Skip to content
mtatataufik.id

mtatataufik.id

media berbagi dan silaturahmi

  • Profil
  • Gallery
  • Tafsir Inspiratif III
    • Tafsir Inspiratif I& II
  • Untuk Putra-putriku
  • Buku
  • Artikel
    • Kolom
    • Komunikasi Pendidikan Islam
    • Hikmah
    • Arsip
  • Home
  • Gambar

Gambar

Posted on April 13, 2020April 13, 2020 By M Tata
Kolom

Ada sebuah pulau di lautan di mana pada tahun 1914 beberapa orang Inggris, Prancis, dan Jerman hidup. Tidak ada kabel yang mencapai pulau itu, kapal Inggris yang biasa membawa surat sekali dalam enam puluh hari, pada bulan September itu belum tiba, sementara penduduk pulau masih membicarakan isi Koran terbaru yang bercerita tentang pendekatan persidangan Madame Caillaux dalam kasus  penembakan Gaston Calmette. Oleh karena itu, pada suatu hari di pertengahan September dengan semangat yang lebih dari biasanya seluruh koloni berkumpul di dermaga untuk mendengar  putusan apa yang telah diberikan atas kasus tersebut dari kapten. Mereka belajar bahwa selama lebih dari enam minggu sekarang masing-masing mereka yang berkebangsaan Inggris dan Prancis yang sedang berperang demi kesucian perjanjian melawan mereka yang Jerman, selama enam minggu yang aneh mereka bertindak seolah-olah mereka teman, padahal sebenarnya mereka adalah musuh. (Lippman 1922).

Ilustrasi di atas ditulis Walter Lippman mengawali tulisannya tentang Public Opinion tapi lebih dari itu, penulis pernah mendengarkan ungkapan tersebut disampaikan oleh KH Imam Zarkasyi dalam satu ceramahnya di Alua Gontor, terbayang rasanya beliau sampaikan sambil tersenyum entah dalam konteks apa waktu itu, yang diingat hanya ceritanya –boleh jadi beliau menjelaskan tentang propaganda. Baru pada tahun sekitar 2004 penulis menemukan buku karya Lippman tersebut dalam rangka menulis disertasi. Buku eketronik dengan forman pdf yang didownload penulis dari http://xroads.virginia.edu/~Hyper/Lippman/ itu tentu saja dijadikan referensi penulisan tentang media dan komunikasi. Pada saat ketemu judul The World Outside And The Pictures In Our Heads ketika baca  paragraf pertama langsung teringat cerita pak Kiai saat di pondok, sambil bergumam, wah berarti pak kiai dulu baca buku ini, yang tentu saja semakin kagum dengan keilmuan beliau dan bersyukur penulis bisa ketemu buku ini.

Memang dalam beberapa ceramahnya –tahun 80an– beliau sangat care terhadap media, terutama jika menjelang liburan dalam tajuk mengisi kekosongan, beliau seakan memberi petunjuk tentang apa yang harus ditonton dari TV show yang tersedia, beliau waktu itu lebih mengarahkan pada Dunia Dalam berita milik TV RI, kalau saya nonton Dunia Dalam Berita, kalau sinetron itu buat mbok dapur saja, ungkapnya.

Beralih ke kondisi kekinian, saat media sosial demikian marak dan menyajikan banyak informasi baik dari yang ahli maupun yang bukan ahli; memungkinkan semua orang memberitakan sesuatu tanpa ada halangan “gate keeper” seperti yang berlaku di dunia jurnalistik, saat kebebasan pers menjadi perisai perlindungan media mainstream, saat semua orang bisa menjadi pengusaha media melalui halaman web atau blognya atau akun yang dimiliki di berbagai penyedia layanan portal, saat inilah pesan dan judul-judul berita media tidak lagi bisa dijadikan rujukan kebenaran. Pesan-pesan seperti ajakan mengunjungi link/tautan tidak lagi berakar pada pentingnya informasi, tapi lebih pada memperkaya kunjungan link yang dibagikan. Kadang hal ini tidak disadari oleh pengguna yang bisasa membagikan kiriman rekannya tanpa pikir panjang.

Dampaknya ketika isu tentang wabah misalkan yang perlu mendapat perhatian dengan ekstra hati-hati, bahwa ada yang perlu diberitakan dan ada yang tidak, menjadi boomerang ketika interpretasi dari pesan yang diterima dipahami dengan sangat mandiri serta dibangun atas dasar potret yang tergambar dalam kepala setiap individu. Berbagai pesan resmi dari pemilik otoritas tidak sanggup lagi mencegah berbagai eksekusi yang dilakukan khalayak secara sistematis lokal. Sengaja penulis tidak beri contoh supaya tidak ikut terjebak dalam penyebarannya.

Gambar yang memenuhi kepala kita sangat banyak dilukiskan dan mau tidak mau banyak di antara kita yang bergerak melakukan sesuatu karena “gambar” tadi, bukan karena hal yang ada di hadapan kita, pikiran kita juga menerobos wilayah yang tidak semestinya dipikirkan, sesuatu yang tidak dialami tapi memicu stress berlebihan sehingga berada dalam kekhawatiran. Para ahli (kesehatan) mengetahui bahwa ketenangan adalah kondisi yang dibutuhkan untuk penyembuhan sebagaimana kekhawatiran memicu penyakit.

Maka kini kita membutuhkan gambar yang bisa menenangkan dan menyejukkan dalam kondisi dunia yang sedang sakit, saatnya memotret dengan memilih angle yang indah dan pas sesuai dengan pesan yang ingin disampaikan; sejuk dan nyaman.

Kalau dahulu ada istilah mulutmu harimaumu, kini medsosmu harimaumu, buatlah auman yang tidak garang tak apa terkesan harimau ompong. Dengan medsos juga kita secara tidak disadari telah menjadi produser film dan juru potret yang selalu siap memproduksi gambar yang enak di pandang dengan standar estetika yang memadai, pencahayaan yang cukup dan struktur pesan yang lebih terarah, karena kita adalah manusia yang memiliki nurani sebagai potensi gerak kita.

Post navigation

❮ Previous Post: Ramadlan Tempo Dulu
Next Post: Pulang ❯

You may also like

Kolom
Ismā’u al-Qur’ān
May 1, 2020
Kolom
Aset Maknawi
February 15, 2021
Kolom
Membicarakan Pesantren di Trabzon Turki
November 29, 2021
Kolom
Pesan Ramadan: Tadarus 4G
April 6, 2021

Recent Posts

  • Kurikulum Holistik: Dari Model Tokkatsu, Child to Child Pedagogy, Hingga Pesantren
  • Ahead of GIHES 2026: From the Hidden Curriculum to a Holistic Curriculum
  • Kami Alihkan Pesawatnya ke Surabaya
  • Menjelang GIHES 2026: Dari Hidden Curriculum ke Holistic Curriculum
  • The Expensive Warung: How Commercialism Is Changing Indonesian Hospitality

Archives

Memes

Categories

Quotes

Kalender

September 2026
M T W T F S S
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
282930  
« Jul    

Memes

Link

  • PP Al-Ikhlash
  • Al-Ikhlash Institute
  • P2i

https://www.youtube.com/c/TataTaufik

Copyright © 2026 mtatataufik.id.

Theme: Oceanly Green by ScriptsTown