mtatataufik.id

media berbagi dan silaturahmi

Teruslah Belajar

Print Friendly, PDF & Email

Status FB 1 Desember 2018

2. Untuk putra-putriku: teruslah belajar, karena hidup adalah perjalanan panjang untuk belajar….

Kebetulan pada usia ini putra-putriku semuanya masuk dalam usia sekolah, mereka ada yang sedang belajar di pesantren ada juga yang di perguruan tinggi. Nasihat yang paling tepat bagi mereka adalah agar terus belajar. Melalui status ini penulis ingin menyampaikan salah satu definisi hidup, yakni belajar. Dikatakan salah satu definisi karena boleh jadi ada banyak cara mendefinisikan hidup sesuai kebutuhan atau kondisi seseorang, ada yang mendefinisikan hidup adalah akidah dan perjuangan, hidup adalah pengorbanan, hidup adalah jembatan menuju akhirat, ada yang menyatakan hidup adalah kesederhanaan, kegembiraan dan lain sebagainya.

Berkenaan dengan pengertian hidup adalah belajar banyak sekali diisyaratkan berbagai pepatah di suatu masyarakat, seperti experience is the best teacher, pengalaman adalah guru yang terbaik, hidup adalah sekolahan; pengalaman sebagai pelajarannya dan waktu sebagai gurunya.

Dalam KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia) kata “belajar” berarti; berusaha memperoleh kepandaian atau ilmu; berlatih; berubah tingkah laku atau tanggapan yang disebabkan oleh pengalaman.

Kalau diamati perbuatan manusia sejak dini (bayi) hingga akhir hayatnya tak pernah sepi dari kegiatan yang bernama belajar. Belajar membuka mata, belajar mengungkapkan perasaannya dengan menangis, tertawa dan kemudian dilanjutkan dengan menggerakkan anggota tubuh. Belajar duduk, berdiri lalu berjalan sambil belajar yang lainnya seperti mengenal, memberi nama, memahami bahasa dan mengucapkan simbol bunyi dengan pemahaman makna tertentu.

Aktivitas belajar terus berkembang dari mulai yang sangat sederhana sampai permasalahan yang lebih kompleks dan rumit, dari mulai sekedar mengenal sampai pada menafsirkan dan menduga-duga lalu membuat teori.

Memedomani pengertian belajar secara bahasa di atas, ada tiga hal yang termasuk dalam aktivitas belajar:

Pertama berusaha memperoleh kepandaian atau ilmu. Belajar dalam pengertian ini menunjuk pada kegiatan yang sengaja dilakukan seseorang untuk mencapai suatu kemahiran atau pengetahuan atau ilmu tertentu. Dalam hal ini tentu yang dipelajari hendaknya sesuatu yang sangat bermanfaat untuk diri pribadi dan orang lain. Artinya di sini ada langkah awal untuk memilih kemahiran apa, atau ilmu apa yang akan dipelajari. Para ulama banyak memberikan saran tentang apa yang mesti dipelajari seseorang setelah tercapainya kemahiran-kemahiran dasar yang dibutuhkan dalam kehidupan yang secara turun-temurun diajarkan dalam keluarga seperti pengenalan anggota badan, anggota keluarga, anggota masyarakat, simbol-simbol bunyi dan kosa kata keseharian sampai pada kemampuan membaca, menulis, menghitung, menyimak, menaati dan mengikuti aturan yang berlaku.

Adapun ilmu yang disarankan pertama kali dipelajari adalah ilmu agama. Karena ilmu agamalah yang merupakan kebutuhan utama setiap orang untuk menjaga hubungannya dengan Allah SWT. Tentang keimanan (ilmu tauhid) yang merupakan pengenalan terhadap Allah SWT, kemudian tentang tata cara berinteraksi dengan Allah SWT yang dikenal dengan tata cara beribadah kepada Allah SWT. seperti tata cara shalat yang dibutuhkan setiap orang setiap harinya. Kemudian dilanjutkan dengan pengetahuan yang lebih luas lagi tentang agama sehingga bisa berperan tidak saja untuk diri sendiri tapi mampu memberikan penjelasan keagamaan kepada masyarakat sekelilingnya.

Untuk pengembangan selanjutnya ilmu dan kemahiran lain disesuaikan dengan profesi yang dipilih, jika profesi sebagai guru, maka pelajarilah ilmu keguruan, jika sebagai pedagang pelajarilah ilmu berdagang dan begitu seterusnya. Artinya tetap harus melihat kegunaan dan manfaat dari apa yang dipelajari sesuai dengan minat dan bakat.

Dalam praktiknya mempelajari ilmu agama sebagai suatu kebutuhan pokok untuk bisa menjalankan ajarannya dan membingkai semua kegiatan sehari-hari dengan bingkai keagamaan bisa dilakukan dengan kegiatan berlatih kemahiran-kemahiran lain yang dibutuhkan dalam kehidupan. Seperti belajar atau berlatih mencuci pakaian sendiri, mencuci alat makan dan menjaga kebersihan rumah dengan standar kebersihan tertentu tidak akan mengganggu kegiatan menuntut ilmu agama yang sedang dilaksanakan. Belajar menulis yang baik dan mengetik tidak akan mengganggu proses mempelajari agama secara lebih khusus, ada waktu-waktu yang bisa dilakukan secara tersendiri sebagai sarana berlatih, bahkan dapat menguatkan kegiatan mencari ilmu agama. Berlatih pidato misalkan sejalan dengan kemampuan mengomunikasikan pelajaran agama kepada khalayak.

Kedua, belajar berarti berlatih, di sini menunjuk kepada kemahiran penting yang sangat dibutuhkan oleh seseorang, mungkin pemilihan kemahiran yang dipelajari akan sangat berbeda antara satu orang dengan lainnya. Berlatih memimpin dan mengatur misalnya memerlukan selain teori juga praktik nyata. Demikian juga kemampuan mengomunikasikan sesuatu baik secara lisan maupun tulisan memerlukan latihan yang sungguh-sungguh, sering kali orang memiliki ilmu dan pengetahuan cukup banyak tapi kurang mampu mengomunikasikannya dengan baik, karena antara ilmu dan kemahiran berbeda, yang pertama bisa didapat dengan mendengarkan, membaca  dan bertanya, sedangkan yang kedua memerlukan latihan-latihan dan praktik.

Ingatlah perbedaan antara tahu cara menjahit dan bisa menjahit. Tahu cara menjahit itu pertama memotong kain yang akan dijahit dengan pola tertentu, kemudian memasukkan benang ke jarum mesin jahit, lalu menggerakkan mesin jahit. Sedangkan bisa menjahit itu dapat melakukan semua pengetahuannya tadi dalam praktik dan menghasilkan baju yang dijahitnya. Yang pertama lebih pada pengetahuan dan yang terakhir lebih menunjuk pada keterampilan dan kemahiran.

Ketiga,  berubah tingkah laku atau tanggapan yang disebabkan oleh pengalaman. Model belajar yang berupa respons atas berbagai rangsangan yang di dapat dalam perjalanan hidup; bisa berupa kekecewaan, kebahagiaan, kontak dengan teman, orang tua, anggota masyarakat, pejabat, di kantor di sekolah di tempat umum dan layanan umum. Pendekatannya lebih merupakan pengaruh-memengaruhi satu sama lain. Seseorang bertukar pikiran, atau mengobrol dengan teman, mendapatkan informasi tentang suatu yang baru baginya bisa mendorong yang bersangkutan untuk mengubah tingkah lakunya. Atau seseorang mengalami, merasakan suatu hal yang dialami dalam pergaulannya dengan sesama bisa menyimpulkan dari apa yang dialaminya itu untuk dijadikan pedoman atau pegangan dalam bertingkah laku. Misalkan ketika sedang asyik bercengkerama tiba-tiba ponsel lawan bicaranya berbunyi dengan suara yang keras, lalu ia merasa tidak nyaman karena bunyi tersebut, ditambah lagi dengan pembicaraan teman tersebut dalam menerima panggilan itu dengan suara yang keras pula sehingga ia merasa terganggu karenanya, dan membuyarkan topik pembicaraan, mengalihkan perhatian dan lain sebagainya. Maka ia berkesimpulan bahwa untuk kenyamanan bersama, setelan dering telepon jangan terlalu keras, jika akan menerima panggilan harus minta izin rekan sekeliling dan menjauh dari kerumunan tersebut, bicara dengan sopan dan tidak didengar oleh temannya. Ini merupakan perubahan sikap yang diambil dari pengalaman, dan pada gilirannya akan menjadi “norma” ketika dirasakan perlu sosialisasi sikap tersebut kepada orang banyak untuk menjaga kenyamanan bersama.

Aktivitas belajar dan kemampuan mengambil pelajaran itu tidak terhenti pada satu masa saja, karena berbagai pengalaman dalam perjalanan hidup itu terus bertambah sejalan dengan keluasan pergaulan dan keluasan jangkauan perjalanan, situasi, tempat, aneka ragam budaya serta keragaman manusia yang ditemui, karenanya pandai-pandailah belajar dan mengambil pelajaran. Itulah belajar yang sesungguhnya; tak pernah berhenti.

Untuk putra-putriku renungkanlah beberapa perkataan hikmah dari para ulama berikut ini:

العالم كبير وإن كان حدثا # والجاهل صغير وإن كان شيخا[1]

Orang berilmu itu besar walau dia masih muda usia

Orang bodoh itu kecil walau dia tua usia

تعلم فليس المرء يولد عالما # وليس أخو علم كمن هو جاهل

Belajarlah! karena tidak ada orang terlahir telah berilmu

Dan orang bodoh tidaklah sama dengan orang berilmu

مَنْ لَمْ يَذُقْ ذُلَّ التَّعَلُّمِ سَاعَةً # تَجَرَّعَ ذُلَّ الْجَهْلِ طُوْلَ حَيَاتـِهِ[2]

Siapa belum merasakan susahnya menuntut ilmu barang sesaat

Ia akan menelan pahit getirnya kebodohan sepanjang hayat

وَمَنْ فَاتَهُ التَّعْلِيْمُ وَقْتَ شَبَابِهِ # فَكَبِّرْ عَلَيْهِ أَرْبَعًا لِوَفَاتـِهِ

Siapa yang tidak mendapat pendidikan di masa mudanya

Maka bertakbirlah empat kali atas kematiannya.[3]

حَيَاةُ الْفَتَى وَاللهِ بِالْعِلْمِ وَالتُّقَى # إِذَا لَمْ يَكُوْنَا لَا اعْتِبَارَ لِذَاتـِهِ

Demi Allah! Anak muda dipandang hidup karena ilmu dan ketakwaannya.

Jika keduanya tidak dimilikikeberadaannya tidak akan dihargai.

[1] Dinisbahkan ke Imam Ali Bin Abi Thalib ra, juga ke Ibnu Mu’taz.

[2] Perkataan ini dinisbahkan ke Imam Syafi’i (204 H)

[3] Maksudnya orang yang tidak pernah mendapat pendidikan di masa muda dianggap sebagai orang mati.

Comments are Closed