خالف تعرف (khālif tu’raf )

Print Friendly, PDF & Email

Dalam khazanah kesusastraan Arab dikenal istilah matsal, maksudnya perkataan yang menyebar penggunaannya melalui cerita di masyarakat, dan digunakan untuk menyamakan suatu keadaan atau kondisi atau kejadian yang terjadi dengan perkataan/ungkapan tersebut dipakai pertama kalinya (sesuai cerita).  Bisa dalam bentuk perkataan yang dinisbahkan kepada binatang atau manusia. Dalam Bahasa Indonesia dikenal istilah farabel yang kisahnya dinisbahkan kepada manusia atau fabel yang dinisbahkan kepada binatang atau tumbuh-tumbuhan, ada juga istilah metafora.

Konon ada seorang penyair Arab bernama Abu Mulaikah Jarwal Bin Aus Bin Malik al-Abasi yang dikenal dengan julukan Al-Huthai’ah, ia hidup masa Jahiliyah dan masuk Islam pada masa Khalifah Abu Bakar. Latar belakangnya tidak begitu menggembirakan karena tidak dikenal keturunan  dari siapa dan dari kabilah mana. Lahir dari seorang sahaya permpuan, karenanya dia sering dicemooh dan diejek.  Untuk mencari penghidupannya dia terpaksa harus membuat syair, dan syair tersebut dia memilih genre tersendiri dalam Bahasa rab disebut al-Hajā’ suatu genre syair yang kontennya mencemooh atau mengejek orang (ngenye). Pemilihan genre tersebut sebagai refleksi dari masa lalunya dan kondisi sosialnya.

Dikisahkan pada suatu saat Al-Huthai’ah mengunjungi kota Kufah, saat ia bertemu seseorang ia menanyakan: “bisakah kamu tunjukkan seorang mufti (pemberi fatwa) yang pendapatnya jitu di kota ini?” Orang itu menjawab: “kamu temui seorang bernama Utaibah.” Lalu ia mendatangi rumahnya kemudian ketemu dengannya, seraya bertanya: “apakah kamu Utaibah?” “Bukan” jawabnya, lalau ia bertanya lagi “kamu Itāb (Tercela) jika namamu mirip dengan ungkapan itu?” “Ya, nama saya Utaibah” jawabnya.

Kemudian Utaibah menanyakan “ siapa namamu?”  Namaku Jarwal Abu Malaikiyah,”  Utaibah tidak mengenalnya, lalu dia katakan “saya Al-Huthai’ah”  baru dia mengenalnya dan menyambutnya. Kemudian Al-Huthai’ah menanyakan siapa sebetulnya penyair yang paling popular? “Engkaulah penyair paling popular,” jawabnya. Lalu   Huthai’ah mengatakan: “خالف تذكر”  (berbedalah pasti akan dikenang), bahkan bagi saya, lanjutnya, penyair  popular itu yang membuat syair ini:

ومن يجعل المعروف من دون عرضه يفره، ومن لا يتق الشتم يشتم

ومن يك ذا فضل فيبخل بفضله على قومه يُستغنى عنه ويذمم

Siapa yang berbuat kebaikan tanpa dibarengi harga dirinya, sama dengan menghilangkan kemuliaannya, siapa yang tidak waspada terhadap hinaan, akan dihina, dan siapa yang memiliki kelebihan lalu ia pelit atas kelebihannya itu, maka ia akan dicampakkan oleh kaumnya dan akan dihina.

Yang mengucapkan syair ini adalah Zuhair bin Abi Salma, beberapa bait kutipan dari syair Zuhair yang digantungkan di Ka’bah pada masa Jahiliyah karena posisinya yang masuk dalam Top Ten karya para penyair masa Jahiliyah. Tradisi menggantungkan 10 Syair terbaik di Ka’bah pada masa itu merupakan ajang adu prestasi para pujangga dengan sebutan Mu’alaqāt (yang digantungkan) dan gelar penyairnya disebut Shāhib Mualaqāt.

Inilah asal mula cerita perumpamaan خالف تعرف yang merupakan perubahan dari pernyataan al-Hathi’ah خالف تذكر (khālif tudzkar) artinya berbedalah pasti akan dikenang, kemudian berubah menjadi khālif tu’raf artinya berbedalah pasti akan dikenal.

Perumpamaan ini digunakan ketika melihat seseorang yang “ingin berbeda” dengan menyampaikan ide atau gagasan yang beda dari pendapat umum saat itu.  Di Indonesia almarhum Cak Nur sering mengungkapkan kata ini jika beliau ceramah di kalangan santri. Dan sekarang menjadi gaya para santri tatkala mereka menemukan sesuatu yang berbeda dari kawan-kawannya. Bahkan lebih dari itu seakan menjadi metode yang sering dipakai untuk mengenalkan diri; mempopulerkan diri. Ya, harus berani berbeda supaya dikenang dan dikenal.