Skip to content
mtatataufik.id

mtatataufik.id

media berbagi dan silaturahmi

  • Profil
  • Gallery
  • Tafsir Inspiratif III
    • Tafsir Inspiratif I& II
  • Untuk Putra-putriku
  • Buku
  • Artikel
    • Kolom
    • Komunikasi Pendidikan Islam
    • Hikmah
    • Arsip
  • Home
  • Pers dan Kisah Inspiratif

Pers dan Kisah Inspiratif

Posted on February 11, 2023February 11, 2023 By M Tata
Kolom

Oleh: M. Tata Taufik

Salah satu metode  pendidikan yang dinilai ampuh adalah dengan bercerita, tahu menyampaikan cerita kepada khalayak. Tradisi menceritakan kebaikan orang-orang saleh bahkan sangat populer di kalangan kaum muslimin. Istilah manakib sering kita dengar dan biasa dibacakan dalam kegiatan-kegiatan tertentu seperti haul memperingati wafatnya seorang guru oleh para pengikutnya. Haul Guru Sekumpul di Kalimantan Selatan misalnya menyajikan pemandangan yang luar biasa, pembacaan manakib di setiap rumah, tinginya penziarah dan kehidupan sosial yang mencerminkan kedermawanan masyarakat dalam menjamu  dan melayani tamu merupakan cermin dari nilai-nilai kebaikan yang tertanam di masyarakat. Demikian juga para murid tarekat tertentu seperti TQN yang memiliki kegiatan manakiban biasa diselenggarakan di berbagai tempat.

Berkenaan dengan menceritakan kebaikan ulama dan orang-orang saleh, Ahmad Ibn Hambal menyarankan kepada kaum muslimin untuk menyebarkan kebaikan dan keadilan yang dilakukan ‘Umar Bin Abdul Aziz khalifah yang terkenal keadilannya itu. Menurutnya menceritakan kebaikan orang saleh hukumnya mustahab, artinya baik untuk dilakukan.

Di sekitar kita banyak juga ditemui kisah-kisah kebaikan yang dilakukan oleh “orang biasa” namun mencerminkan kesalehannya. Biasanya kisah-kisah tersebut luput dari penuturan para penutur kisah atau shahibul hikayah meminjam istilah Ki Balap; mubaligh asal Bogor yang menghiasi mimbar-mimbar tabligh akbar pada tahun 70an dan rekamannya masih sesekali kita dengar diputar saat ini. Dengan gaya khas Ki Balap menyampaikan pendidikannya melalui kisah anak muda bernama Ahmad yang orang tak punya yang pergi nyantri ke Kiai hingga akhirnya dia menjadi Ajengan, penuturan kisah tersebut diselingi dengan bacaan shalawat dengan langgam yang khas.

Pada masa kejayaan para penutur kisah memang sarana komunikasi massa masih terbatas, terbatas dalam bentuk komunikasi lisan, budaya baca tulis masih sangat terbatas pada kalangan terpelajar saja serta yang mampu membeli majalah atau koran. 

Disekitar kita bisa juga ditemukan kisah-kisah teladan yang hidup di era global. Sebut saja Hj. Tutit Rosyida, istri dari KH. Ahmad Yahya Pekalongan, menurut cerita putrinya, saat beliau wafat beberapa tahun yang silam para putranya baru mengetahui bahwa beliau memberi insentif kepada sekian merbot mesjid yang ada di wilayah tempat tinggalnya, hal tersebut baru diketahui karena para merbot yang datang bertakziyah. Mendengar kisah inspiratif tersebut seorang ibu mengikuti jejaknya dengan memberikan insentif bulanan pada guru-guru madrasah diniyah tempat dia mengajar dahulu, dan terus berjalan sampai sekarang. Sementara para putra-putrinya berusaha menajutkan tradisi baik ibunya dengan urunan.  

Cerita lain lagi masih seorang ibu yang ternyata membangun madrasah, sekaligus memberi bekal penghidupan bagi pengelolanya, serta membangun 20 mesjid dan 1 pesantren, juga mengumrahkan beberapa orang, yang juga baru diketahui saat sang ibu wafat, Hj Lu’luiyah binti H Mohammad Kasim yang tidak lain adalah Ibunda dari Pak Syafruddin wakil ketua DMI Pusat.

Yang menarik dari kisah dua ibu ini ternyata para ibu (emak-emak istilah sekarang) justru senang berkontribusi dalam aktivitas keumatan dengan diam-diam, maksudnya tanpa diketahui oleh keluarganya. Sehingga saat wafat mereka mampu mewariskan kisah keteladanan bagi anak-anaknya.

Rasanya tak henti-henti penulis ingin menuturkan kisah kedua ibu ini dalam berbagai kesempatan. Tentu saja untuk memberi informasi baik (good news) yang menginspirasi kebaikan juga bagi yang mendengar atau membacanya, termasuk tulisan ini dalam rangka itu.

Dikaitkan dengan Hari Pers Nasional yang biasa diperingati setiap 9 Februari tampaknya harus lebih memperhatikan konten good news dengan memberi ruang yang lebih pada media massa apa pun bentuknya. Sebagaimana pada awal kemunculannya konsep berita dalam media berkisar pada berita penting dan berita besar; berita kegiatan politik, berita peperangan, a battle, bencana disaster, atau berbagai kegiatan masyarakat (kenduri)  public celebration dan  eyewitness.

Perkembangan konsep berita yang digagas William Randolph Hearst untuk memenangkan bisnis dalam persaingan antara media, menjadi sangat luas dan “melayani selera” audien dengan berita sensasional harus dikaji ulang. Selamat hari Pers Nasional 9 Februari 2023. Semoga lahir kembali pers yang mampu membangun karakter bangsa serta mengangkat sisi baik bangsa ini, karena khalayak juga berhak mengetahui berita baik.

Post navigation

❮ Previous Post: Umrah Plus Studi
Next Post: Rahasia di balik seruan “ Hai Orang-orang yang beriman” ❯

You may also like

Kolom
Kebapakan Sang Guru
July 25, 2024
Kolom
Korma & Kolang Kaling
May 11, 2020
Kolom
Membicarakan Pesantren di Trabzon Turki
November 29, 2021
Kolom
Untuk Kebangkitan Tak Tertunda
May 19, 2022

Recent Posts

  • Kurikulum Holistik: Dari Model Tokkatsu, Child to Child Pedagogy, Hingga Pesantren
  • Ahead of GIHES 2026: From the Hidden Curriculum to a Holistic Curriculum
  • Kami Alihkan Pesawatnya ke Surabaya
  • Menjelang GIHES 2026: Dari Hidden Curriculum ke Holistic Curriculum
  • The Expensive Warung: How Commercialism Is Changing Indonesian Hospitality

Archives

Memes

Categories

Quotes

Kalender

September 2026
M T W T F S S
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
282930  
« Jul    

Memes

Link

  • PP Al-Ikhlash
  • Al-Ikhlash Institute
  • P2i

https://www.youtube.com/c/TataTaufik

Copyright © 2026 mtatataufik.id.

Theme: Oceanly Green by ScriptsTown