Puasa Membangun Kekuatan Komunikasi
Oleh: M. Tata Taufik
Judul di atas pesanan yang diterima penulis untuk acara kuliah Ramadan menjelang buka puasa pada tanggal 15 Maret 2026 yang lalu. Topik yang tak pernah terpikirkan sebelumnya, dan nyaris luput dari perhatian penulis, mungkin juga dari perhatian banyak orang. Seraya berusaha mencari-cari korelasi antara puasa dan komunikasi, tersangkut pada kejadian tahun 1990an, suatu kejadian yang penulis yakini sebagai dampak puasa terhadap komunikasi publik.
Ceritanya, di sekitar tahun 1990an saya menghadiri pengajian dalam rangka hajatan (kenduri) di kampung saya, ketika itu bulan Syawal, penceramah menyampaikan materinya dengan penuh isi dan kesejukan, apa yang disajikan betul-betul meresap dan bisa dicerna tanpa mengusik suasana emosional yang bisa melahirkan pro ataupun kontra, pendek kata ceramahnya benar-benar berisi dan menenangkan. Padahal penceramah yang sama beberapa bulan sebelumnya di suatu acara, beliau menyampaikan ceramahnya –menurut saya—benar-benar mengusik ketenangan masyarakat kampung, memihak pada pandangan tertentu dan tentu saja menyudutkan kelompok lainnya. Beberapa pernyataan dalam ceramahnya bukan saja berisi cacian, tapi memberi penilaian –yang menurut hemat saya—tanpa dasar pengetahuan yang tepat.
Temuan ini membuat saya berpikir untuk menduga-duga kira-kira faktor apa yang membuat ceramah di bulan Syawal begitu menyejukkan dengan makna yang sangat berarti, dan membandingkannya dengan isi dan gaya ceramah sebelumnya yang kurang bermakna? Jawaban yang ditemukan saat itu secara spontan tertuju pada konteks waktu, kondisi emosional dan kecerdasan penceramah di bulan Syawal telah mencapai pada titik kecerdasan tertentu. Sebut saja suasana fitri yang merupakan buah dari Puasa Ramadan. Kebersihan hati yang telah terlatih untuk melepaskan diri dari kungkungan syahwat, dalam arti mampu menguasai berbagai gejolak negatif, kebersihan niat dalam menyampaikan informasi menjadi faktor utama. Inilah kesimpulan yang saya coba tarik dari pengalaman tersebut, dan sampai saat ini masih saya percayai.
Korelasi Puasa dan Komunikasi:
Jika kita cermati dari sudut komunikasi, kita menemukan bahwa puasa yang secara bahasa berarti menahan diri dari hal-hal yang diharamkan bagi yang berpuasa seperti hubungan suami istri, makan dan minum dari terbit fajar hingga terbenam matahari. Kekuatannya terletak pada kemampuan menahan diri, dengan motivasi keimanan dan ketaatan kepada perintah agama, ternyata dalam arahan-arahan berikutnya seperti yang disampaikan Rasulullah SAW mengarah kepada komunikasi. Hadis riwayat Bukhari misalnya menyatakan: “Siapa yang belum meninggalkan kata-kata kotor (tidak pantas) dan mengamalkannya, maka Allah tidak membutuhkan baginya untuk meninggalkan makan dan minum.”
Hadis lain mengarahkan bagaimana seharusnya orang yang berpuasa, ini juga masih terfokus pada komunikasi, seperti riwayat Bukhari dan Muslim: Dari Abu Hurairah ra. Bahwa Rasulullah SAW bersabda: “Jika salah seorang dari kalian sedang berpuasa, maka janganlah berkata-kata kotor (bisa juga berarti tidak menggauli istrinya), dan jangan pula bertindak bodoh (berkata yang tak berguna) Jika ada seseorang yang mencelanya atau mengganggunya, hendaklah mengucapkan: sesungguhnya aku sedang berpuasa.”
Dua hadis ini menghubungkan puasa dengan bagaimana seharusnya kita bertindak, apa yang harus kita jaga, dan penekanannya kepada menjaga mulut kita untuk tidak mengeluarkan kata-kata yang tak berguna, apalagi kata-kata yang kotor; gibah (gosip), mengadudomba, mengejek dan mencaci sesama. Selanjutnya memberikan juga solusi bagaimana jika kita mendapatkan perlakuan yang bisa memicu perselisihan, atau mendapatkan cemoohan orang? Jurus pamungkas yang diajarkan Rasulullah SAW, “katakan aku sedang berpuasa!” Inilah sikap untuk memotong perilaku diri kita sendiri juga lawan bicara kita, dengan mengucapkan aku sedang berpuasa, diharapkan perilaku yang tidak pantas itu bisa terhenti, menyadari sedang berpuasa itu bagaikan fitur Automatic Emergency Braking (AEB) pada kendaraan modern untuk menghindari tabrakan.
Orang yang berpuasa berarti sedang menjaga dirinya dari hal-hal yang diharamkan bahkan sesuatu yang halal saat tidak berpuasa pun bisa ditinggalkan, apa lagi suatu yang memang telah ditentukan sebagai suatu yang jelas-jelas harus ditinggalkan yang berlaku secara umum baik sedang berpuasa atau tidak berpuasa. Targetnya adalah meninggalkan tindakan maksiat dan berjuang untuk memelihara ketaatan dan memelihara seluruh anggota badan dari tindakan yang tidak pantas dilakukan. Meninggalkan makan dan minum yang merupakan kebutuhan dasar manusia, dapat dipandang sebagai salah satu cara untuk membuktikan bahwa kita memiliki kemampuan menahannya –karena ketaatan kepada Allah. Artinya sebenarnya kita akan mampu juga menahan diri dari berbagai larangan lain, yang jelas tidak patut bagi kehidupan seorang muslim, dan dapat merusak tatanan sosial kemasyarakatan.
Akuntabilitas Komunikasi:
Jika puasa memiliki keterkaitan yang kuat dengan pendidikan komunikasi dalam arti pengembangan kemahiran berkomunikasi kita, baik verbal maupun non verbal, maka melalui puasa ini kita belajar bagaimana menata kemampuan tersebut untuk bisa dipedomani dalam kehidupan keseharian kita. Kita belajar menghitung untung rugi dari perkataan kita –baik untuk diri kita maupun lawan bicara kita, kapan kita harus terlibat berbicara, dan kapan kita harus diam.
Proses menimbang rasa dalam bertutur kata ini di dukung oleh Rasulullah SAW dalam sabdanya: ”Allah menyayangi orang yang berbicara baik, maka dia beruntung, atau diam terhadap suatu yang buruk, hingga ia selamat.” (Hadis Hasan). Terlihat di sini bahwa Rasulullah SAW mendoakan agar orang yang berbicara baik yang menguntungkan (bermanfaat untuk dirinya dan orang lain) serta meninggalkan kata-kata yang buruk, sehingga menyelamatkan dirinya dan menebar keselamatan juga bagi orang lain, agar dia mendapat rahmat Allah. Secara singkat dapat dikatakan bahwa semua perkataan harus akuntabel, dapat dipertanggungjawabkan.
Melalui puasa ini kita belajar bahwa kata-kata yang baik dan memaafkan lebih baik dari sedekah yang diiringi kata-kata yang menyakitkan QS. 2: 263. Bahwa segala kebaikan itu adalah sedekah, walau hanya berupa menemui seseorang dengan muka berseri (Hadis). Belajar bahwa kita tidak boleh angkuh dan congkak, kita bisa mengatur suara dan bertindak dengan wajar QS 31: 18-19. Bahwa perkataan yang benar (objektif) dapat memperbaiki perilaku QS.33: 70-71. Kita juga belajar bahayanya buruk sangka, mencari kesalahan orang lain, ghibah (gosip) QS.49 :12. Serta keterangan lain yang berkaitan bagaimana kita berkomunikasi baik verbal maupun non verbal, serta pemilihan diksi.
Harmoni bulan Syawal:
Ramadan segera berakhir, semoga bisa memetik buah yang menyuguhkan harmoni melalui komunikasi kita. Kita bisa lebih perhatian (Attension), mendengarkan (Listening), menunjukkan ketertarikan (Interest), menampilkan kebaikan (Kindness), kejujuran (Honesty), lebih logis (Logic), lebih mampu bersikap tegas tanpa menyakiti (Assertiveness), bisa bersimpati (Sympathy) untuk membangun harmoni (Harmony). Selamat kembali kepada fitrah, dan merayakan keberhasilan puasa kita!

Comments are Closed