mtatataufik.id

media berbagi dan silaturahmi

Berdoa Cermin Keimanan

Print Friendly, PDF & Email

Status FB 4 Desember 2018

5. Untuk Putra-putriku: berdoa itu cerminan dari keimanan, maka biasakan berdoa untuk diri sendiri, orang tua dan orang lain….

Doa adalah permohonan untuk mendapatkan sesuatu, mendapat pertolongan, dan mendapat perlindungan. Permohonan tentu saja diajukan kepada Dzat yang memiliki kelebihan dari diri sang pemohon. Maka permohonan –walaupun kadang diajukan kepada seseorang yang dianggap mampu membantu karena kedudukan dan statusnya secara lahir—tetap harus dipanjatkan dan diajukan kepada sang Maha pemilik segala sesuatu dan penciptanya. Ilustrasinya begini, jika seseorang dikejar anjing galak, maka untuk menghentikannya dia akan meminta pemilik anjing itu agar dapat menghentikannya. Maka demikian juga ketika kita menghadapi permasalahan atau ingin mencapai sesuatu atau ingin terhindar dari sesuatu yang buruk, maka yang kita minta bantuan adalah Allah SWT sebagai pencipta, pemilik dan pemelihara dari segala makhluk yang ada.

Berdoa dikatakan cermin keimanan karena dengan mengajukan permohonan kepada Allah SWT berarti kita percaya atas kekuasaan-Nya, keagungan dan perkenan-Nya dalam mengabulkan semua permohonan kita. Karena sifatnya sebagai cerminan keimanan maka doa itu menjadi ibadah, atau bentuk pengakuan atas keagungan Allah SWT. Sedangkan dari sudut isinya peribadahan yang dilakukan seseorang seperti shalat, tawaf dan lainnya adalah merupakan panjatan doa-doa yang mengisi hampir semua gerakan manasik suatu peribadahan setelah mengakui keagungan Allah SWT.  Peribadahan itu isinya kalau dihayati seacara seksama, pertama tindakan menghadap Allah SWT, kedua pujian kepada Allah, pengakuan atas ketuhanan-Nya dan pengakuan bahwa hanya kepada-Nya kita mohon pertolongan, setiap setelah pengungkapan lafadz-lafadz yang menunjukkan keagungan Allah, senantiasa diikuti dengan permohonan atau doa. Karenanya Rasulullah SAW menyatakan bahwa doa adalah inti dari peribadahan.

Tidaklah sempurna iman seseorang sampai dia bisa turut bahagia jika orang lain bahagia, turut bangga jika orang lain bangga, artinya dia senantiasa berharap jika kebaikan atau prestasi yang didapatkannya bisa juga didapatkan oleh orang lain. Ini adalah sikap sosial yang sangat luar biasa, dikatakan luar biasa karena kebiasaan kita –termasuk penulis—agak sulit menata hati agar bisa berbagi kebahagiaan, berbagi prestasi termasuk berbagi harta. Maka kemampuan untuk berbagi ini (lawannya adalah iri, dengki dan hasad) menjadi tanda kesempurnaan iman.

Oleh karena itu berdoalah –sebagai cermin keimanan dan sebagai bentuk peribadahan—kepada Allah SWT untuk kebaikan, jangan berdoa mengharapkan keburukan baik untuk diri maupun orang lain, karena mengharapkan kebaikan bagi orang lain adalah merupakan tanda kesempurnaan iman. Jangan pelit doa, mulailah berdoa untuk diri sendiri, orang tua dan keluarga lalu untuk orang lain.

Comments are Closed