Rumah

Print Friendly, PDF & Email

Rumah adalah bangunan untuk tempat tinggal, demikian KBBI memberikan pengertian rumah, home, yang diartikan sebagai bangunan atau flat untuk tempat tinggal bersama keluarga, ada juga house bangunan tempat tinggal bagi masyarakat, bahasa Arab ada beberapa kosa kata, bait, manzil, maskan dan  dār yang artinya juga tempat tinggal. Cuma  kata  dār kadang lebih luas maknanya, bisa berarti kampung.

Kata rumah digabung dengan tangga menjadi rumah tangga, artinya yang berkenaan dengan urusan kehidupan dalam rumah, atau berkenaan dengan keluarga. Berumah tangga artinya berkeluarga. Kata tangga sendiri berarti tumpuan untuk naik turun, alat untuk tumpuan memanjat. Maka tidak heran kalau rumah lebih menunjuk kepada tempat tinggal untuk keluarga.

Di belahan bumi Indonesia tempo dulu rumah-rumah biasanya dibuat tinggi-tinggi sehingga membutuhkan tangga untuk mencapainya. Alasannya untuk menghindari binatang buas dan ternyata sekarang bisa juga untuk menghindari air banjir. Mungkin ini asal mula  kenapa kalau berkeluarga disebut berumah tangga, karena tangga merupakan kelengkapan untuk mencapai rumah, dengan kata lain mencapai rumah dalam berkeluarga mesti meniti tumpuan berupa anak tangga.

Sebagai tempat berkumpulnya keluarga tentu saja rumah berfungsi selain sebagai tempat tinggal bersama dan berteduh dari  terik matahari serta air hujan, tempat menginap dan bercengkerama sesama anggota keluarga, tempat membesarkan anak-anak dan pewarisan berbagai budaya dan keyakinan secara turun-menurun. Tata krama dan beberapa aturan yang bertangga (berjenjang) juga dikenalkan lebih dini di rumah, boleh dan tidak boleh, baik dalam bertutur kata, makan minum, dan berperilaku juga mestinya dikenalkan juga di dalam rumah sebagai tempat pewarisan budaya antar generasi.  Kepribadian baik akan muncul dari rumah yang tertata baik dari segi aturan atau norma, serta disiplin, bukan dari arsitektur rumah semata.

Sebagai makhluk pencinta keindahan, manusia biasa menghiasi rumahnya dengan berbagai aksesoris –kadang dengan harga sangat mahal—untuk menciptakan kenyamanan dan ketenangan serta sekedar menikmati karya-karya para seniman, ada banyak tujuan mungkin bisa dijadikan latar kenapa manusia suka menghiasi rumahnya. Tapi ada juga yang bisa dijadikan dasar dan lebih maknawi dalam menghias rumah, boleh jadi tidak begitu mahal harganya. Kalau hiasan berupa benda biasanya menuntut harga, sedangkan hiasan berupa makna biasanya sangat murah. Hiasan berupa makna yang dimaksud adalah membangun tradisi penghuni rumah dengan beberapa tradisi bermakna dan sangat berperan nantinya dalam pembentukan kepribadian mereka.

Beberapa pelajaran disebutkan dalam al-Qur’an seperti kandungan surat an-Nur (dalam banyak ayat  mulai dari awalnya) , Al-Ahzab 70 dan 71, surat Luqman ayat 12 sd 19, surat al-Hujurat dalam seluruh kandungannya. Ayat-ayat dalam surat tersebut banyak mengajarkan tata krama dan aturan moral yang baik dibangun dalam rumah tangga.

Dalam konteks tradisi, baik juga diungkapkan bagaimana Rasulullah SAW misalnya membuat tradisi membaca al-Qur’an di malam hari di rumahnya. Tradisi itu diikuti pula oleh  para sahabat, bagaimana mereka mengajarkan al-Qur’an kepada keluarganya di malam hari. Dikisahkan bahwa jika malam hari melewati rumah para sahabat, mereka akan mendengarkan gemuruh suara bacaan al-Qur’an sebagaimana gemuruh suara lebah.

Diriwayatkan oleh Imam Bukhari dari Abu Musa Al-Asy’ari bahwa Rasulullah SAW bersabda kepadanya: Jika engkau melihatku tadi malam, dan aku mendengarkan bacaanmu?  Engkau sudah diberi keindahan suara seperti keindahan suara (seruling) nabi Daud as. dan banyak riwayat lain menceritakan bagaimana para sahabat menghiasi rumah-rumah mereka dengan bacaan al-Qur’an.

Selain itu rumah juga dihiasi dengan mendirikan shalat (dianjurkan shalat sunah dilakukan di rumah dan shalat fardu di mesjid). Dalam hadis yang diriwayatkan Imam Muslim, Rasulullah SAW bersabda: “Jadikanlah sebagian shalatmu di rumahmu, dan jangan jadikan rumahmu seperti kuburan.” Dalam riwayat Muslim yang lain disebutkan bahwa Rasulullah SAW bersabda: “Jika kalian selesai menjalankan shalat di mesjid, maka hendaknya ada juga shalat untuk di rumah kalian, karena Allah akan menjadikan kebaikan bagi rumah tersebut dari shalatnya itu.”

Menjelaskan hal tersebut para ulama menyatakan bahwa shalat fardu dilakukan di mesjid dan shalat sunah di rumah, sebagai upaya untuk memakmurkan rumah; dengan berdzikir kepada Allah, sehingga rumahnya dikelilingi malaikat, maka keberkahan akan terlimpahkan kepada rumah dan penghuninya. Semoga rumah kita berkah.