media berbagi dan silaturahmi

Familial Approach (1)

Familial Approach


Familial Approach

Memperkenalkan Pendekatan Pendidikan Pesantren

M. Tata Taufik

Definisi dan Landasan Teoretis

            Secara etimologis, “pendekatan” merujuk pada proses, cara, atau perbuatan mendekati, baik dalam konteks rekonsiliasi, persahabatan, maupun metodologi penelitian untuk memahami subjek yang diteliti. Secara linguistik, kata ini berasal dari kata dasar “dekat” yang mendapatkan konfiks “pe-an”, sehingga dapat dimaknai sebagai upaya sistematis untuk memahami suatu objek atau jiwa seseorang, sebagaimana dijelaskan dalam tinjauan psikologis. Dalam bahasa Inggris, istilah approach didefinisikan sebagai cara menangani sesuatu (to deal with something) atau metode tertentu dalam melakukan suatu aktivitas.

Secara filosofis, pendekatan merupakan asumsi dasar atau kerangka berpikir mengenai bagaimana suatu proses terjadi atau bagaimana suatu objek kajian harus dipandang. Ketika dipadukan dengan konsep “kekeluargaan”—yang berarti segala hal yang bersifat atau berciri keluarga—maka muncul istilah Familial Approach atau Pendekatan Keluarga yang berakar pada Family System Theory. Dengan demikian, pendekatan kekeluargaan dalam pendidikan pesantren dapat didefinisikan sebagai strategi dan metodologi pendidikan yang mengadopsi prinsip-prinsip sistem keluarga dalam seluruh rangkaian proses pembelajarannya.

Tinjauan Historis dan Sosiologis

Eksistensi pesantren sebagai entitas keluarga didasarkan pada fakta sosiologis di mana santri menetap di lingkungan pesantren dalam kurun waktu yang lama, sehingga interaksi yang terbangun menyerupai dinamika keluarga inti. Dalam konteks ini, pesantren tidak sekadar berfungsi sebagai institusi transfer ilmu, tetapi juga berperan sebagai pengasuh dan pembimbing spiritual bagi santrinya.

Model pendidikan ini secara historis memiliki kemiripan dengan tradisi pendidikan bangsawan di masa lampau. Pada era kerajaan, keluarga raja sering kali mengirimkan putra-putri mereka kepada guru atau resi di padepokan-padepokan terpencil untuk menimba ilmu dan melatih kemandirian. Meskipun terdapat tradisi memanggil guru khusus (Ulama, Abdi Dalem, atau Instruktur Militer) ke istana, pengasingan pangeran ke luar lingkungan kerajaan—yang sering disebut sebagai tradisi “dibuang”—menjadi metode penting untuk mendekatkan calon pemimpin dengan rakyatnya sekaligus menempa karakter mereka di bawah bimbingan langsung seorang guru di padepokan.

Kekeluargaan secara bahasa berarti perihal (yang bersifat, berciri) keluarga. Contoh menyelesaikan masalah secara kekeluargaan (KBBI, 2025). Familial Approach atau Pendekatan Keluarga adalah sudut pandang yang didasarkan pada Teori Sistem Keluarga (Family System Theory).

Jadi pendekatan kekeluargaan dapat didefinisikan sebagai cara menangani suatu persoalan atau masalah dengan tindakan bercirikan atau bersifat keluarga didasarkan pada teori sistem keluarga, yang mencerminkan filosofi terhadap suatu proses atau masalah. Maka yang dimaksud dengan pendekatan kekeluargaan pendidikan pesantren yaitu filosofi, cara, serta teknis dan strategi menerapkan seluruh rangkaian pendidikan di pesantren bersifat dan bercirikan keluarga sejalan dengan teori sistem keluarga.

Sebagaimana telah diuraikan sebelumnya, pesantren dipandang sebagai sebuah entitas keluarga. Hal ini didasarkan pada intensitas interaksi santri yang menetap di lingkungan pesantren selama bertahun-tahun, memiliki dinamika interaksi yang serupa dengan tinggal bersama keluarga inti. Sebagai lembaga pendidikan pesantren bisa dianggap sebagai lembaga pendidikan yang tidak saja memberikan pelajaran, tapi juga bertindak sebagai pengasuh bagi para santri. Sebenarnya model ini bisa ditelusuri dengan melihat sejarah raja-raja atau kekaisaran dalam mendidik anggota keluarganya. Mereka biasa mengirim anak-anak raja dan keluarga kepada Guru di gunung-gunung untuk belajar berbagai hal dan mempersiapkan kehidupan yang lebih baik ke depan.

Pendidikan di kerajaan biasanya dengan memanggil guru khusus ke istana, bisa dari abdi dalem, Ulama dan Resi serta Instruktur Militer. Meski sering dididik di dalam istana, ada tradisi di mana pangeran sengaja “dibuang” atau dikirim ke luar agar mengenal rakyat dan melatih kemandirian. Di era Hindu-Buddha, pangeran dikirim ke padepokan yang dipimpin oleh seorang Resi atau Begawan. Di sana mereka belajar filsafat, ketatanegaraan, dan ilmu kanuragan (beladiri sakti). Setelah masuknya Islam, banyak raja di Jawa (seperti trah Mataram) yang mengirim putra-putranya ke pesantren besar untuk belajar agama sekaligus memperkuat dukungan politik dengan para ulama. Anak raja biasanya dilibatkan dalam urusan pemerintahan sejak usia remaja. Ini adalah bentuk “belajar sambil bekerja”. Mereka sering diminta duduk di samping raja saat menerima tamu agung atau saat sidang pengadilan. Pangeran sering diberi wilayah kecil untuk dikelola (biasanya disebut Pangeran Adipati atau Magang) sebagai ujian sebelum memegang kekuasaan penuh.

Pada masa Kekhalifahan Islam (Umayyah, Abbasiyah, Utsmaniyah). Di dunia Islam, pendidikan calon khalifah difokuskan pada penguasaan agama yang mendalam dan kemampuan retorika (berbicara di depan publik). Lembaga Khusus (Kuttab al-Khass). Jika anak rakyat belajar di Kuttab (sekolah dasar) umum, anak-anak khalifah memiliki Kuttab khusus di dalam istana. Sosok Mu’addib: Ini adalah guru pribadi yang tidak hanya mengajarkan ilmu, tapi juga adab dan akhlak. Khalifah Harun al-Rasyid pernah berpesan pada Mu’addib putranya: “Janganlah sehari pun berlalu tanpa memberikan manfaat bagi mereka.”

Adapun Kurikulum yang diajarkan antara lain  pelajaran  Agama dan Bahasa: Menghafal Al-Qur’an, Hadits, hukum (Fikih), dan penguasaan bahasa Arab tingkat tinggi (Sastra dan Puisi). Selain itu juga pelajaran Sejarah,  para calon pemimpin wajib belajar sejarah raja-raja terdahulu untuk mengambil pelajaran politik.

Di Turki Utsmani, ada sekolah Enderun di dalam istana Topkapi. Calon pemimpin dididik sangat keras dalam urusan administrasi negara dan taktik militer. Kemudian Tradisi “Sancak” semacam praktek kerja lapangan, Pangeran Utsmaniyah yang sudah remaja akan dikirim ke provinsi jauh (Sancak) untuk menjadi gubernur kecil agar belajar memimpin rakyat secara nyata sebelum naik takhta.

Ibnu Khaldun menggambarkan proses pendidikan keluarga khalifah sebagai berikut: “Salah satu metode pendidikan terbaik yang dikemukakan oleh ar-Rashîd kepada Khalaf bin Aḥmar, guru putranya al-Amîn. Khalaf bin Aḥmar berkata: ‘Ar-Rashîd menyuruhku untuk datang dan mendidik putranya al-Amîn, dan dia berkata kepadaku: “Wahai Aḥmar, Amirul Mukminin mempercayakan putranya kepadamu, kehidupan jiwanya dan buahnya hatinya. Pegang erat-erat dia dan buat dia mematuhimu. Dan lakukanlah sesuai dengan posisi yang diberikan Amirul Mukminin kepadamu. Ajari dia membaca Al-Qur’an. Ajari dia tentang sejarah. Ajari juga  puisi dan syair,  ajari Budaya dan tradisi Nabi. Beri dia tata cara berbicara; bagaimana memulai pembicaraan, menyesuaikan  pembicaraan dengan tempat dan watu (kondisi). Larang dia untuk tertawa, kecuali pada saat-saat yang pantas. Biasakan dia untuk menghormati kerabatnya ketika mereka datang kepadanya, dan memberikan tempat terhormat kepada para pemimpin militer ketika mereka datang ke pertemuannya. Jangan biarkan satu jam pun berlalu di mana Anda tidak memanfaatkan kesempatan untuk mengajarinya sesuatu yang berguna. Namun lakukanlah tanpa membuatnya kesal, yang akan mematikan pikirannya. Jangan selalu bersikap terlalu toleran terhadapnya, atau dia akan menyukai waktu luang dan menjadi terbiasa.” (Khaldūn, 1995).

Dengan demikian dari –sudut ini– pendidikan pesantren bisa dinilai sebagai pendidikan calon pemimpin tempat keluarga (biologis, rumah pertama) mengirimkan putra-putinya  kepada Keluarga Pesantren (Rumah Kedua) tidak saja belajar agama (Tafaqquh fi Diin) tapi juga belajar kepemimpinan dan praktik kerja lapangan. Dalam hal ini tidak saja mengikuti model pendidikan tradisional klasik, tapi juga beradaptasi dengan model pendidikan modern tanpa menghilangkan best practicies yang sudah dilakukan, tapi penuh upaya inovasi yang selaras dengan kebutuhan zamannya.

Kesinambungan Budaya: Dari Padepokan ke Pesantren

Transformasi pendidikan dari era kerajaan menuju sistem pesantren merupakan bentuk adaptasi budaya yang panjang di Nusantara. Menurut Dhofier (2011), pesantren mewarisi elemen-elemen penting dari institusi pendidikan pra-Islam, di mana figur Kyai menempati posisi sentral yang serupa dengan Resi atau Guru di padepokan masa lalu. Hubungan antara Kyai dan santri melampaui sekadar transfer pengetahuan formal; ia merupakan bentuk ikatan spiritual dan emosional yang mendalam, mencerminkan struktur keluarga besar yang saling terikat secara batiniah.

Lebih lanjut, jika ditinjau dari perspektif Family System Theory yang dikemukakan oleh Bowen (1978), lingkungan pesantren menciptakan sebuah sistem sosial yang unik di mana kemandirian santri ditempa melalui interaksi kolektif. Tradisi “pengasingan” pangeran ke luar istana tersebut di atas kini termanifestasi dalam budaya “mondok”. Di sini, santri dipisahkan dari keluarga biologisnya untuk sementara waktu bukan untuk memutus hubungan, melainkan untuk membangun karakter dan kedewasaan di bawah pengasuhan figur pengganti orang tua (Kyai dan Nyai) dalam sebuah ekosistem kekeluargaan yang lebih luas (Madjid, 1997). Bersambung

Comments are Closed