mtatataufik.id

media berbagi dan silaturahmi

Pulang

Print Friendly, PDF & Email

Bagi yang sempat menyaksikan sinetron TVRI tahun 1988 an Pulang adalah salah satu judul  sinetron garapan sutradara Dedi Setiadi, Didi Petet (alm) dan Niniek L. Karim di antara pemerannya. Untuk yang lebih baru lagi Pulang adalah film drama Malaysia tahun 2018 yang disutradarai oleh Kabir Bhatia dan ditulis oleh Mira Mustaffa dan Ahmad Izham Omar, film yang diangkat dari kisah nyata itu menceritakan nelayan miskin di kampung yang kemudian untuk mengubah nasibnya menjadi awak kapal, sementara istri dan anaknya berjuang untuk hidup, sambil selalu berharap pulanya sang suami, sampai akhirnya anaknya sukses, dan berusaha mencari sang bapak setelah ketemu ternyata menolak untuk pulang….

Lain cerita film lain cerita santri, pulang bagi santri merupakan suatu yang diidam-idamkan setiap tiba saatnya liburan, ada juga izin pulang karena sesuatu hal seperti sakit, menemui keluarga yang sakit atau alasan lain seperti kenduri pernikahan atau halal bihalal hajian orang tuanya dan alasan-alasan yang memungkinkan bisa pulang di luar jadwal liburan.  Bagi santri ada kata pulang yang paling dihindari dan ditakuti yaitu jika diberi awalan “di” dan akhiran “kan” dipulangkan berarti santri karena suatu hal dipulangkan ke orang tuanya dan tidak bisa melanjutkan studinya di pesantren. Pemulangan berarti proses, cara, perbuatan memulangkan seperti akhir-akhir ini proses pemulangan santri harus sesuai dengan protokol kesehatan yang disarankan.

Kembali ke judul pulang, kata yang singkat ini menunjuk adanya tempat asal yang ditinggalkan dan ada tempat yang dituju sebagai tempat pengembaraan, ada alasan yang membuatnya mengembara serta ada tujuan pengembaraan.

Tempat asal adalah rumah atau kampung halaman, tempat tujuan biasanya pusat-pusat bisnis, pendidikan dan pekerjaan. Ada juga tujuan yang sipatnya singkat (tidak menetap) seperti tempat kerabat, tempat ibadah, ziarah dan tempat wisata. Tiga tempat tujuan yang disebutkan pertama merupakan yang paling umum dituju oleh pelaku pengembara dengan durasi waktu yang cukup panjang.

Alasan sering kali berkisar pada mencari penghidupan (ekonomi) mencari pendidikan dan mencari pekerjaan. Dalam kaitan ini banyak sekali motivasi-motivasi yang disampaikan dan beredar di masyarakat agar melakukan pengembaraan yang walau kebanyakan berasal dari negeri orang. Seperti “anak panah tidak akan mendapatkan sasarannya jika tidak meninggalkan busur, singa tidak akan mendapatkan mangsa jika diam di gua.” Dari syair Arab.  “Mengembaralah niscaya akan kau temui pengganti orang yang kau tinggalkan!” Syair Arab, “Barang siapa keluar untuk mencari ilmu ia fi sabilillah sampai ia kembali.” Dari Hadis Rasulullah SAW.  “Jangan kau cari kemuliaan di kampung halamanmu, karena kemuliaan yang didapat berkat mengikuti jejak kaki unta itu adalah kehinaan.” Syair Arab juga yang maksudnya mengharapkan kemuliaan dengan bergantung kepada jejak yang diukir orang tuanya adalah hina.

Ini agak berbeda dengan pepatah Melayu yang lebih mengarah pada anjuran tinggal di kampung; “Hujan emas di negeri orang, hujan batu di negeri sendiri , baik juga di negeri sendiri.” Betapa senang dan bahagia di perantauan , tentu lebih senang dan bahagia di negeri sendiri. “Setinggi-tinggi bola melambung, jatuhnya ke tanah jua” yang berarti sejauh-jauhnya merantau akhirnya kembali ke kampung halaman juga. Atau pepatah Jawa yang berarti makan tidak makan yang penting kumpul.

Ada 13 ayat dalam Al-Qur’an berkenaan dengan anjuran perlunya melakukan perjalanan; Ali Imran ayat 137, Al-An’am ayat 11, Yusuf ayat 109, An-Nahl ayat 36, al-Haj ayat 46, An-Naml ayat 69, al Ankabut ayat 20, al-Rum ayat 9 dan 42, Fathir ayat 44, Ghafir ayat 21 dan 82 dan Muhammad ayat 10.

Adapun tema dari anjuran tersebut untuk mempelajari akibat perbuatan yang mendustakan para nabi dan rasul ada tiga ayat  yaitu di surat Ali Imran, al-Nahl dan al-An’am. Sedangkan berkenaan dengan akibat perbuatan umat terdahulu  ada enam ayat yaitu di surat Yusuf, al-Rum, Fathir, Ghafir dan Muhammad. Tema lainnya berkenaan dengan proses awal penciptaan makhluk al-Ankabut, akibat pendosa al-Naml, supaya hati bisa berpikir dan telinga bisa mendengar al-Haj ayat 46.

Artinya konteks pengembaraan lebih diarahkan kepada belajar sejarah masa silam, tentang perilaku penolakan terhadap informasi langit oleh manusia dan akibatnya (yang mendustakan nabi), tentang kekuatan dan peradaban yang dicapai manusia pada masa tertentu, dan akhir dari peradaban itu, atau dibalik, ujungnya hancur juga, mempelajari akibat perbuatan dosa, ini mungkin mengarah kepada patalogi sosial dan akibatnya, kemudian belajar ilmu pengetahuan berkaitan dengan proses penciptaan makhluk, katakanlah biologi –bahasa dulu ilmu hayat—serta mengasah daya pikir dan daya dengar sehingga bisa menemukan kemampuan berpikir yang lebih bernurani serta mendengar dan menyimak suara kebenaran serta memilahnya, ada potensi filter yang merupakan perpaduan kerja hati dan telinga. Apiknya di sini al-Qur’an menyebutkan istilah hati yang berpikir, bukan otak, kemudian dihubungkan dengan telinga yang mendengar, serta menyipati hati dengan kata buta yang itu secara lahir berhubungan dengan mata.

Semua tujuan pengembaraan di dunia seperti yang diarahkan al-Qu’an itu bertujuan agar pelakunya mampu menerima, mencapai dan melaksanakan petunjuk Ilahiyah yang secara pintas dapat mengantarkan kepada kebahagiaan dunia akhirat. Maksud pintas di sini untuk menghargai bahwa dengan jalan yang berliku-liku (harus empirik dan dialami) ada yang bisa sampai pada pengakuan akan kebenaran ajaran Ilahiyah. Sebagai ilustrasi orang yang hendak ke Jakarta ia akan cepat sampai dengan biaya yang murah jika mengikuti petunjuk arah, sementara orang yang tidak tahu arah akan sampai juga tapi mungkin dengan waktu yang berlipat dan biaya berlipat pula. Dengan begitu akan dipahami bahwa petunjuk itu diberikan untuk mempermudah, dan bukti lain atas kasih dan sayang-Nya.

Jadi tujuan pengembaraan lebih mengarah kepada pencapaian ilmu dan pengetahuan untuk dipedomani dalam menjalani hidup ketimbang pencapaian tujuan material, jika bertujuan ekonomi pun pengembaraan akan lebih bermakna jika dibarengi juga dengan niat belajar dari siapa dan apa pun serta di mana pun. Sehingga ketika pulang membawa oleh-oleh maknawi dan materi. Karena pada akhirnya semua harus pulang.

 

 

 

Comments are Closed