Tidak Semua Yang Kau Inginkan Bisa Tercapai

Print Friendly, PDF & Email

Status Fb 1 Desember 2018

  1. Untuk putra-putriku: tidak semua yang kau inginkan bisa tercapai, tapi bukan berarti tidak baik…

Pada suatu pagi putra saya minta izin ke Jakarta untuk memperkuat tim futsal mahasiswa Malaysia dalam turnamen IKPM Gontor, karena baru tiba dari perjalanan jauh, juga karena tugas-tugas di pondok yang harus diemban, tidak saya izinkan. Tindakan tidak memberi izin itu berat juga saya rasakan, karena telah membuat putra saya kecewa, walaupun ia tetap mematuhinya. Sebagai rasionalisasi dari kekecewaan itu, juga mengajarkan bagaimana cara menerima kekecewaan karena tidak mendapatkan yang diinginkan, tiba-tiba terpikirlah untuk menulis status pertama saya: untuk putra-putriku:

tidak semua yang kau inginkan bisa tercapai, tapi bukan berarti tidak baik….

Melalui pernyataan ini penulis hendak menyampaikan bahwa ada banyak kegiatan atau tindakan yang dilakukan berdasarkan keinginan, bukan berdasarkan kebutuhan atau keharusan. Kalau dibuatkan rangkingnya, suatu tindakan dilakukan berdasarkan pada keinginan itu mungkin berada pada rangking pertama, disusul selanjutnya karena dasar kebutuhan alamiah manusia seperti makan minum, tidur dan lainnya, lalu karena pengaruh perilaku sosial, serta terakhir karena keharusan; keharusan agama atau keharusan norma dan perundangan. Ini jika disusun berdasarkan pendekatan sifat manusiawi yang lebih mengedepankan pemenuhan hawa nafsu.

Dalam konteks ini digunakan kata “keinginan” untuk makna hawa nafsu –yang sementara ini jarang diterjemahkan—karena bila dilihat dalam kenyataan sehari-hari nafsu lebih merupakan gejolak-gejolak hasrat atau kemauan yang lebih terhadap pencapaian sesuatu yang bersifat spontan atau respons terhadap sesuatu tanpa melalui perencanaan dan pemikiran yang lebih matang,  itu lebih cenderung karena dorongan-dorongan nafsu kemanusiaan.

Nafsu bagaikan bayi, bila kau biarkan akan tetap menyusu. Namun bila kau sapih, maka ia akan berhenti dengan sendirinya (al-Bushiri).

Menahan keinginan juga disarankan oleh al-Qur’an  dalam dua kesempatan dengan konteks yang berbeda, pertama surat al-Baqarah ayat 216, berkenaan dengan perintah untuk perang walaupun itu secara umum kurang disukai:

boleh jadi kamu tidak menyukai sesuatu tapi itu baik bagimu, dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu dan itu tidak baik bagimu, Allah Maha Mengetahui apa yang kalian tidak ketahui. (QS.2 : 216).

Kedua surat an-Nisa ayat 19, konteksnya tetntang perempuan, jangan mudah-mudah menceraikan istri karena kekurangan mereka:

Bisa jadi dalam sesuatu yang tidak kalian senangi Allah memberikan kebaikan yang banyak (QS.4:19).

Kedua ayat itu mengajarkan seni hidup, bagaimana menerima kenyataan, ada saat mendapatkan dan ada saat tidak mendapatkan sesuatu, tapi dalam kesemuanya itu ada hikmah. Tidak semua keinginan harus terpenuhi, serta ketika tidak terpenuhi mesti diyakini ada kebaikan di dalamnya.