mtatataufik.id

media berbagi dan silaturahmi

Mawas Diri Di Hari Fitri

Print Friendly, PDF & Email

Oleh: Dr. H. M. Tata Taufik M. Ag

Pengurus MUI Kab Kuningan

Idul Fitri adalah hari saat berkumpulnya ummat Islam setelah bulan Ramadhan, demikian menurut pengertian kamus bahasa Arab. Kalau diteliti secara bahasa kata Idul Fitri terdiri dari dua suku kata; id artinya perayaan atau peringatan, fitr berarti berbuka puasa. Maka bisa diartikan perayaan setelah berpuasa selama satu bulan yaitu bulan Ramadhan. Makna ini sesuai dengan adanya Idul Adha, yang berarti perayaan setelah menyembelih udhiyah atau binatang korban.

Berangkat dari pengertian ini ada beberapa hal yang bisa diungkapkan: pertama bahwa Idul Fitri berhubungan erat dengan Ramdhaan; kedua idul fitri merupakan perayaan yang dilakukan untuk merayakan usainya bulan Ramdhan; ketiga bahwa yang dirayakan adalah tuntasnya berpuasa Ramadhan. Dari tiga hal ini maka pertanyaan yang bisa diajukan adalah bagaimana merayakan Idul Fitri?

Dasar-dasar Idul Fitri:

Sebuah perayaan biasanya didasarkan pada suatu yang sangat besar dan dianggap penting serta memiliki pengaruh bagi kehidupan orang banyak secara umum. Maka dalam hal Idul Fitri dasar utamanya adalah karena ummat Islam secara serentak melaksanakan ibadah puasa di bulan Ramadhan, menjalankan puasa selama satu bulan lamanya adalah perbuatan yang luar biasa, dan tidak semua orang bisa menjalankannya. Kemudian selama berpuasa itu banyak barokah (bertambahnya nilai-nilai kebaikan) dan kesempatan untuk mengembangkan amal perbuatan baik secara berlipat ganda. Dan bulan Ramdahan sendiri memiliki keutamaan sebagai bulan yang berisikan rahmat, maghfirah dan berpotensi untuk melepaskan seseorang dari api neraka.

Atas asar ini maka ummat Islam berhak merayakannya, merayakan kemampuannya untuk bisa berpuasa satu bulan penuh, merayakan kemampuannya untuk bisa betaqarub (mendekatkan diri kepada Allah) merayakan atas didapatnya Rahmat dan Maghfirah Allah SWT.

Bagaimana Merayakannya?

Untuk perayaan Islam mengajarkan tata cara merayakannya, pertama menyebut dan mengangungkan nama Allah. Kedua dengan mendirikan shalat dua rakaat yang disertai dua khutbah, ketiga dengan bersedekah kepada fakir miskin dalam bentuk zakat fardu ain yaitu zakat fitrah. Keempat ini merupakan tradsisi yang disarikan dari nilai-nilai ajaran Islam yaitu bermusafahah saling memaafkan dan bersilaturhami.

Cara yang pertama yaitu sebagaimana diungkapkan dalam QS. 2:185. “Hendaknya bertakbir (mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu agar kamu bersyukur.”

Seperti yang sudah dimaklumi bersama bahwa lafadz takbir berbunyi: Allah Akbar, Laa ilaaha Illa Allah, Allah Akbar, wa Lillahi al-Hamd. Inilah ungkapan keasadaran seorang hamba bila sukses melakukan sesuatu; seakan mengucapkan aku berpuasa karena Kebesaran-Mu ya Allah, bukan karena suatu yang lain, tidak ada tuhan selain Engkau, karenanaya aku mematuhi segala perintah-Mu dan menjauhi larangan-Mu,  Engkau Maha Besar, dan bagi-Mu segala pujian, tak ada yang layak untuk dibanggakan di hadapan Keagungan-Mu kerena semua pujian hanya milik-Mu. Maka dengan bertakbir tahlil dan tahmid itulah muhasabah (mawas diri) yang sebenarnya; mengetahui posisi sebagai hamba Allah dan menyadarinya kemudian diikuti oleh kepatuhan kepada-Nya.

Takbir Sebagai Mawas Diri:

Dengan bertakbir setelah melakukan puasa bearti menghilangkan kesombongan yang mungkin muncul karena telah melaksanakan puasa sementara mengetahui bahwa ada orang lain yang belum bisa melaksanakannya. Bisa juga terlalu bangga karena merasa sudah menlakukan ketaatan, maka dengan bertakbir akan merasakan posisi yang sebenarnya, bahwa Allahlah yang Maha Besar artinya manusia dan makhluk lainnya kecil tak berarti apa-apa dibanding Keagungan Allah SWT.

Bertakbir juga akan memberikan keasadaran bahwa dosa-dosa yang pernah dilakukan adalah kecil dibanding dengan Keagungan Allah SWT yang bisa memberi pengampunan pada siapapun yang meminta ampun, maka ingat-ingatlah dosa apa yang pernah dilakukan dan mohonlah ampunan-Nya. Dilukiskan seorang ulama dalam ungkapan “Ya Rab! Andaikan dosa-dosaku besar dan banyak, tapi aku tahu bahwa Maaf-Mu lebih luas dan besar.”

Comments are Closed