Skip to content
mtatataufik.id

mtatataufik.id

media berbagi dan silaturahmi

  • Profil
  • Gallery
  • Tafsir Inspiratif III
    • Tafsir Inspiratif I& II
  • Untuk Putra-putriku
  • Buku
  • Artikel
    • Kolom
    • Komunikasi Pendidikan Islam
    • Hikmah
    • Arsip
  • Home
  • Pelat Nomor

Pelat Nomor

Posted on June 2, 2021August 22, 2022 By M Tata
Kolom

Sejak tahun 2019 sedikitnya ada emapt kasus penggunaan plat nomor (Tanda Nomor Kendaraan Bermotor) kedinasan yang digunakan oleh penguna kendaraan yang tidak berhak. Pertama pada tanggal 3 Juni 2019 ketika seorang pelajar pengguna Fortuner terjaring polisi di kawasan Puncak dengan plat nomor 3553-07. Kedua Camry yang menggunakan plat nomor 3423-00 diamankan Polisi Militer pada 3 Maret 2021di Bnadung. Ketiga Nissan Tera yang terjaring pada 16 Mei 2021 di Cikijing Majalengka dengan nomor 1124-VII. Keempat Fortuner yang terjaring baru-baru ini di Jakarta dengan nomor 351-00 pada 20 Mei 2021.

Kejadian ini menarik untuk didiskusikan, baik dari sisi kedinasan yang dijadikan objek maupun dari sisi pengguna atau pemalsu. Dari sisi kedinasan TNKB TNI dan Polisi terlebih pada masa Orde Baru sering dianggap memiliki prioritas dalam penggunaan jalan raya, sehingga masyarakat pengguna jalan tergiur untuk mendapatkan TNKB tersebut guna mendapat perlakuan lebih dari sesama pengguna jalan. Sedangkan dari sisi pelaku pemalsuan beberapa alasan boleh jadi menunjukkan kepribadian personal yang tercermin dalam tindakan tersebut.

 Dari sudut komunikasi Tanda Nomor Kendaraan Bermotor merupakan media penyampaian informasi dari kendaraan tersebut; bahwa kendaraan tersebut telah terregistrasi (Pasal 68 UU No 22 Tahun 2009 Tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan) serta masuk dalam ranah Pengembangan Sistem Informasi dan Komunikasi (Pasal 248 ayat 2 huruf J). Maka penggunaan TNKB palsu berarti memberikan informasi bohong atau palsu kepada khalayak.

Dalam studinya tentang berbohong, Sissela Bok (1989) mendefinisikan  suatu kebohongan sebagai suatu pesan yang sengaja menipu dalam bentuk suatu pernyataan, dengan kata lain niat seseorang untuk menipu atau menyesatkan lewat komunikasi verbal. Paul Ekman (1985) yang penelitiannya tentang  penipuan dalam komunikasi nonverbal, juga  menghubungkan berbohong dengan niat pembohong baik untuk menyembunyikan dengan membuang informasi  yang benar atau memalsukan,  menyajikan informasi palsu seolah-olah informasi itu benar.

Lippard (1988) hasil studinya  mengenai penipuan menunjukkan bahwa orang mengemukakan lima alasan untuk bebohong: untuk melindungi atau memperoleh sumber daya material (uang, pekerjaan atau apartemen); untuk mengurangi atau meningkatkan afiliasi mereka dengan orang lain; untuk melindungi diri mereka sendiri dengan menghindari penyingkapan diri atau meningkatkan atau melindungi citra diri mereka; untuk menghindari konflik; untuk melindungi orang lain.

Dalam hal plat nomor –dengan teori bohong di atas—terlihat bisa masuk dalam seluruh pernyataan tentang kebohongan, ada niat dan kesengajaan untuk menipu, menyajikan informasi palsu seolah-olah benar dengan tujuan pemenuhan keuntungan pribadi, meningkatkan afiliasi pada lembaga/kelompok tertentu, melindungi diri, dan melindungi citra diri. Seakan ingin menampilkan jati diri semu untuk mendapatkan keutamaan yang pada dasarnya sepele, padahal jika teungkap akan mendapatkan kebalikannya, terlebih lagi jika berbohong sudah menjadi penyakit.

Kebohongan patalogis dapat dilihat –akan membawa seseorang– pada narsisisme atau tingkah laku yang berpusat pada disi sendiri, sangar dan cepat marah, menipu, impulsif, tempramental, kurang empati, dan tak mampu berhenti berbohong.

Banyak usaha dilakukan untuk memerangi tindakan berbohong sebagai suatu bentuk penanaman karakter, misalnya pepatah Melayu mengatakan; sekali lancung keujian seumur hidup orang tak percaya. Dalam hadis juga dikatakan bahwa bohong adalah pangkal dari dosa, secara terang dalam hadis Imam Ahmad dari Ibnu Mas’ud bahwa Rasulullah SAW bersabda: “Hendaklah kamu senantiasa jujur, karena kejujuran akan menuntun kepada kebaikan, dan kebaikan akan menuntun ke arah Surga. Seseorang yang senantiasa jujur dan terus berusaha untuk jujur akhirnya ditulis oleh Allah sebagai orang sangat jujur. Dan jauhilah dusta, karena dusta akan menuntun kepada dosa, dan dosa akan menuntun ke arah Neraka, seseorang yang senantiasa berdusta dan terus berdusta, hingga akhirnya ditulis oleh Allah sebagai pendusta.” (Hadis ini terdapat dalam dua kitab hadits shahih Bukhari dan Muslim serta dikutip Ibnu Katsir saat menafsirkan surat al-Taubah: 119).

Pertanyaan penutup; siapkah kita untuk hidup lebih jujur dari hari ini? Karena dengan kejujuran berarti  mengurangi stress, membangun kepercayaan, serta membangun rasa hormat dan integritas. Sambil belajar mengatakan ini plat nomorku dan identitas kendaraanku aku bangga karenanya.

(medcom.id/pilar 25-52021)

Tags: 1124-VIII 3423-00 bohong fortuner jujur pelat nomor palsu

Post navigation

❮ Previous Post: Idul Fitri Yang Optimis
Next Post: Catatan 17 Agustus 2021 ❯

You may also like

Kolom
Hari Guru Untuk Apa?
December 16, 2022
Kolom
Mewujudkan Indonesia Raya
October 31, 2023
Hikmah
Istighfar: Sebuah Konsep Perilaku Baru dan Dimensi Psikologisnya
May 17, 2026
Kolom
Meme
April 11, 2020

Recent Posts

  • Kurikulum Holistik: Dari Model Tokkatsu, Child to Child Pedagogy, Hingga Pesantren
  • Ahead of GIHES 2026: From the Hidden Curriculum to a Holistic Curriculum
  • Kami Alihkan Pesawatnya ke Surabaya
  • Menjelang GIHES 2026: Dari Hidden Curriculum ke Holistic Curriculum
  • The Expensive Warung: How Commercialism Is Changing Indonesian Hospitality

Archives

Memes

Categories

Quotes

Kalender

September 2026
M T W T F S S
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
282930  
« Jul    

Memes

Link

  • PP Al-Ikhlash
  • Al-Ikhlash Institute
  • P2i

https://www.youtube.com/c/TataTaufik

Copyright © 2026 mtatataufik.id.

Theme: Oceanly Green by ScriptsTown