Familial Approach (7) Komunikasi yang Bersifat “Mendidik.”
Komunikasi yang Bersifat “Mendidik.”
Penulis “Mindset: The New Psychology of Success” Carol Dweck, mengawali Chapter 7 Parents, Teachers, and Coaches: Where Do Minsdsets Come From? Ia menulis:
Tidak ada orang tua yang berpikir, “Saya bertanya-tanya apa yang dapat saya lakukan hari ini untuk melemahkan anak-anak saya, menumbangkan upaya mereka, mematikan mereka belajar, dan membatasi pencapaian mereka.” Tentu saja tidak. Mereka berpikir, “Saya akan melakukan apa saja, memberikan apa saja, untuk membuat anak-anak saya sukses.” Namun banyak hal yang mereka lakukan adalah bumerang. Penilaian mereka yang membantu, pelajaran mereka, teknik motivasi mereka sering mengirimkan pesan yang salah.
Faktanya setiap kata dan tindakan dapat mengirimkan pesan. Pesan tersebut memberi tahu anak-anak –atau siswa atau atlet—bagaimana cara berpikir tentang diri mereka. Pesan tersebut bisa berupa pesan dengan pola pikir tetap (a fixed-mindset) dengan mengatakan: Kamu memiliki sifat-sifat (traits) permanen dan aku sedang menilainya. Atau pesan dengan pola pikir berkembang (growth-mindset) dengan mengatakan: kamu adalah pribadi yang sedang berkembang dan aku berkomitmen untuk perkembanganmu (Dweck, 2006).
Dari sisi kita melihat bahwa situasi yang sama bisa diungkapkan dengan kata-kata yang berbeda, sehingga berbeda juga makna dan efeknya. Ada yang efeknya membangun semangat ada juga efek sebaliknya, membuat komunikan tidak bersemangat. Impression formation poses bagaimana suatu “kesan” terbentuk adalah proses psikologi di mana kita menarik kesimpulan dan membentuk pandangan menyeluruh tentang kepribadian orang lain. Ini terjadi sangat cepat, sering kali hanya dalam hitungan detik setelah bertemu seseorang.
1. Bermula dari Kesan:
Seorang alumni Al-Ikhlash (anggota TNI) bercerita tentang bagaimana dia mengajukan izin menikah kepada Komandannya, untuk mengajukan izin nikah itu harus dinyatakan lulus tes keagamaan sesuai dengan agama masing-masing. Ketika masuk ruang wawancara, pewawancara memintanya menuliskan lafadz basmalah (bismillahi rahmani rahim) dalam bahaasa Arab, maksudnya tulisan Arab, lalu dia menuliskannya, tentu saja dengan gaya kaligrafi yang baik serta benar menurut kaidah penulisan Arab (kaidah Imla), kemudian pewawancara itu tidak bertanya lagi, tapi langsung menyatakan lulus. Dan izin menikah pun dia dapatkan.
Mari kita analisis kisah tersebut dengan teori pembentukan kesan: pertama kita gunakan Efek Halo (Halo Effect) yang menilai seseorang karena ciri yang paling menonjol dari seseorang istilah ini pertama digunakan Edward L. Thorndike pada tahun 1920. Ini adalah elemen paling dominan dalam cerita tersebut. Ketika alumni tersebut menuliskan basmalah dengan kaligrafi yang indah dan benar sesuai kaidah Imla, muncul “efek halo” di mata pewawancara. Pewawancara melihat satu keunggulan spesifik (kemampuan menulis kaligrafi yang mumpuni). Yang berdampak pada Pewawancara untuk langsung mengasumsikan bahwa alumni tersebut memiliki pemahaman agama yang mendalam secara keseluruhan, tanpa perlu menguji aspek keagamaan lainnya (seperti hafalan atau pemahaman fikih). Satu sifat positif “menyilaukan” penilaian lainnya.
Jika dianalisis dengan teori Sifat Terpusat (Central Traits) – Teori Solomon Asch, dalam konteks tes keagamaan ini, “Kemampuan menulis Arab yang benar” menjadi Central Trait. Bagi pewawancara, kemampuan menulis kaligrafi yang rapi berfungsi sebagai indikator utama (magnet) kredibilitas keagamaan seseorang. Maka tidak heran jika informasi tunggal ini sudah cukup bagi otak pewawancara untuk membentuk konfigurasi kesan utuh bahwa kandidat ini “Lulus” dan “Kompeten”.
Lain halnya jika dilihat dari sudut Manajemen Kesan (Impression Management) – Teori Erving Goffman, menurut teorinya Alumni TNI tersebut (secara sadar atau tidak) melakukan pengelolaan kesan yang sangat efektif di “Panggung Depan” (Front Stage). Dia tidak hanya sekadar menulis, tapi memberikan “performa” dengan gaya kaligrafi yang baik. Dengan menunjukkan keahlian teknis yang tinggi di awal, dia berhasil mengendalikan persepsi pewawancara agar tidak memunculkan pertanyaan-pertanyaan sulit lainnya. Dia berhasil membangun identitas sebagai orang yang “paham agama” lewat satu tindakan simbolis.
Dan terakhir menurut versi Stereotyping & Skema Sosial; Pewawancara kemungkinan besar memiliki skema atau stereotip tertentu tentang “orang yang taat agama”. Dalam skema mental banyak orang, ada asosiasi kuat bahwa: “Orang yang tulisan Arabnya bagus = Orang yang sangat terdidik secara religius.” Begitu melihat tulisan tersebut, otak pewawancara langsung mencocokkannya dengan skema “orang taat” dan langsung menarik kesimpulan tanpa ragu.
Melalui Kasus ini penulis ingin menginformasikan teknik pembentukan kesan, Kisah tersebut menunjukkan bahwa kesan pertama yang sangat kuat (Primacy Effect) yang dibangun melalui satu keahlian spesifik (Central Trait) mampu menghentikan proses penilaian yang lebih panjang. Pewawancara merasa sudah mendapatkan informasi yang “cukup” untuk menyimpulkan kepribadian dan kemampuan religius sang alumni.
Proses Pembentukan Kesan (Step-by-Step) juga bisa terjadi, ini sebaiknya kita bertindak, jangan terburu-buru dalam menyimpulkan, supaya tidak salah paham dan membahayakan atau merugikan orang lain dan diri sendiri. Proses yang harus dilalui, Kita memperhatikan petunjuk visual (pakaian, ekspresi wajah, postur) untuk kita himpun dan seleksi, Kemudian kita interpretasikan untuk memberi makna pada petunjuk tersebut berdasarkan pengalaman masa lalu. Setelah itu diintegrasikan: Semua potongan informasi digabungkan menjadi satu profil mental yang utuh. Kesan yang terbentuk akan menentukan atribusi kita—yaitu bagaimana kita menjelaskan alasan di balik perilaku orang tersebut. Jika kesan awal sudah buruk, perilaku baik mereka di masa depan mungkin akan kita anggap sebagai “pencitraan” atau “kebetulan”.
Dari sini maka komunikasi akan bersifat mendidik apa bila originator atau komunikator mampu membangun kesan positif bagi komunikan, kesan yang terbangun ini akan menjadi modal pertama untuk mendapatkan kepercayaan (trust) dari komunikan yang akan membawa keberhasilan pada proses komunikasi berikutnya. Seorang guru yang tampil dengan pakaian rapi, datang tepat waktu, muka ceria, terlihat membawa berbagai media pembelajaran yang dibituhkan, berati dia telah memberikan kesempatan efek halo, sifat terpusat, stereotyping & skema sosial, impression management untuk menghasilkan kesan pertama tentang dirinya bagi siswa atau santrinya. Pesan non verbal ini akan ditangkap “positif” oleh penerima, sesuai dengan derajat pengetahuan yang dimiliki masing-masing penerima. “Wow!” begini ya guru di pesantren, “wuih!” Ustadz ini menghargai waktu, dan seterusnya. Dengan begini guru telah memenangkan perhatian para siswa, dan proses belajar selanjutnya akan lebih mudah dilaksanakan dan akan mengalir.
Intinya bagaimana kita memilih model pakaian dan bagaimana kita berpakaian sebenarnya kita sedang mengomunikasikan siapa diri kita, ingat tentang fashion as communication, meminjam teori Malcolm Barnard, pakaian ini bukan sekadar kain, melainkan sistem komunikasi yang menegaskan martabat(Barnard, 2001). Selanjutnya Wajah berseri, ketepatan waktu, kesiapan, dan semua tampilan tersebut merupakan upaya kita mengomunikasikan siapa diri kita, bagaimana kita, dan boleh jadi mengomunikasikan juga kemampuan kita. Namun pada saat yang sama sebenarnya kita juga sedang menyampaikan pesan lain yang bersifat edukatif. Seakan kita menatakan “ beginilah cara berpakaian yang benar, atau biasakan berpakaian rapi, biasakan tepat waktu dan tampilah
Maka ketika melihat guru-guru di pesantren modern yang tampil elegan dengan kemeja rapi dan dasi yang presisi sebenarnya tidak sedang sekadar bergaya formalitas Barat. Mereka sedang menerjemahkan estetika profetik ke dalam ruang kelas. Rasulullah SAW adalah maestro dalam manajemen kesan; beliau mengajarkan bahwa senyum adalah shadaqah komunikasi, dan wajah yang ceria adalah sedekah visual yang paling murah namun berdampak mewah. Sebagaimana juga Beliau menempatkan wewangian sebagai bagian dari martabat seorang mukmin. Dalam ruang kelas, aroma sang guru bukan sekadar urusan personal, melainkan instrumen komunikasi pendidikan.
Guru yang harum sedang melakukan “sedekah indrawi’; ia menciptakan atmosfer belajar yang nyaman dan memuliakan siapa pun yang berada di dekatnya. Dengan penampilan yang elegan, senyum yang tulus, dan aroma yang segar, sang pendidik telah menuntaskan tugas komunikasinya sebelum satu bab kitab pun dibacakan. Ia sedang menunjukkan bahwa ilmu tidak hanya untuk dipikirkan, tapi juga untuk dirasakan keindahannya melalui seluruh panca indra. Maka, ketika seorang pendidik masuk kelas dengan penampilan full dress yang elegan, wangi, berseri, berarti ia sedang mengomunikasikan sebuah penghormatan kepada ilmu dan kepada para pencarinya. Ia sedang berkata tanpa kata: “Kalian begitu berharga, maka aku menyambutmu dengan versi terbaik dari diriku.”
2. Manajemen Suara:
Komunikasi yang mendidik tidak butuh suara yang dibuat-buat (mutafaihiqun) hanya demi decak kagum audiens. Sebaliknya, manajemen suara seorang guru adalah tentang kejujuran intonasi dan ketepatan stressing. Ia tahu kapan suaranya harus merendah untuk menyentuh kalbu, dan kapan harus bertenaga (power) untuk membangunkan logika. Manajemen vokal di sini bukan sebuah sandiwara lidah, melainkan penyelarasan antara getaran suara dengan kedalaman makna pesan yang dibawa. Dengan pendek kata bisa disebut kemampuan presentasi lisan yang tinggi.
Kepiawaian komunikasi ini –menyangkut kedalaman metode penyampaian pesan atau al-bayan– dengan sangat apik disampaikan Rasulullah SAW dalam salah satu hadisnya: Abdullah ibn Umar ra, meriwayatkan ada dua orang datang dari arah timur Madinah, sementara suku Bani Tamim tinggal di arah Irak. Mereka adalah al-Zibriqan ibn Badr al-Tamimi dan Amr ibn al-Ahtam al-Tamimi, ra. Mereka tiba pada tahun kesembilan Hijrah dan memeluk Islam. Kemudian mereka menyampaikan dua khutbah yang fasih, dan orang-orang kagum dengan kefasihan mereka. Rasulullah SAW bersabda, إنَّ مِنَ البَيانِ لَسِحرًا “Sesungguhnya sebagian kefasihan berbicara itu seperti sihir.”[1]
Yang dimaksud dengan kefasihan berbicara adalah perpaduan antara kelancaran, kefasihan, dan kecerdasan hati serta lidah. Artinya: Sebagian kefasihan berbicara memang menyerupai sihir karena kemampuannya memikat hati, menguasai pikiran, dan memengaruhinya. Ia (kata-kata dan penjelasan itu) berakar di pikiran dan hati melalui kekuatan polesan retorik, seperti sihir, karena intensitas pengaruhnya pada pendengar dan penerimaan hati yang cepat. Ia membuat yang jauh tampak dekat, yang dekat tampak jauh, yang jelek tampak indah, dan yang tidak penting tampak penting, seolah-olah itu adalah sihir.
Dalam hadits ini, Nabi SAW menyamakan kefasihan berbicara dengan sihir. Karena penyihir memikat hati pendengar dengan sihir dan ilmu hitamnya, dan pembicara yang fasih dan pandai berbicara memikat hati orang-orang dengan keindahan kefasihan dan susunan kata-katanya; sehingga dirindukan oleh setiap insan (audiens) dan setiap mata yang memandang.
Contoh manajemen suara yang paling popular dari Rasulullah SAW sebagaimana dikisahkan oleh Jabir ibn Abdullah: Rasulullah SAW, ketika menyampaikan khutbah, matanya akan memerah, suaranya akan meninggi, dan kemarahannya akan meningkat, seolah-olah beliau sedang memperingatkan akan datangnya pasukan yang siap menyerang, seraya berkata, “Antara waktu Aku diutus dan waktu Kiamat seperti dua hal ini,” dan beliau menyatukan jari tengah dan jari telunjuknya, “Kiamat bisa saja datang kepada kalian di pagi hari atau sore hari!” Kemudian beliau menyampaikan khutbahnya, seraya berkata, “Sebagai kelanjutan: “Petunjuk yang benar adalah petunjuk Muhammad SAW, dan perkara yang paling buruk adalah perkara baru diciptakan, dan setiap bid’ah adalah kesesatan.”[2]
Nabi Muhammad SAW adalah seorang pembicara yang fasih. Beliau mengikuti metode yang tepat dalam pidatonya untuk memengaruhi orang-orang, menasihati, memberikan kabar gembira, dan memperingatkan mereka. Beliau menggunakan perangkat retorika persuasif seperti menaikkan dan menurunkan suara, menggunakan gerakan tangan dan tubuh, dan teknik lain yang seharusnya ditiru oleh para pendakwah.
Pelajaran dari hadits ini, menggambarkan apa yang biasa dilakukan Nabi Muhammad SAW. Bagaimana beliau mengatur suara saat berpidato (khutbah),. Ketika mengingatkan khalayak pendengarnya terkait tentang janji Allah dan ancaman-Nya, perintah dan larangan, “matanya menjadi merah,” artinya: kemerahannya semakin hebat melebihi biasanya, “dan suaranya meninggi, dan kemarahannya semakin hebat.” Ini berarti bahwa beliau berinteraksi dengan sasaran khutbah. Ilustrasi Abdullah ibn Umar dengan ungkapan “kemarahan yang hebat,” beliau maksudkan bahwa Nabi SAW menampilkan karakteristik seperti orang yang marah. Mungkin hal ini terjadi karena sebagian dari mereka tidak menaati perintah dan larangannya, dan sebagian lagi gagal memenuhinya.
Di sini kita melihat sinkronisasi Vokal, Visual, dan Emosional yang bisa disebut totalitas komunikasi; Visual digambarkan dengan mata yang memerah menunjukkan keseriusan dan kedalaman perasaan. Vokal berupa peningkatan Suara yang meninggi, bukan karena marah secara personal, melainkan untuk membangun sense of urgency atau suasana genting. Emosional, peningkatan amarah yang digambarkan seperti komandan pasukan yang sedang memperingatkan datangnya musuh. Ini adalah antitesis dari penyajian lisan yang datar. Rasulullah SAW mengajarkan bahwa volume suara harus selaras dengan bobot materi. Jika materinya tentang keselamatan umat dan kiamat, maka suaranya harus mencerminkan kegentingan tersebut.
3. Body Language dan Emblem:
Penggunaan Alat Peraga Tubuh (Body Language) yang dilakukan Nabi SAW –menyatukan jari tengah dan jari telunjuk untuk menjelaskan kedekatan waktu kiamat—dari sudut Teori Komunikasi, ini disebut sebagai Emblem atau isyarat visual yang memperkuat pesan verbal. Penyatuan jari ini memberikan penekanan (stressing) visual sehingga audiens tidak perlu berimajinasi terlalu jauh; mereka langsung “melihat” seberapa dekat ancaman tersebut.
Emblem (isyarat) ini juga dilakukan Nabi saat menjelaskan kedekatan antara dirinya dengan pemelihara anak yatim. Juga saat menjelaskan hati yang berkarat karena perbuatan dosa, dengan visualisasi telapak tangan yang terbuka menjadi tertutup oleh jari satu persatu hingga akhirnya mengepal (tertutup).
Nabi SAW bersabda: “Aku dan orang yang menanggung anak yatim (kedudukannya) di surga seperti ini,” kemudian beliau mengisyaratkan dengan jari telunjuk dan jari tengahnya, serta agak merenggangkan keduanya (HR. Bukhari).
Hadis ini memperlihatkan bagaimana Nabi SAW menggunakan Manajemen Visual atau Emblem Pendidikan. Di sini terjadi Visualisasi Abstrak ke Konkret. Konsep “dekat di surga” itu abstrak. Santri atau sahabat mungkin sulit membayangkan seberapa dekat “dekat” itu. Dengan menempelkan/merenggangkan sedikit dua jari, Nabi SAW mengubah konsep teologis yang jauh menjadi citra visual yang instan. Santri langsung “melihat” jarak itu. Ini adalah teknik High-Impact Visual yang sangat mendidik.
Ini juga membentuk Efek Memori (Imagery), isyarat tangan ini lebih mudah diingat daripada kalimat panjang. Sama seperti Kiai yang mungkin menggunakan isyarat tangan saat “marah manipulatif” (bukan marah sebenarnya, tapi yang didesain untuk melakukan perubahan) menunjuk satu titik. Isyarat fisik mengunci pesan di otak komunikan sehingga mereka tidak hanya ingat suaranya, tapi juga ingat “gambarnya.”
Hadis lain diriwayatkan Abu Hurairah, bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Seorang hamba apabila melakukan suatu kesalahan, maka di titikkan dalam hatinya sebuah noktah hitam, dan apabila dia meninggalkannya dan meminta ampun serta bertaubat, hatinya dibersihkan, dan apabila dia kembali berbuat dosa maka ditambahkan noktah hitam tersebut hingga menutup hatinya, dan itulah yang disebut dengan “Ar-raan” yang Allah sebutkan dalam firman-Nya: Sekali-kali tidak! Bahkan, apa yang selalu mereka kerjakan itu telah menutupi hati mereka.”[3]
Mujahid bin Jabir dengan apik menjelaskan makna hadis di atas, bagaimana hati terbuka dan tertutup karena dosa dengan mengatakan, “Hati itu seperti telapak tangan yang terbuka. Apabila seorang hamba melakukan satu dosa, maka satu jari akan menutup (telapak tangan tersebut). Apabila dia melakukan dosa yang lain, jari yang lain pun ikut menutup, hingga akhirnya semua jari menutup dan hati pun mengepal (tertutup rapat)..
Ini adalah contoh penggunaan Emblem Kinestetik ( bahasa tubuh yang melibatkan gerak, sentuhan, dan fisik ) yang berfungsi sebagai Simulasi Visual. Nabi SAW menjelaskan proses psikologis yang rumit (pengkaratan hati/ Raan) menjadi sesuatu yang sangat mudah dipahami hanya dengan gerakan tangan, seperti ijtihad yang dilakukan Mujahid. Simulasinya mengalir secara bertahap, dari proses ke kondisi (Step-by-Step Simulation). Ia tidak langsung menunjukkan kepalan tangan, tapi menutup jari satu per satu. Dalam ilmu komunikasi, ini adalah teknik Sequential Branding. Penanaman citra secara berurutan. Mujahid ingin menunjukkan bahwa dosa itu akumulatif. Satu dosa = satu jari tertutup, hal ini untuk memvisualkan narasi Nabi SAW yang mengunakan kata titik noda dalam hati yang bisa bertambah atau terhapus pada hadis Abu Hurairah di atas.
Efeknya dalam komunikasi,Santri yang melihat gerakan ini akan merasa “ngeri” secara visual. Mereka bisa menghitung secara mental: “Dosa saya sudah berapa jari yang tertutup?” Ini jauh lebih efektif daripada sekadar bilang “Jangan berdosa.” Ini juga membuktikan “The Power of Visual Aid” tanpa Alat, baik Nabi SAW maupun Mujahid membuktikan bahwa pendidik tidak butuh proyektor atau slide presentasi yang canggih untuk menjelaskan konsep rumit. Tangan pendidik adalah alat peraga paling canggih jika tahu cara menggerakkannya.
Ceritanya cucu saya belum bisa baca, tapi dia bisa mengenal merk mobil jika di jalan, kira-kira kalau ditanya kenapa apa jawab cucun saya? Ketika ditanya “Kok kamu tahu itu mobil Toyota/Mercedes/Honda padahal kamu belum bisa baca?” Jawab cucu saya, “Aku nggak baca tulisannya, Kek… aku lihat gambarnya (Logonya)!” Ini artinya dia sebenarnya sedang mempraktikkan Teori Semiotika secara murni. Dia membuktikan bahwa: Visual lebih cepat ditangkap daripada Verbal. Logo/Emblem adalah “Rumah Makna”. Sebelum mengenal huruf (alfabet), manusia mengenal bentuk (ikon).
Jawaban “Dari Logonya” itu sebenarnya adalah tamparan halus bagi kita orang dewasa, yang sering terlalu sibuk dengan “teks” sampai lupa pada kekuatan “simbol”. Mengapa Logo Lebih Kuat? Karena logo bersifat Instan dan Emosional. Cucu Kiai tidak perlu mengeja merek-merek mbil untuk tahu itu mobil apa. Dia cukup melihat simbolnya dan klik!, maknanya langsung sampai ke otak. Begitu juga dengan Emblem Profetik (seperti jari anak yatim atau tangan mengepal) yang kita bahas tadi. Itu adalah “Logo Langit” yang langsung terekam di storage drive batin santri tanpa perlu penjelasan panjang lebar. (Bersambung)
[1] Perawi: Abdullah ibn Umar, Sumber: Sahih al-Bukhari Hadis Nomor: 5146 Klasifikasi Hadits: Shahih.
[2] أنَّ رسولُ اللَّهِ صلَّى اللَّه علَيهِ وسلَّمَ كانَ إذا خطبَ احمرَّتْ عَيناهُ ، وعلَا صَوتُهُ ، واشتدَّ غضبُهُ حتَّى كأنَّهُ مُنذرُ جَيشٍ يقولُ : صبَّحَتْكُم مسَّتْكُم ثمَّ يقولُ : بُعِثتُ أَنا والسَّاعةُ كَهاتَينِ . وقرَنَ بينَ إصبعَيهِ الوسطَى والَّتي تليها صبَّحَتْكُم السَّاعةُ أو مسَّتْكُم ثمَّ يخطبُ أمَّا بعدُ الهَديُ هَديُ محمَّدٍ علَيهِ السَّلامُ ، وشرُّ الأمورِ مُحدثاتُها ، وَكُلُّ بدعةٍ ضلالةٌ
[3] (Al-Quran Surat Al-Muthaffifin:14). (Hadits Riwayat At-Tirmidzi nomor: 3257, Ibnu Majah dan Ahmad, dengan sanad shahih).

Comments are Closed