mtatataufik.id

media berbagi dan silaturahmi

Katakan Alhamdulillah seri 3

Print Friendly, PDF & Email

Ketiga, surat an-Naml ayat 59 pada ayat ini perintah untuk mengatakan alhamdulillah terkait dengan cerita kaum nabi Luth as yang dibinasakan karena tidak menghiraukan seruan nabinya, dan hidup dlam kekufuran dan bergelimang dosa. Kalau pada ayat sebelumnya sasaran kominkasinya kepada nabi Nuh as, tapi pada ayat ini sasarannya adalah Nabi Muhammad SAW. Setelah mengetahui cerita umat-umat terdahulu dengan apa yang dialami mereka; pengikut para nabi selamat sebagai orang pilihan dan mereka yang ingkar berakhir dengan mendapatkan azab Allah, maka Allah memerintahkan untuk mengucapkan hamdalah atas selamatnya para penerima dakwah dan mengucapkan selamat kepada kaum-kaum yang diselamatkan.

قُلِ الْحَمْدُ لِلَّهِ وَسَلَامٌ عَلَى عِبَادِهِ الَّذِينَ اصْطَفَى آللَّهُ خَيْرٌ أَمَّا يُشْرِكُونَ النمل: ٥٩

Katakanlah (Muhammad), “Segala puji bagi Allah dan salam sejahtera atas hamba-hamba-Nya yang dipilih-Nya. Apakah Allah yang lebih baik, ataukah apa yang mereka persekutukan (dengan Dia)?”

Ibnu Katsir:

Allah SWT berfirman untuk memerintahkan Rasul-Nya supaya mengatakan alhamdulillah serta berdoa semoga keselamatan dan kedamaian menyertai para  hambanya, mengatakan: Alhamdulillah atas nikmat yang diberikan kepada hamba-Nya yang tak terhitung jumlahnya, mengucapkan alhmadulillah karena Allah memiliki sifat-sifat mulia dan nama-nama indah, serta untuk mengucapkan selamat kepada hamba-hamba terpilih yaitu para nabi dan rasuul-Nya as. Demikian Abd al-Rahman bin Zaid bin Aslam, dan yang lainnya berkata bahwa yang dimaksud hamba-hamba yang telah memilih adalah para nabi dan rasul. Hal ini sebagaimana diungkapkan dalam surat as-Shafat ayat 180-182: Mahasuci Allah, Penciptamu dan Pencipta segala kekuatan dan keperkasaan, dari segala tuduhan palsu yang mereka sematkan kepada-Nya. Salam sejahtera tercurahkan kepada para rasul pilihan. Segala puji bagi Allah semata, Pencipta alam semesta dan Pengatur semua makhluk.

Dan menurut at-Tsauri dan Sadi serta Ibnu Abas bahwa yang dimaksud hamba pilihan adalah para sahabat Muhammad SAW. Pendapat ini tidak bisa dipungkiri kalua mereka (sahabat) termasuk orang pilihan,  namun para nabi dan rasul sebelum Muhammad SAW lebih tepat dalam hal ini karena maksudnya Allah SWT memerintah nabi Muhammad untuk mengatakan alhamdulillah setelah terlebih dahulu menceritakan bagaimana Allah menolong dan menyelamatkan para nabi dan rasul as  serta mendukung mereka serta mengisahkan para musuh dan penentangnya yang mendapat kehinaan dan kebinasaan. Perintah untuk memuji Allah karena perbuatan-Nya itu dan mengucapkan selamat kepada orang-orang terpilih.

Adapun kalimat آللَّهُ خَيْرٌ أَمَّا يُشْرِكُونَ merupakan kalimat tanya yang bermakna pengingkaran terhadap kaum musrik yang menyembah Allah dan lainnya yang dianggap tuhan.

Jalalain:

Katakanlah hai Muhammad! Alhamdulillah atas binasanya orang kafir dari umat terdahulu dan kesejahteraan atas hamba-haqmba-Nya yang terpilih. Apakah Allah yang lebih baik ataukah apa yang mereka persekutukan dengan-Nya? Maksudnya berhala-berhala yang mereka sembah itu apakah lebih baik bagi para penyembahnya?

As-Sa’di:

Katakanlah alhamdulillah yang berhak untuk dipuji, diagungkan dan dimuliakan dengan sempurna, karena kesempurnaan sifat-sifat-Nya, kebaikan dan Anugerah-Nya, karena keadilan dan kebijakan-Nya dalam menghukum mereka yang mendustakan para nabi dan mengazab orang zalim. Kemudian ucapkan salam juga kepada hamba-hamba-Nya yang baik dan terpilih dari para nabi dan para rasul serta mengutamakannya dari seluruh makhluk. Hal itu untuk meninggikan penghargaan bagi mereka dengan menyebutnya serta mengutamakannya dengan derajat keselamatan mereka dari segala bentuk kejahatan dan noda, serta selamat dari ungkapan buruk (seperti mengucapkan bahwa Allah memiliki aib dan kekurangan) terhadap Tuhan mereka.    

Adapun kalimat آللَّهُ خَيْرٌ أمَا يُشْرِكُونَ adalah merupakan kalimat tanya yang sudah sering disebutkan dan dimaklumi maknanya, artinya apakah Allah Tuhan yang Maha Agung memiliki sifat sempurna lebih baik ataukah berhala-berhala yang mereka sembah bersama-Nya? Berhala-berhala itu serba kekurangan dari berbagai segi tidak bermanfaat dan tidak juga bisa memberi madarat baik bagi dirinya maupun bagi para penyembahnya sedikitpun. Sedangkan Allah lebih baik dari apa yang mereka sekutukan.

bersambung ke seri 4

Comments are Closed