Skip to content
mtatataufik.id

mtatataufik.id

media berbagi dan silaturahmi

  • Profil
  • Gallery
  • Tafsir Inspiratif III
    • Tafsir Inspiratif I& II
  • Untuk Putra-putriku
  • Buku
  • Artikel
    • Kolom
    • Komunikasi Pendidikan Islam
    • Hikmah
    • Arsip
  • Home
  • Sabar Sebuah Refleksi*

Sabar Sebuah Refleksi*

Posted on April 1, 2020April 16, 2020 By M Tata
Arsip Artikel

Oleh: M. Tata Taufik

 

Sudah menjadi komitmen umum kalau puasa melatih kesabaran, tapi bukan berarti sikap sabar itu suatu yang usang dan nrimo, pemikiran ulang untuk membuahkan suatu sikap sabar yang dinamis dan produktif nampaknya masih perlu digali dan dikembangkan.

Bulan suci Ramadlan yang kita jalani saat ini mungkin bisa dijadikan kesempatan untuk mengenal lebih jauh sikap yang sudah begitu dekat dengan telinga kita tersebut, sikap yang demikian familier dan senantiasa menghiasi “ungkapan” keseharian kita.

Berkenaan dengan sabar dalam konteks puasa kita barangkali bisa diilustrasikan dengan menganalisa praktek berpuasa kita dari tahun ke tahun, ada suatu pase saat berpuasa kita merasa jengah tatkala melihat yang tidak berpuasa, berbagai ungkapan bisa saja terlontar dari mulut kita: ” taktahu diri”, “apa maunya dia?” dan umpatan lainnya, Atau ada satu pase saat puasa kita membangkitkan rasa “keangkuhan” kita, karena perasaan “aku berpuasa dia tidak.” mungkin satu pase lagi bisa membangkitkan sikap “penjagaan” diri kita; dengan ungkapan “saya sedang puasa” hingga mampu menjaga berbagai hal yang dinilai membatalkan puasa atau membuat puasa kita  kurang bermutu, semuanya adalah suatu  sikap yang senantiasa datang silih berganti mewarnai “praktek” berpuasa.

Lalu bagaimana hubungannya dengan latihan kesabaran? Kesabaran itu kalau diteliti banyak macamnya, kesabaran yang bersifat vertikal, dalam hal ini hubungannya dengan pelaksanaan ibadah terhadap Khaliq, dalam kontek ini kesabaran berarti kesabaran dalam menjalankan ibadah dan amalan-amalannya, senantiasa sabar dalam ketaatan, sabar dalam menjauhi larangan Allah SWT. Kemudian kesabaran yang bersifat horizontal, di sini hubungannya dengan kodrat kemanusiaan kita sebagai makhluk sosial. Sabar dalam menerima berbagai sikap yang dilahirkan dari sesama manusia, bisa berupa ejekan atau hinaan –boleh jadi karena praktik ketaatan– sabar dalam menghadapi prilaku orang lain baik yang dilakukan untuk dirinya sendiri maupun yang dilakukan sendiri namun berdampak pada kehidupan sosial yang lebih luas.

Tak bisa dipungkiri kadang kita lebih masygul dengan prilaku “orang lain” ketimbang prilaku diri kita sendiri –suatu hal yang wajar dalam kehidupan, apalagi saat berpuasa dengan kondisi keseimbangan emosi yang relatif lebih labil, di sini saat kesabaran benar-benar diuji, apakah kita bisa melakoninya atau gagal, tapi itulah medan latihan yang memang disediakan Allah SWT. Hingga ajaran yamlik nafsahu  (menguasai dirinya, nafsunya)  bisa dijadikan landasan untuk membina kesabaran,

Bila konsep penguasaan diri ini diterima sebagai suatu pengertian sabar, maka sabar nampak menjadi kegiatan yang dinamis dan potensial dalam menghadapi berbagai persoalan kehidupan setiap individu muslim. Dikatakan dinamis karena pengusaan diri adalah suatu kompetensi dasar yang harus dimiliki setiap orang dalam berbagai situasi dan kondisi, baik dalam susah maupun bahagia, dalam lapar maupun kenyang, dalam menjadi rakyat maupun penguasa, menjadi kuli maupun pengusaha. Predikat ulul al-azmi bagi beberapa nabi karena dinilai sempurna dalam kompetensi yang satu ini Kemudian dikatakan potensial, karena penguasaan diri merupakan keniscayaan dalam manajemen apapun untuk mencapai kemajuan dan kesuksesan.

Allah SWT sendiri memiliki sifat –yang kadang kurang dipopulerkan– al-shabuur, yang Maha Sabar, coba bayangkan menghadapi tingkah laku kita sebagai mahluknya, yang satu begini yang satu begitu, ada yang menuntut ini dan menuntut itu, kadang permintaan hamba yang satu berlawanan dengan permintaan yang lainnya, keinginan hamba yang satu kadang –kalau untuk manusia– begitu menjengkelkan namun tidak lantas serta merta diturunkan azabNya semuanya “dilayani” dengan ke Maha Sabaran-Nya. Sudah saatnya belajar dari sifat Tuhan yang satu ini, Kok kita kurang bisa belajar shabar, padahal Tuhan saja Maha Penyabar. Ja’alalana Allahu mina al-shaabiriin.   

 

* HU Mitra Dialog, Selasa 9.Nopember2004

Post navigation

❮ Previous Post: Perjalanan Ilmu Akankah Indonesia Berperan?
Next Post: Come to Success ❯

You may also like

Arsip Artikel
Come to Success
April 2, 2020
Arsip Artikel
Tradisi Menyambut Ramadlan
January 16, 2020
Arsip Artikel
Mawas Diri Di Hari Fitri
January 16, 2020
Arsip Artikel
AJARAN ISLAM SEBAGAI INSPIRASI PRILAKU HIDUP SEHAT
May 2, 2020

Recent Posts

  • Kurikulum Holistik: Dari Model Tokkatsu, Child to Child Pedagogy, Hingga Pesantren
  • Ahead of GIHES 2026: From the Hidden Curriculum to a Holistic Curriculum
  • Kami Alihkan Pesawatnya ke Surabaya
  • Menjelang GIHES 2026: Dari Hidden Curriculum ke Holistic Curriculum
  • The Expensive Warung: How Commercialism Is Changing Indonesian Hospitality

Archives

Memes

Categories

Quotes

Kalender

October 2026
M T W T F S S
 1234
567891011
12131415161718
19202122232425
262728293031  
« Sep    

Memes

Link

  • PP Al-Ikhlash
  • Al-Ikhlash Institute
  • P2i

https://www.youtube.com/c/TataTaufik

Copyright © 2026 mtatataufik.id.

Theme: Oceanly Green by ScriptsTown