Skip to content
mtatataufik.id

mtatataufik.id

media berbagi dan silaturahmi

  • Profil
  • Gallery
  • Tafsir Inspiratif III
    • Tafsir Inspiratif I& II
  • Untuk Putra-putriku
  • Buku
  • Artikel
    • Kolom
    • Komunikasi Pendidikan Islam
    • Hikmah
    • Arsip
  • Home
  • HOTS Tumbuh di Pesantren

HOTS Tumbuh di Pesantren

Posted on September 1, 2026September 13, 2026 By M Tata
All abaut Education, Artikel

Ketika berpikir tingkat tinggi tidak berhenti pada soal ujian

Oleh M. Tata Taufik

Istilah Higher Order Thinking Skills atau HOTS beberapa tahun terakhir terdengar sangat modern. Ia datang melalui pelatihan guru, modul pembelajaran, kisi-kisi ujian, dan gambar piramida Taksonomi Bloom. Guru diminta tidak berhenti pada soal yang menguji ingatan, tetapi bergerak menuju analisis, evaluasi, dan kreasi. Gagasan itu penting. Namun, ada pertanyaan yang jarang diajukan: benarkah pendidikan kita baru mengenal cara berpikir tingkat tinggi setelah istilah HOTS diperkenalkan?

Pertanyaan ini menarik jika diarahkan kepada pesantren. Lembaga pendidikan tertua di Indonesia ini sering dipandang melalui dua gambaran yang saling berlawanan. Di satu sisi, pesantren dipuji sebagai benteng moral dan kemandirian umat. Di sisi lain, ia kadang dianggap terlalu menekankan hafalan, kepatuhan, dan tradisi. Kedua gambaran itu tidak sepenuhnya salah, tetapi sama-sama belum cukup. Untuk memahami cara pesantren mendidik, kita tidak boleh hanya masuk ke ruang kelas dan melihat buku pelajarannya. Kita harus mengamati keseluruhan kehidupannya.

Di pesantren modern, pendidikan berlangsung sebagai satu ekosistem. Santri belajar di kelas, tinggal di asrama, beribadah bersama, menggunakan bahasa asing, berorganisasi, berpidato, mengelola kegiatan, berlatih mengajar, membuat pertunjukan, dan menyelesaikan persoalan hidup bersama. Apa yang mereka lihat, dengar, rasakan, dan kerjakan ditempatkan sebagai bagian dari pendidikan. Karena itu, HOTS di pesantren tidak terutama hadir sebagai label. Ia tumbuh sebagai pengalaman.

Bukan tangga yang memisahkan

Taksonomi Bloom biasanya digambar seperti piramida. Mengingat dan memahami berada di bagian bawah, sedangkan menganalisis, mengevaluasi, dan mencipta berada di puncak. Gambar ini membantu menjelaskan tingkat proses kognitif, tetapi dapat menimbulkan kesan bahwa hafalan adalah kemampuan rendah yang sebaiknya segera ditinggalkan. Padahal, seseorang tidak mungkin menganalisis sesuatu yang tidak ia ketahui, dan tidak mungkin mencipta tanpa bahan pengetahuan yang cukup.

Dalam praktik pendidikan pesantren, tahapan berpikir lebih tepat dipahami sebagai rangkaian horizontal. Mengingat, memahami, menerapkan, menganalisis, mengevaluasi, mengambil keputusan, dan mencipta saling menyambung. Ia mirip perjalanan melalui lampu lalu lintas. Tahap merah bukan berhenti dari berpikir, melainkan mengumpulkan, mengingat, dan memahami informasi. Tahap kuning menjadi ruang untuk berhati-hati: menganalisis, menilai, membandingkan, dan mengambil keputusan. Tahap hijau menggerakkan seseorang untuk mencipta, berinovasi, mengembangkan, lalu menghasilkan sesuatu.

Dengan cara pandang ini, hafalan bukan lawan kreativitas. Hafalan adalah persediaan bahan baku, sedangkan kreativitas adalah kemampuan mengolahnya menjadi jawaban, tindakan, atau karya baru. Masalah pendidikan bukan terletak pada adanya hafalan, melainkan ketika proses belajar berhenti di sana.

Dari pidato sampai mengelola asrama

Lingkungan bahasa di pesantren memberi contoh yang mudah dilihat. Bahasa Arab dan Inggris tidak hanya dipelajari melalui tata bahasa. Keduanya dipakai dalam percakapan harian, latihan pidato, majalah dinding, drama, pembacaan puisi, dan berbagai perlombaan. Ketika menyiapkan pidato, santri harus memilih tema, mencari bahan, menyusun argumen, menimbang kata, berlatih menyampaikan, lalu membaca reaksi pendengar. Dalam satu kegiatan, pengetahuan, analisis, keputusan, komunikasi, dan kreasi bekerja sekaligus.

Pertunjukan drama bahkan lebih kompleks. Santri menentukan gagasan, menulis skenario, membagi peran, menyusun jadwal latihan, menyiapkan kostum dan panggung, menyelesaikan konflik antarpemain, mengevaluasi latihan, lalu mempertanggungjawabkan hasilnya di depan penonton. Jika HOTS dimaknai sebagai kemampuan menghadapi persoalan yang tidak seluruh jawabannya tersedia sejak awal, kegiatan semacam ini jelas merupakan laboratorium berpikir tingkat tinggi.

Hal yang sama tampak dalam praktik mengajar bagi santri kelas akhir. Mereka tidak hanya mempelajari teori pendidikan. Seorang santri menyiapkan pelajaran, mengajar di depan kelas, diamati oleh teman dan pembimbing, lalu mengikuti forum evaluasi. Para pengamat harus mencatat kekurangan beserta alasan dan buktinya. Kritik kemudian dibahas dan dinilai bersama. Di sini, berpikir kritis tidak diajarkan sebagai slogan, tetapi dipraktikkan dalam suasana yang menuntut keberanian sekaligus adab.

Organisasi santri menyediakan medan yang lebih luas lagi. Pengurus asrama, organisasi pelajar, kegiatan pramuka, olahraga, seni, dan keterampilan berhadapan dengan manusia nyata yang berbeda watak dan latar belakang. Mereka menyusun program, membagi pekerjaan, menjaga disiplin, menilai pelaksanaan, menentukan penghargaan atau sanksi, dan menyelesaikan masalah yang sering muncul tanpa pemberitahuan. Soal semacam ini tidak memiliki satu kunci jawaban di belakang buku.

Kekuatan pendidikan 24 jam

Keunggulan pesantren terletak pada kesinambungan antara pengetahuan dan pengalaman. Sekolah biasa sering kesulitan menyediakan waktu untuk membawa pelajaran keluar dari ruang kelas. Pesantren justru memiliki ruang pendidikan yang berlangsung hampir sepanjang hari. Teori bahasa menemukan tempat praktiknya. Pelajaran kepemimpinan memperoleh arena organisasinya. Nilai kedisiplinan diuji dalam kebiasaan. Pengetahuan agama berjumpa dengan ibadah dan kehidupan sosial.

Di sinilah peran kiai dan guru menjadi penting. Pendidikan tidak hanya bergerak melalui perintah, tetapi melalui keteladanan, nasihat, pengawasan, dialog, dan koreksi. Banyak alumni mengingat bukan hanya materi pelajaran, melainkan cara kiai mengambil keputusan, memperlakukan orang lain, menghadapi masalah, dan menjaga nilai. Keteladanan menyediakan contoh hidup tentang bagaimana pengetahuan diterjemahkan menjadi sikap.

Tentu kita tidak perlu meromantisasi pesantren. Tidak setiap kegiatan otomatis melahirkan daya pikir. Kesibukan tanpa tujuan hanya menghasilkan kelelahan. Organisasi tanpa ruang evaluasi dapat berubah menjadi rutinitas. Disiplin tanpa dialog dapat mematikan inisiatif. Karena itu, kekuatan pesantren baru bekerja apabila aktivitas dirancang dengan tujuan pendidikan yang jelas, disertai pembimbingan, tanggung jawab yang nyata, kesempatan mencoba, dan evaluasi yang jujur.

Pelajaran untuk pendidikan nasional

Pengalaman pesantren memberi koreksi penting terhadap penerapan HOTS di sekolah. HOTS tidak cukup dimasukkan ke dalam kata kerja operasional pada rencana pembelajaran, lalu diukur melalui soal yang sengaja dibuat sulit. Berpikir tingkat tinggi memerlukan ekosistem yang mempertemukan pengetahuan dengan persoalan, keputusan, tindakan, dan akibat nyata.

Setidaknya ada empat pelajaran yang dapat dibawa ke ruang pendidikan yang lebih luas:

  • Pertama, satukan pelajaran di kelas dengan kegiatan di luar kelas agar pengetahuan memperoleh ruang penerapan.
  • Kedua, tempatkan peserta didik sebagai pelaku yang ikut merancang, melaksanakan, dan mengevaluasi kegiatan, bukan hanya sebagai penerima instruksi.
  • Ketiga, hadirkan guru sebagai pembimbing dan teladan yang memberi umpan balik, bukan sekadar penyampai materi.
  • Keempat, berikan proyek nyata yang menuntut kerja sama, keputusan, kreativitas, dan pertanggungjawaban.

Pada akhirnya, pendidikan berpikir bukan semata-mata urusan menaikkan tingkat kesulitan soal. Ia adalah usaha membentuk manusia yang sanggup memahami kenyataan, menimbang pilihan, mengambil keputusan, menciptakan jalan keluar, dan bertanggung jawab atas tindakannya. Pesantren modern telah lama menyediakan banyak unsur untuk proses tersebut, meskipun tidak selalu menyebutnya dengan istilah HOTS.

Karena itu, kita tidak perlu terburu-buru mencari semua pembaruan pendidikan dari luar. Teori modern tetap berguna untuk membaca, mengukur, dan memperbaiki praktik. Namun, praktik pendidikan kita sendiri juga layak dirumuskan menjadi pengetahuan. Pesantren bukan hanya tempat anak menghafal jawaban. Dalam bentuknya yang dirancang dengan baik, ia adalah ruang tempat anak belajar memikul akibat dari jawabannya.

M. Tata Taufik adalah penulis dan peneliti pendidikan pesantren serta komunikasi Islam.

Tags: HOTS Pedidikan Pesantren

Post navigation

❮ Previous Post: Landasan Paradigmatik dan Epistemologis Komunikasi Pendidikan Islam
Next Post: The Expensive Warung: How Commercialism Is Changing Indonesian Hospitality ❯

You may also like

Artikel
Kepala Sekolah Yang Wirausahawan
March 13, 2022
Artikel
Majelis Masyayikh, Menag & Regulasinya
January 7, 2022
Artikel
Nabi Muhammad SAW
December 31, 2020
All abaut Education
Menjelang GIHES 2026: Dari Hidden Curriculum ke Holistic Curriculum
September 5, 2026

Recent Posts

  • Kurikulum Holistik: Dari Model Tokkatsu, Child to Child Pedagogy, Hingga Pesantren
  • Ahead of GIHES 2026: From the Hidden Curriculum to a Holistic Curriculum
  • Kami Alihkan Pesawatnya ke Surabaya
  • Menjelang GIHES 2026: Dari Hidden Curriculum ke Holistic Curriculum
  • The Expensive Warung: How Commercialism Is Changing Indonesian Hospitality

Archives

Memes

Categories

Quotes

Kalender

October 2026
M T W T F S S
 1234
567891011
12131415161718
19202122232425
262728293031  
« Sep    

Memes

Link

  • PP Al-Ikhlash
  • Al-Ikhlash Institute
  • P2i

https://www.youtube.com/c/TataTaufik

Copyright © 2026 mtatataufik.id.

Theme: Oceanly Green by ScriptsTown