itu suatu yang niscaya, hadis populer tentang “Barang siapa di antara kalian melihat kemungkaran, maka ubahlah (falyughayyirhu) dengan tangannya…”

      Najih Ibrahim, menulis buku yang unik, “Taghyir al-Munkar bi Ghayri Inkar: Ru’yah Waqi’iyyah fi Dhau’ al-Kitab wa al-Sunna,” saya katakan unik karena mampu membuka jalan teknik komunikasi asertif dari perspektif Islam. Asertif adalah “Action of Change,” Komunikasi asertif tujuannya bukan hanya agar kita dipahami, tapi agar ada perilaku yang berubah (Taghyir). Jika kita menegur tanpa niat mengubah (Taghyir), itu hanya sekadar meluapkan emosi. Dengan kalimat “Bi Ghayri Inkar” Ibrahim memberikan batasan Asertif. Sekaligus memberikan arah dan panduan teknis yang sangat asertif yaitu: Taghyir (Mengubah): Ini sisi tegasnya. Kita tidak boleh diam melihat kemungkaran/pelanggaran artinya tidak boleh pasif. Namun caranya harus Bi Ghayri Inkar (Tanpa Menimbulkan Kemungkaran Baru): Ini sisi “beradab”-nya. Kita tidak boleh menegur dengan cara yang melanggar hak seseorang (santri), seperti menghina fisik atau menjatuhkan mental artinya dengan tidak agresif. (Ibrahim, 2003).

      Seperti disampaikan di muka, dalam berkomunikasi asertif, tujuan utama kita adalah Taghyir, yaitu mengubah perilaku (santri) dari yang tidak baik menjadi baik, atau yang baik menjadi lebih baik. Namun, pesantren mengajarkan sebuah kaidah emas: Tagyirul Munkar bi Ghayri Inkar (Mengubah kemungkaran tanpa menciptakan kemungkaran baru). Inilah puncak dari komunikasi asertif. Seorang ustadz dituntut untuk: Tegas pada Kesalahan: Tidak membiarkan pelanggaran (tetap melakukan Taghyir). Lembut pada Pribadi: Tetap menjaga lisan agar tidak muncul ‘munkar’ baru berupa kata-kata kasar atau labeling negatif yang merusak citra diri santri yang dipandang sebagai  aset berharga bagi umat.

      Jika kita menggunakan kacamata Najih Ibrahim, maka ketegasan ustadz di bagian keamanan tidak lagi terlihat seperti “kejam”, tapi terlihat seperti “Operasi Medis” yang dilakukan  dokter bedah memotong bagian yang sakit (Taghyir) dengan prosedur yang sangat hati-hati agar pasien tidak mati kehabisan darah (Bi Ghayri Inkar). Ilustrasi ini menyangkut teknis memilih diksi yang memperbaiki: Kita ingin santri berubah, tapi jangan sampai cara kita menegur (seperti membentak atau mempermalukan) justru menjadi kemungkaran baru yang merusak mental santri.

      Kisah Nabi memalingkan wajah Al-Fadhl bin Abbas memperlihatkan “metode Nabi SAW” dalam Tagyirul Munkar (mengubah pandangan yang salah) bi Ghayri Inkar (tanpa harus memarahi atau mempermalukan di depan umum). Bisa jadi bahwa tindakan Nabi SAW tersebut merupakan tafsir (penjelasan) dari hadis Nahi Munkar dalam Hadis Arba’in No. 34: “Barangsiapa di antara kalian melihat kemungkaran, maka ubahlah (falyughayyirhu) dengan tangannya…”

      Ibnu Taimia menganjurkan salah satu cara amar ma’ruf nahi munkar dengan ungkapan: Hendaknya kamu menyruh kebaikan dengan cara yang baik, dan melarang kemunkaran tidak dengan cara munkar (Ibnu Taimiyyah, 1984).

ليكن أمرك بالمعروف، بالمعروف ونهيك عن المنكر غير المنكر

      Berkaitan dengan komunikasi asertif, dan sejalan dengan kaidah Ibnu Taimia,  mari kita review buku yang ditulis Syaikh Najih tersebut di atas, sebelum mengajukan beberapa kaidah, ia menjelaskan Hakikat Amar Ma’ruf Nahi Munkar sebagai landasan syar’i, pada bab satu dari bukunya. Poin pentingnya adalah niat. Beliau menekankan bahwa tujuan kita adalah Hidayatun Nas (memberi petunjuk manusia), bukan Al-Intishar lin-Nafsi (menang sendiri/meluapkan amarah). Konsep amar ma’rtuf nahi munkar ini bisa masuk dalam konsep komunikasi asertif yang sedang kita bahas.

      Selanjutnya ia menghimpun Syarat-Syarat Pelaku Perubahan (Mubasyir at-Taghyir) antara lain: Al-‘Ilmu, tahu mana yang benar-benar mungkar (bukan sekadar beda pendapat/khilafiyah); Ar-Rifqu, kelembutan sebagai kunci utama keberhasilan perubahan; Ash-Shabru, sabar menghadapi respons orang yang ditegur.

      Lalu ia sampaikan Kaidah-Kaidah penting dalam mengubah kemungkaran. Inilah “jantung” bukunya yang paling tebal. Poin-poin asertifnya ada di bab ini: seperti Kaidah Maslahat & Mafsadat: Jangan sampai menghilangkan satu kemungkaran malah melahirkan dua kemungkaran baru (seperti santri trauma atau kabur, menangkap tikus dengan membakar lumbung padi). Berikutnya At-Tadarruj (Bertahap): Perubahan tidak bisa instan tapi ada tahapannya. Kaidah lain adalah Sattru al-’Aurot: Kewajiban menutup aib orang yang ditegur.

      Pembahasan Maratib at-Taghyir (Tingkatan Perubahan) Beliau membedah hadis “Tangan, Lisan, Hati” secara sangat detail. Beliau menjelaskan kapan “Tangan” (Otoritas) digunakan dan kapan harus mencukupkan diri dengan “Lisan” (Nasihat). Otoritas (Tangan) harus dibarengi dengan Hikmah (Lisan) dan Kasih Sayang (Hati). Jika tangan bergerak tanpa hati, sama dengan tirani. Jika lisan bergerak tanpa hati, hanya omong kosong belaka.

      Pada bab berikutnya ini –menurut saya– sangat asertif bisa disebut metodologi komunikasi asertif, Al-Inkar bi Ghayri Inkar sebagai inti strategi. Di sinilah Najih memberikan contoh praktis bagaimana mengubah keadaan tanpa konfrontasi yang merusak. Misalnya, Mengubah dengan Keteladanan (Taghyir bil-Uswah). Mengubah dengan Sindiran Halus (At-Ta’ridh), bukan terang-terangan yang mempermalukan. Mengubah dengan Menciptakan Penggati Positif (Ijad al-Badil).

      Najih mengangkat Kisah Lelaki Beriman dari Keluarga Firaun (Mu’min Ali Fir’aun) sebagai prototipe komunikasi yang sangat cerdas, empatik, sekaligus asertif. Kisah ini diabadikan dalam QS. Ghafir ayat 28. “Apakah kamu akan membunuh seorang laki-laki karena dia menyatakan: ‘Tuhanku ialah Allah’, padahal dia telah datang kepadamu dengan membawa bukti-bukti yang nyata dari Tuhanmu?…” (QS. Ghafir: 28)

      Kita cermati bersama Strategi Komunikasi dalam ayat ini. Ketika Firaun sudah sampai pada puncak kemarahannya dan berniat membunuh Nabi Musa AS, lelaki ini muncul bukan dengan cara menantang Firaun secara frontal (yang pasti akan berujung pada kematiannya tanpa hasil), melainkan dengan retorika yang sangat asertif-logis.

      Pertama Penolakan (inkar) dilakukan dengan menggunakan Pertanyaan Retoris (Diksi Tanya) Lelaki ini tidak berkata, “Firaun, kamu salah! Jangan bunuh Musa!”. Tapi dia bertanya, “Apakah masuk akal membunuh orang hanya karena keyakinannya?”.

      Kemudian (metode  kedua) lelaki tersebut memosisikan diri sebagai “Pemberi Saran”, Bukan “Musuh” Lelaki ini tidak langsung membela Musa secara fanatik, tapi dia menggunakan logika keselamatan bagi Firaun sendiri. Dia berkata, “…Jika dia (Musa) seorang pendusta, dia sendiri yang akan menanggung dosanya; dan jika dia benar, niscaya sebagian bencana yang dijanjikannya akan menimpamu.”

      Metode pertama jika diplikasikan ke Santri: Daripada membentak “Kamu malas!”, ustadz bisa bertanya asertif: “Apakah menurutmu dengan begadang setiap malam, cita-citamu menjadi hafiz bisa tercapai?” (Santri dipaksa berpikir, bukan dipaksa bertahan/defensif). Artinya kita mengajak santri untuk terbiasa berpikir mencermati setiap kegiatan yang ada di pondok dengan segala konsekuensinya.

      Aplikasi metode kedua ke Santri, Ustadz memosisikan diri di pihak santri. Maka ia akan katakan “Ustadz menegur begini karena ustadz khawatir nanti di masa depan kamu yang rugi sendiri.”

      Setelah dia bertanya “Apakah kalian akan membunuh seseorang…”, dia melanjutkan dengan kalimat yang sangat strategis pada ayat berikutnya (29): “Wahai kaumku, milik kalianlah kerajaan pada hari ini dengan berkuasa di bumi, tetapi siapa yang akan menolong kita dari azab Allah jika azab itu datang menimpa kita?” (QS. Ghafir: 29).

      Ayat ini mengajarkan Teknik “Memberi Penghargaan” sebelum “Memberi Peringatan.” Lelaki ini mengakui kehebatan Firaun dan kaumnya dulu (“milik kalianlah kerajaan hari ini”) dengan diksi apresiasi.

      Lalu dilanjutkan ke Teknik “Inklusif” (Kata Ganti “Kita”, Bukan “Kamu”) Perhatikan, dia tidak berkata “Siapa yang menolong MU dari azab Allah?”, tapi dia berkata “KITA” (man yanshuruna) siapa yang menolong kita dari azab Allah? Letak empatinya: Dia memosisikan dirinya satu perahu dengan yang ditegur.

      Maka Sebelum memarahi (menegur) santri yang melanggar, ustadz mengakui kelebihannya dulu. “Ustadz tahu kamu itu anak yang pintar dan punya pengaruh di antara teman-temanmu (Nilainya 100), tapi…” Kemudian jangan katakan “Kamu akan celaka kalau begini terus!”, tapi katakan “Bagaimana nanti nasib kita di hadapan Allah kalau di pesantren ini kita tidak menjaga adab?”. Ini membuat santri merasa didampingi, bukan diadili. Mengubah penggunaan Kamu, menjadi Kita.

      Contoh Lain Model Ini (Kisah Nabi SAW dan Pemuda yang Minta Izin Zina) Syaikh Najih sering mengutip kisah ini sebagai puncak dari Inkar bi Ghayri Inkar.

      Kisahnya seorang pemuda datang ke masjid dan berkata terang-terangan, “Ya Rasulullah, izinkan saya berzina!” Para sahabat marah dan ingin memukulnya (Taghyir dengan Kekerasan/Inkar). Tapi respons Nabi SAW (Model Komunikasi Hati) malah nendekatkan Jarak, Nabi berkata, “mendekatlah padaku.” (Komunikasi Non-Verbal: Menciptakan rasa aman). Kemudian melakukan dialog empatik (Logika Rasa). Nabi tidak membacakan ayat azab neraka, tapi bertanya: “Apakah kamu suka jika hal itu terjadi pada ibumu?” “Apakah kamu suka jika itu terjadi pada anak perempuanmu? Saudara perempuanmu?” Si pemuda menjawab “Tidak, demi Allah” pada setiap pertanyaan. Logika pemuda itu terbuka, hatinya tersentuh. Setelah itu Nabi memberi Sentuhan Fisik & Doa: Nabi meletakkan tangannya di dada pemuda itu dan berdoa, “Ya Allah, ampunilah dosanya, sucikan hatinya, dan jagalah kemaluannya.”

      Tak kalah pentingnya buku tersebut ditutup dengan  mengingatkan akan  juga Hambatan dan Fitnah dalam Nahi Munkar, ia membahas tentang bahaya sikap Ghillu (dendam dan kebencian) dan bagaimana emosi sering kali merusak misi pendidikan yang menuntut kebersihan hati dan niat. Di sini kesempatan menggunakan diksi yang “membuka pintu kembali”, bukan diksi yang “menutup pintu taubat” bagi khalayak (santri). Apa yang ditulis Najih adalah upaya membangun  “Kebijaksanaan dalam Ketegasan”. Beliau ingin kita menjadi “Dokter Jiwa”, bukan “Hakim Emosional”. Baginya terkadang “diam” (tidak langsung menegur saat emosi) adalah bentuk taghyir yang paling efektif sampai suasana hati memungkinkan untuk bicara secara asertif.

      Bagaimana penerapan berbagai metode Komunikasi Asertif yang telah kita bahas dalam berkomunikasi dengan santri misalnya?  Tentu saja pertama kita harus mampu membedakan antara  Pasif, Agresif, dan Asertif. Mari kita lihat perbedaannya dalam kasus santri yang sering terlambat masuk kelas:

Pasif: Ustadz membiarkan santri terlambat tanpa teguran karena merasa kasihan atau malas berkonflik. Dampak: Wibawa aturan hilang, santri lain merasa tidak adil.

Agresif: Ustadz langsung membentak, “Dasar pemalas! Tidak punya niat mondok kamu ya?! Keluar sana!” Dampak bagi santri: Santri sakit hati (dendam), mentalnya jatuh, tapi tidak memperbaiki perilaku karena takut, bukan sadar.

Asertif: Ustadz memanggil santri, menatap matanya, dan berkata: “Ustadz kecewa kamu terlambat 15 menit hari ini. Kedisiplinanmu sangat penting agar pelajaran tidak terganggu. Besok, ustadz ingin kamu sudah ada di kelas sebelum bel berbunyi. Paham?” Dampak: Santri tahu dia salah, tahu harapan ustadznya, dan merasa tetap dihormati secara pribadi.

      Berikutnya kita juga bisa menggunakan Teknik “I-Message” (Menggunakan Kata “Saya/Ustadz”). Salah satu cara menyisipkan Positive Words dalam ketegasan adalah dengan mengubah kalimat “Kamu” (yang cenderung menuding) menjadi “Ustadz/Saya” (yang menyampaikan perasaan/harapan). Tabel berikut menyontohkan bagaimana kita memilih diksi memakai Teknik “I” atau saya, dan hindari “You” atau kamu.

Tabel 8

I-Message dan You=Message

Hindari (You-Message)Gunakan (I-Message/Asertif)
“Kamu bikin gaduh saja!”“Ustadz merasa terganggu kalau suaranya berisik saat penjelasan.”
“Kamu tidak menghormati ustadz!”“Ustadz merasa dihargai jika saat bicara kalian mendengarkan.”
“Pokoknya kamu harus berubah!”“Ustadz berharap kamu bisa lebih rajin seperti minggu lalu.”

      Model komunikasi seperti ini  penting bagi Pengurus Keamanan atau Ustadz Pengasuhan. Banyak pengurus pesantren yang burnout (stres berat) karena merasa harus menjadi “monster” agar ditakuti. Komunikasi asertif mengajarkan bahwa: Wibawa tidak dibangun dengan volume suara, tapi dengan konsistensi kata. Ketegasan tidak butuh kata-kata kotor; ia hanya butuh kepastian hukum/konsekuensi.

      Dari paparan di atas, penerapannya bisa secara singkat dengan kita sebut saja metode I- N-E. Sebagai berikut: I (Identifikasi) sejalan dengan pentingnya Ilmu agar tidak salah dalam menilai pelanggaran santri. N (Netralisasi) sejalan dengan membersihkan niat agar tidak Intishar lin-Nafsi (balas dendam pribadi). Lalu E (Eksekusi) sejalan dengan strategi At-Ta’ridh (sindiran/nasihat umum) agar tidak terjadi inkar yang lebih besar.

      Jika kita hubungkan dengan Growth Mindset, saat menegur secara asertif, kita tetap bisa memasukkan unsur pola pikir berkembang, misalnya dengan mengatakan: “Ustadz tahu kamu punya potensi jadi pemimpin di kamar ini, tapi perilaku melanggarmu saat ini sedang menghambat potensi itu. Ayo, ustadz bantu kamu untuk kembali ke jalur yang benar.” (bersambung)

Comments are Closed