AJARAN ISLAM SEBAGAI INSPIRASI PRILAKU HIDUP SEHAT

Print Friendly, PDF & Email

Secara historis Rasul SAW diutus kepada bangsa Arab yang hidup di tanah yang tandus dan terjal. Bagi mereka yang hidup di padang pasir, air adalah masalah utama bagi mereka. Penguasaan atas sumur dan kantong-kantong air pada saat itu merupakan masalah politik dan kekuasaan. Siapa yang paling kuat, merekalah yang menguasai sumur atau sumber air. Ada pepatah Arab mengatakan “mengisi air harus dengan air” menunjukkan bahwa air merupakan permasalahan besar dan pokok bagi kehidupan mereka. Pepatah tadi juga mencerminkan bahwa untuk mendapatkan air mereka harus membekali diri dengan air, yang berarti betapa susah untuk mendapatkannya.

Kalau diteliti secara cermat mengapa ajaran Islam secara detail membahas masalah bersuci? Secara sederhana bisa dijawab bahwa kehidupan gurun pasir saat itu menuntut upaya revolusi budaya. Budaya hidup dari kondisi padang pasir pada kondisi kehidupan yang maju dan menetap. Ciri kehidupan maju adalah budaya hidup sehat di kalangan anggota masyarakatnya.

Dalam Islam revolusi budaya hidup tersebut dirancang dari masalah yang sangat pribadi dan merupakan kebutuhan pribadi sampai pada masalah sosial.  Pertama masalah bersuci, mandi, wudlu dan istinja, bermula dari syarat minimum dalam bersuci sampai pada kesempurnaan bersuci. Kemudian yang berhubungan dengan aspek sosial, dibahas dalam adab (tata cara) buang air besar maupun buang air kecil. Sebagai contoh, Rasul SAW dalam suatu sabdanya menyatakan:

إذا بال أحدكم فلينتر ذكره ثلاث مرات

“jika seseorang buang air kecil hendaknya ia mengurut-ngurut kemaluannya tiga kali” (HR. Ibnu Majah). Melalui hadits tersebut Rasul SAW mengajarkan kebersihan dan kehati-hatian dalam bersuci, supaya tidak ada sisa air kencing yang bisa menjadi penyakit.

Kedua masalah menyiikat gigi, membersihkan gigi (menyikat gigi) dianjurkan oleh Rasul SAW setiap hendak melaksanakan shalat (anjuran ini kemudian menjdai tradisi sunah bersiwak sebelum shalat). Sabda belau berkenaan dengan ini:

لولا أن أشق على أمتى لأمرتهم بالسواك مع كل وضوء

“andaikan tidak menyulitkan ummatku, pasti akan kusuruh mereka bersiwak (menyikat gigi) setiap mereka berwudlu.” HR. Malik, Ahmad dan Nasâ’i.

 

Ketiga masalah peradaban yang berhubungan dengan WC, Rasul SAW bersabda:

 

من أتى الغائط فليستتر  . رواه أبو داود

“Barang siapa akan berbuang hajat maka hendaklah mengambil sitar (yang bisa menghalangi dirinya dari penglihatan orang lain). HR. Abu Daud.

Secara peradaban bisa dilihat bahwa hadits tersebut mengandung makna pembuatan tabir untuk buang hajat, dalam peradaban manusia kemudian berkembang dari masa ke masa sesuai dengan kemajuan teknologi, pembuatan WC atau jamban, mulai dari yang sederhana sampai yang mewah.  Secara filosofis, ide dasar pembuatan ruangan khusus untuk WC atau jamban adalah hadits tersebut.

Dari sini jelaslah bahwa ajaran-ajaran yang ada dalam praktek peribadahan Islam merupakan arahan dan bimbingan bagi setiap pribadi muslim untuk berprilaku hidup sehat. cinta kesehatan, menyadari, mengamalkan dan mengajarkan hidup sehat untuk dirinya pribadi, keluarga dan masyarakat yang ada sekelilingnya.

Walaupun demikian tidak berarti setiap muslim secara otomatis bisa berprilaku sehat, kenyataannya, ajaran bahwa “kebersihan sebagian dari pada iman” belum bisa menjamin kebersihan di WC atau kamar mandi mesjid. Slogan tentang kebersihan masih terus tertera dan bahkan ditulis di lokasi-lokasi yang menuntut kebersihan, seperti MCK yang banyak tersedia di berbagai lokasi, serta menjadi salah satu bagian kelengkapan mesjid atau muhala, madrasah maupun pesantren. Seorang kolega menyatakan bahwa “untuk kencing di negara-negara Barat harus bayar mahal, tapi toiletnya bersih, sedangkan yang gratis seperti di Saudi Arabia, toiletnya kotor.”

Realitas ini menjadi dasar bahwa dalam mengomunikasikan ajaran Islam diperlukan wawasan kesehatan. Artinya bahwa paradigma kesehatan bisa dipakai dalam memberikan informasi-informasi keislaman. Sehingga tidak ada kesenjangan antara kemuliaan ajaran dengan prilaku kehidupan sehari-hari dari sudut kesehatan. Paradigma ini sama sekali tidak menafikan paradigma fiqhiyah yang smentara ini berlaku dalam berbagai praktek pengajaran dan informasi keagamaan. Justru sebaliknya akan memberikan nilai lebih bagi bagi makna ajaran dan sangat fungsional dalam memahami Islam sebagai pedoman dan panduan bagi kehidupan manusia baik kehidupan secara pribadi maupun kehidupan kelompok.

Dalam konteks madrasah (pendidikan) permasalahan mendasar yang ditemui dalam segi kesehatan adalah sebagai berikut:

 

  1. Perilaku hidup bersih dan sehat belum mencapai tingkat yang diharapkan, disampingkan itu ancaman penyakit terhadap peserta didik masih tinggi seperti adanya penyakit endemis dan kekurangan gizi.

 

  1. Masalah-masalah kesehatan peserta didik dan lingkungan yang masih memprihatinkan, seperti:
    1. Sanitasi dasar yang memenuhi syarat kesehatan;
  • Jamban; dan
  • Air bersih.

Masih belum merata baik secara kuantitas maupun kualitas di seluruh sekolah dan madrasah di Indonesia.

  1. Meningkatnya pecandu narkoba dikalangan peserta didik, serta kecenderungan perokok, pada anak dan remaja yang meningkat sehingga untuk itu diperlukan upaya-upaya:
  • Pendekatan kesehatan dalam mongomunikasikan hukum halal dan haram serta makruh dalam ajaran Islam.
  • Pengawasan yang ketat, bila perlu dilakukan “sweeping” secara berkala.
  • Melibatkan peran orang tua / Komite Sekolah, Pengurus OSIS, PMR dan kader kesehatan Remaja ( KKR).
    1. Masalah-masalah Kesehatan Reproduksi
  • Kehamilan remaja dan
  • Infeksi Menular Seksual (IMS), termasuk HIV/AIDS.

Pertmasalahan tersebut perlu ditangani dengan menggunakan pendekatan agama, dengan kata lain penyajian ajaran agama dengan menggunakan (mengikut sertakan) pendekatan kesehatan. Dalam Islam sudah mulai dikembangkan kajian tentang himkah tasyr´î  yakni upaya memahami hikmah (fungsi/peran/manfaat) dari diperintahkannya suatu ajaran atau syariat. Dalam kaitan ini upaya pengenalan ajaran agama atau amaliah peribadahan tersebut dilihat segi manfaatnya dari sudut kesehatan.

Prinsip dasar dari paradigma ini adalah firman Allah SWT yang menyatakan bahwa Allah SWT tidak menciptakan sesuatu kecuali memiliki manfaat QS. 3:191. Suatu kesadaran tinggi atas semua ciptaan Allah yang bisa dicapai oleh ulul al-bâb (kelompok manusia yang beriman dan mau menghayati dan memahami berbagai ciptaan Allah).

 

الَّذِينَ يَذْكُرُونَ اللَّهَ قِيَامًا وَقُعُودًا وَعَلَى جُنُوبِهِمْ وَيَتَفَكَّرُونَ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالأَرْضِ رَبَّنَا مَا خَلَقْتَ هَذَا بَاطِلًا سُبْحَانَكَ فَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

“(yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): “Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka.” QS. 3:191.

 

Prinsip ini juga tertera dalam ayat surat lain yang merupakan pernyataan Allah SWT bahwa penciptaan langit dan bumi serta seisinya tidaklah main-main, yaitu surat 21: 16 dan surat 44 ayat 38.

 

وَمَا خَلَقْنَا السَّمَاءَ وَالأَرْضَ وَمَا بَيْنَهُمَا لاعِبِينَ

“Dan tidaklah Kami ciptakan Iangit dan bumi dan segala yang ada di antara keduanya dengan bermain-main.” QS.21:16.

 

وَمَا خَلَقْنَا السَّمَاوَاتِ وَالأَرْضَ وَمَا بَيْنَهُمَا لاعِبِينَ

”Dan Kami tidak menciptakan langit dan bumi dan apa yang ada antara keduanya dengan bermain-main.” QS.44:38.

            Metodologi yang dipakai dalam pemahaman ini menggunakan metodologi tafsir sosial (Tafsir Ijtima’i) yang mulai dikembangkan sejak abad 20 M oleh Muhammad Abduh 1849-1905, Sayyid Qutub 1940-1966, dan tafsir tematik (mawdlu’i). Berbagai pencapaian pengetahuan yang dihasilkan peradaban manusia dipakai untuk memahami rahasia-rahasia ajaran Islam yang termaktub dalam al-Qur’an dan al-Hadits, dengan tetap memperhatikan berbagai pendapat ulama terdahulu dalam memahami teks ayat atau hadits. Metode maqhâshid al-syarîah (memahami ajaran syariat dengan melihat maksud syariat itu diperintahkan) juga bisa dipakai dalam menganalisis semangat yang terkandung dalam ajaran Islam selain berbagai qaidah fiqhiyah dan ushuliyah dalam memahami ajaran Islam.