mtatataufik.id

media berbagi dan silaturahmi

Pengantar

Print Friendly, PDF & Email

Yang tidak boleh luput dari orang tua adalah senantiasa memperhatikan dan membimbing putra-putrinya, satu dua kata berupa nasehat dan wejangan atau sekedar perhatian berupa sapaan dan apresiasi atas pencapaian mereka kadang terlupakan. Padahal sekecil apa pun perhatian tersebut dibutuhkan oleh putra-putrinya. Berbagai kesibukan kadang membuat  orang tua lupa akan sentuhan-sentuhan kecil yang dibutuhkan tersebut.

Pengalaman pribadi penulis pada akhir tahun 2018 an menunjukkan betapa pentingnya kontak antara orang tua dan putranya, suatu saat putra penulis nomor 5 melalui kakak-kakaknya menyampaikan pesan bahwa ia ingin ditelepon oleh bapak. Keberadaannya yang jauh sementara ini hanya dipantau melalui chattingan di Wa melalui group family, kalau sudah lihat status atau updatenya penulis sebagai bapaknya sudah merasa bahwa sudah mengetahui kondisinya, tanpa harus menelepon atau menghubunginya secara pribadi. Namun rupanya hal tersebut tidak cukup dirasakan oleh sang anak.

Maka terpikir oleh penulis untuk menyampaikan pesan-pesan yang disampaikan secara masif melalui media sosial –untuk jaga-jaga kalau lupa mengontak putra-putri penulis—supaya mereka bisa tetap mendapatkan pesan-pesan dari orang tuanya walau pun terhalang jarak yang jauh. Sehingga dalam waktu bersamaan mereka bisa mendapatkan pesan-pesan tersebut.

Alasan lain karena melalui pesan-pesan tertulis biasanya lebih terarah dan lebih merupakan hasil pemikiran dengan asumsi bahwa para putra-putri penulis membutuhkan hal tersebut, atau harapan kuat bahwa mereka harus dibekali – lebih tepatnya mereka harus tahu beberapa hal yang menurut penulis perlu bagi kehidupan mereka.

Berikutnya sebagai respons atas penerimaan mereka –putra-putri penulis—terhadap berbagai status atau update yang mereka simpan di ponsel mereka dalam bentuk screenshot dengan judul My Father say:… hal ini menambah semangat penulis untuk membagi pesan-pesan pendidikan melalui media sosial. Kemudian pada gilirannya ternyata respons itu menjadi meluas, putra-putriku yang selalu ditulis di awal status Fb tersebut direspons juga –dan pemberi respons merasa pesan itu untuk mereka juga—oleh para alumni pesantren Al-Ikhlash Ciawilor Kuningan.

Serta di akhir dari 99 status bertemakan untuk putra-putriku yang ditulis dalam rentangan waktu dari 1 Desember 2018 hingga 1 Februari 2019 itu ada yang mengusulkan agar diberikan penjelasan tambahan dan dibukukan.

Menjawab permintaan tersebut penulis coba susun 99 status tersebut dalam bentuk buku dengan harapan minimal putra-putri penulis dapat mengambil manfaat sebagai bentuk pesan dan nasehat dari orang tuanya, harapan lebih luas semoga untuk para santri dan alumni Al-Ikhlash serta masyarakat umum bisa mengambil manfaat dari buku ini. Adapun angka 99 sengaja dipilih untuk mengingat nama-nama Allah yang 99. Dalam penyusunannya supaya lebih “berbicara” maka kalimat “untuk putra-putriku” selalu diterakan mengawali semua status.

Comments are Closed