Masih Perlu Tafaquh Fi Din

Print Friendly, PDF & Email

Pesantren adalaha garda terdepan dalam meningkatkan identitas Islam dan kebangsaan. Demikian ungkap menteri  agama Fachul Razi pada pembukaan Lomba Dakwah Haji di Pesantren Darunnajah Jakarta 7 Maret 2020 lalu.

Sampai saat ini lembaga yang menurut Kemenag berjumlah 28.000 itu masih merupakan lembaga pendidikan pilihan bagi sebagian kecil anak bangsa, jumlah santri yang diklaim sebanyak 5 juta santri belum seberapa jika dibandingkan dengan jumlah usia belajar (usia 7-20 th) pada pendidikan dasar dan menengah yang mencapai sekitar 45 juta orang. Ini mencerminkan bahwa pada fase berikutnya, setiap 1 orang  santri berhadapan dengan 200 orang dalam hal pembinaan kehidupan keagamaan khususnya. Jumlah yang cukup besar dari segi rasio pembelajaran,  sementara dalam bahasa pendidikan jumlah ideal rasio guru-murid adalah sekitar 1:20 hingga 1:30.

Dewasa ini jumlah penduduk muslim Indonesia sekitar 205 juta jiwa, 88 % dari jumlah penduduk Indonesia, dengan jumlah ustdaz, kiai dan da’i sekitar 1,2 juta jika dihitung dari jumlah mesjid dan mushola serta pesantren yang berjumlah sekitar 5 ratus ribu lebih dengan asumsi setiap lembaga memiliki 2 ustadz atau kiai. Jumlah tersebut berarti bahwa setiap ustadz memiliki binaan sekitar 172 orang muslim.

Informasi di atas setidaknya mengingatkan betapa perjuangan dalam pembinaan dan pembentukan karakter bangsa dengan identitas keislaman masih membutuhkan peningkatan rasio yang seimbang antara para penganjur keagamaan dengan masyarakat luas. Artinya tafaquh Fi Din perlu semakin digalakkan di kalangan anak bangsa .