Mewujudkan Indonesia Raya

Wage Rudolf Supratman seorang musisi pada masa penjajahan Belanda yang pada awalnya menikmati kehidupan sebagai penghibur para penjajah dengan biola yang menyertainya, akhirnya berubah pikiran bergabung dengan para pemuda pejuang kemerdekaan. Tentu saja setelah melalui perjalanan Panjang dan konflik dengan dirinya secara pribadi dan kawan-kawannya yang memihak kepada penjajah di sisi lain, serta konflik dengan kawan-kawan lain yang memikirkan kemerdekaan dan kesatuan Bangsa.
Ini terlihat sangat baik dalam film berjudul Wage garapan sutradara John de Rantau yang juga bertindak sebagai produser film tersebut.
Dalam film berdurasi 125 menit itu, akhirnya W.R. Supratman –nama yang penulis hafalkan sejak duduk di MI melalui mata Pelajaran PMP tanpa informasi perjuangannya yang tersembunyi—menciptakan sebuah lagu dengan judul Indonesia Raya.
Melalui lagu tersebut ia mencoba membangkitkan semangat ke-Indonesiaan dan kebangsaan. Dikisahkan dalam film tersebut akhirnya para pemuda dan Masyarakat menyanyikan lagu tersebut di berbagai tempat dan kesempatan. Tentu kenyataan tersebut membuat Belanda berang dan menjadikan Wage sebagai target sasaran yang harus dibungkam dan dipenjarakan.
Sebagaimana film-film perjuangan lainnya film yang dirilis pada tanggal 28 Oktober 2017 ini juga dihiasi dengan sapaan kata “Merdeka!” sebuah ungkapan berisikan harapan dan semangat kemerdekaan yang ingin diwujudkan. Karena secara lingustik suatu kata itu ada tempat dan waktu pengucapannya, kata merdeka misalnya terikat dengan waktu perjuangan kemerdekaan, dan setelah itu hilang daya tariknya ketika diungkapkan dalam suasana kemerdekaan yang sudah tercapai.
Kata lain seperti Terrorist yang muncul pertama kalinya saat Revolusi Prancis yang dilakukan oleh Jacobin Club pada tahun 1795. Kemudian berkembang dan pada tahun 1858an dengan istilah terorisme modern digunakan oleh Irish Republican Brotherhood, kemudian stilah “terorisme” dan “teroris” menjadi populer kembali pada tahun 1970-an sebagai akibat dari konflik Israel-Palestina, konflik Irlandia Utara, konflik Basque, dan operasi kelompok-kelompok seperti Fraksi Tentara Merah. Topik ini semakin mengemuka setelah pemboman barak Beirut tahun 1983 dan setelah serangan 11 September tahun 2001, dan bom Bali tahun 2002. Dan selanjutnya seperti yang dapat dirasakan saat ini kata teroris menjadi bahan kata-kata dalam sambutan yang kerap diucapkan para pemimpin di berbagai belahan dunia. Dengan argumen dan program yang terlahir darinya. Ada banyak kata-kata yang terikat masanya seperti kata revolusi di Indonesia masa akhir Orde lama dan disambung dengan Orde Baru, kata pembangunan dan dan azas tunggal populer saat itu, disambung berikutnya dengan kata reformasi, masa reformasi; perubahan suatu sistem yang telah ada pada suatu masa.
Sebagaimana juga para pemimpin yang memiliki masa dan situasi kepemimpinan yang dibutuhkan. Pemimpin revolusioner misalnya hanya cocok untuk memimpin pada suasana revolusi dan perjuangan, dan kehilangan kapasitas kepemimpinannya pada masa damai sehingga ia akan berusaha membawa negaranya pada suasana perang, supaya tetap bisa dianggap pemimpin oleh rakyatnya.
Beruntung bisa menonton film tersebut sebagaimana beruntungnya penulis sempat mengunjungi rumah tempat kelahiran WR. Supratman di Purworejo, setelah melalui jalan licin mendaki, akhirnya bisa sampai ke bangunan kayu di tepi jurang, lumayan mengobati rasa penasaran. Sambil mencoba membayangkan kesulitan pada masa itu, kesulitan akses untuk bisa bergaul secara lebih luas kemudian.
Pelajaran menarik dalam konteks kepemudaan dari kisah Wage adalah perubahan mindset; anak muda yang sudah senang dengan kondisi kehidupan yang mapan bersama penjajah, kemudian berubah menjadi pejuang kemerdekaan yang menanggung risiko dan meninggalkan kenyamanan individunya dan menggantinya dengan semangat kebangsaan dan kesatuan, mengubah dari “aku” menjadi “kami”. Ini pengorbanan yang luar biasa dan patut ditiru oleh penerus bangsa ini.
Pelajaran selanjutnya dilihat dari karyanya berikut ini: Indonesia Raya, yang memancarkan semangat kemerdekaan dan impian serta tugas pasca kemerdekaan. Arahan dan mimpi dalam bait-bait syair Indonesia Raya versi lengkap cukup berbicara dan mengingatkan tugas kita sebagai anak bangsa. Masih terus berharap semoga para generasi muda dari angkatan per angkatan bisa mengikuti jejak para pahlawan terdahulu yang menciptakan bangsa ini dari tiada menjadi ada, dan pengakuan sebagai bangsa yang satu, sekaligus mensyukuri, mencintai dan menjaganya agar tetap jaya.
Stanza I
Indonesia, tanah airku,
Tanah tumpah darahku,
Di sanalah aku berdiri,
Jadi pandu ibuku,
Indonesia, kebangsaanku,
Bangsa dan tanah airku,
Marilah kita berseru,
Indonesia bersatu,
Hiduplah tanahku,
Hiduplah negeriku,
Bangsaku, rakyatku, semuanya,
Bangunlah jiwanya,
Bangunlah badannya,
Untuk Indonesia Raya.
Indonesia Raya, merdeka! Merdeka!
Tanahku, negeriku yang kucinta
Indonesia Raya, merdeka! Merdeka!
Hiduplah Indonesia Raya!
Stanza II
Indonesia, tanah yang mulia,
Tanah kita yang kaya,
Di sanalah aku berdiri,
Untuk selama-lamanya,
Indonesia, tanah pusaka,
Pusaka kita semuanya,
Marilah kita mendoa,
Indonesia bahagia!
Suburlah tanahnya,
Suburlah jiwanya,
Bangsanya, rakyatnya, semuanya
Sadarlah hatinya,
Sadarlah budinya,
Untuk Indonesia Raya.
Indonesia Raya, merdeka! Merdeka!
Tanahku, negeriku yang kucinta
Indonesia Raya, merdeka! Merdeka!
Hiduplah Indonesia Raya!
Stanza III
Indonesia, tanah yang suci,
Tanah kita yang sakti,
Di sanalah aku berdiri,
Menjaga ibu sejati,
Indonesia, tanah berseri,
Tanah yang aku sayangi,
Marilah kita berjanji,
Indonesia abadi!
Selamatlah rakyatnya,
Selamatlah putranya,
Pulaunya, lautnya, semuanya,
Majulah negerinya,
Majulah pandunya,
Untuk Indonesia Raya.
Indonesia Raya, merdeka! Merdeka!
Tanahku, negeriku yang kucinta
Indonesia Raya, merdeka! Merdeka!
Hiduplah Indonesia Raya!
Comments are Closed