Familial Approach (6)
Pembelajaran melalui Osmosis Budaya
Dalam keluarga, anak belajar bukan hanya saat orang tua berceramah, tapi saat melihat bagaimana orang tua makan, bicara, dan beribadah. Hal ini terjadi di pesantren (rumah kedua). Izinkan saya mengawali topik ini dengan cerita pribadi saya jadi tidak heran jika isinya ber-saya-saya.
Saya masuk Gontor tahun 1979 usia sekitar 12 tahun 1 bulan, pada masa awal kedatangan di awal bulan Syawal banyak kenangan yang tak terlupakan. Terutama mungkin karena perubahan tradisi dari tradisi hidup di kampung; belum ada listrik, mandi di sungai dan seterusnya. Setibanya di pondok sebagai calon pelajar saya ditempatkan k Rayon Indonesia Dua (sebutan untuk asrama di Gontor) tentu saja degan sedikit pengetahuan tentang tata cara hidup di pondok. Aturan yang dipahami waktu itu hanya terngiang aturan dari pengumuman yang senantiasa dikumandangkan seusai shalat magrib: “Diberitahukan kepada wali santri dan calon pelajar untuk tidak berbelanja di orang kampung” atau di “harap berkumpul seluruh calon santri asal….di ….setelah…” dan seterusnya. Adapun aturan di dalam asrama sama sekali tidak pernah tahu dan paham saat itu.
Cerita kebodohannya begini, sebagaimana calon santri pada umumnya saya dibelikan piring sendok garpu dan mug, ya ikut-ikutan yang lain saya juga ambil air di mug untuk dibawa ke kamar, karena calon santri belum punya lemari, tentu saja mug berisi air itu saya simpan di dalam koper – di sinilah letak bodohnya, karena saya tidak tahu kalau setiap sore ada pengurus kamar yang menyapu dan merapikan kamar —maka ketika pulang dari mesjid, didapati koper saya sudah berdiri, dan semua pakaian basah kena tumpahan air dari mug. Ini tak terlupakan hingga tulisan ini di tulis (dari tahun 1979-2025).
Belum lagi cerita tentang mandi di kamar mandi yang terletak di Komplek dapur (Kopda), pengalaman pertama menyuci di pondok, jadi ceritanya saya cuci pakaian di kamar mandi samping Kopda. Ini posisinya sudah lulus jadi santri. Tempat saya di Gedung Baru Shigor. Saya mandi dari GBS ke Kopda, lumayan jauh sama dengan keliling setengah kampus. Karena suasana longgar akhirnya saya cuci tikar –belum dibelikan kasur saat itu, juga seluruh pakaian yang saya pakai, otomatis yang ada tinggal handuk yang kering. Akhirnya saya pulang ke GBS hanya dengan lilitan handuk di badan serta sejumlah pakaian dan tikar di tangan –lucu kan? Di tengah jalan tepatnya di depan BBPM ada yang menegur, rupanya mungkin mudabir atau kelas VI, seraya bertanya, kok tidak pakai baju? Ini bajunya dicuci sambil melihatkan baju di tangan, lain kali jangan begitu ya! Sarannya, harus pakai baju. Saya jawab iya.
Mari coba membawa “kisah” ini kita pada proses pembelajaran dan aktivitas belajar. Insiden pakaian basah dalam koper bisa disebut metafora Inquiry Learning. Bahwa pengetahuan sejati sering kali tidak datang dari pengumuman speaker setelah Magrib (teori), melainkan dari “koper yang diberdirikan oleh pengurus” (pengalaman/masalah). Kita belajar paling cepat bukan saat diberi tahu jawabannya, tapi saat kita menghadapi konsekuensi dari ketidaktahuan kita.
Sebelum kita lanjut menafsirkan kisah tersebut, kita awali dulu petualangan kita dengan mengenali beberapa teori belajar yang populer untuk dijadikan landasan bagaimana kita melihat pembelajaran melalui osmosis budaya di pesantren. Kemudian di akhir setiap teori tersebut kita coba hubungkan dengan kisah tersebut di atas.
- Teori Behaviorisme (Perubahan Perilaku): Teori ini fokus pada perubahan perilaku yang dapat diamati sebagai hasil dari stimulus dan respons (S-R). Belajar dianggap sebagai proses pembiasaan melalui penguatan (reinforcement). Konsep utamanya Operant Conditioning (memberi hadiah untuk perilaku baik dan hukuman untuk perilaku buruk). Tokohnya B.F. Skinner. (Skinner, 1953).
Skinner berpendapat bahwa manusia dan hewan cenderung beroperasi di lingkungan mereka untuk mendapatkan konsekuensi tertentu. Stimulus (S): Keadaan atau peristiwa di lingkungan (misal: guru memberikan pertanyaan). Response (R): Tindakan yang diambil subjek (misal: santri menjawab pertanyaan). Consequence (C): Apa yang terjadi setelah respon (misal: pujian atau nilai bagus). Inilah bagian paling krusial bagi Skinner.
Dia percaya bahwa perilaku bukan sekadar respon terhadap stimulus, tapi dibentuk oleh konsekuensinya. Jika konsekuensinya positif, perilaku akan diulangi. Apa yang dia sebaut sebagai Mekanisme Penguatan (Reinforcement). Positive Reinforcement: Memberikan sesuatu yang menyenangkan untuk memperkuat perilaku. Contoh: Anda rajin bersih-bersih asrama karena diberi pujian (pujian adalah penguatnya). Negative Reinforcement: Menghilangkan sesuatu yang tidak menyenangkan untuk memperkuat perilaku. Contoh: Anda rajin mengaji agar tidak dihukum (hukuman dihilangkan jika Anda rajin). Hukuman bertujuan untuk mengurangi atau menghentikan suatu perilaku, bukan memperkuatnya. Skinner sebenarnya kurang menyukai penggunaan hukuman karena sering kali hanya memberikan efek jera sementara tanpa mengajarkan perilaku yang benar.
Jika kita terapkan pada cerita saya di Gontor, Tindakan saya Membawa air di mug dan menyimpannya di dalam koper. Ternyata memiliki konsekuensi pakaian basah kuyup. Konsekuensi ini berfungsi sebagai hukuman alami yang sangat kuat. Otak saya melakukan “pemutusan” terhadap hubungan S-R menyimpan air di koper. Skinner menyebut proses pembentukan perilaku yang kompleks secara bertahap ini sebagai shaping. Di pesantren, santri tidak langsung jadi berdisiplin dalam sehari, melainkan “dibentuk” setiap hari melalui ribuan siklus S-R-C (Stimulus-Respon-Konsekuensi).
- Teori Kognitivisme (Proses Mental): Berbeda dengan behaviorisme, teori ini lebih fokus pada apa yang terjadi di dalam otak manusia (cara kita berpikir, mengingat, dan memecahkan masalah). Information Processing Model (bagaimana informasi masuk dari memori jangka pendek ke memori jangka panjang). Tohohnya Jean Piaget (Piaget, 1952).
Teori ini melihat bahwa belajar bukan sekadar hubungan mekanis antara Stimulus dan Respon, melainkan proses mental aktif untuk memperoleh, menyimpan, dan memanggil kembali informasi. Otak manusia diibaratkan seperti prosesor komputer yang mengolah data sebelum menghasilkan tindakan.
Otak kita memiliki struktur kognitif atau “laci-laci” informasi yang disebut skema (Schema). Proses Pengolahan Informasi (Information Processing) Proses belajar terjadi melalui tiga tahap: Sensory Memory: Menangkap pesan (seperti mendengar pengumuman setelah Magrib). Working Memory: Mengolah informasi tersebut secara sadar (berpikir: “Oh, saya tidak boleh menyimpan air di koper”). Long-Term Memory: Menyimpan pemahaman tersebut menjadi permanen sehingga Anda tetap ingat kejadian itu dari 1979 hingga 2025.
Tahapan berikutnya masuk pada Belajar yang Bermakna (Meaningful Learning). Dikaitkan dengan kisah di atas, saat saya pertama kali masuk Gontor, saya menggunakan skema lama (cara hidup di kampung). Ketika menemukan kenyataan baru (koper basah), otak melakukan akomodasi, yaitu mengubah atau membuat “laci” baru untuk menyimpan aturan pondok. Ini artinya bahwa informasi baru akan bertahan lama jika dihubungkan dengan konsep yang sudah ada. Cerita saya tentang “pulang mandi dan menyuci semua pakaian hingga hanya dengan handuk” adalah titik di mana informasi baru (aturan berpakaian) menjadi terkontruksi dalam pikiran saya dan menjadi tahu budaya berpakaian di pondok. Bayangkan Ketika saya ditegur itu, saya malah menjawab dengan ceria tanpa ada rasa bersalah, lalu diingatkan jangan diulangi nanti ya!
- Teori Konstruktivisme (Membangun Makna):Teori ini menyatakan bahwa pembelajar tidak hanya menerima informasi secara pasif, tetapi secara aktif membangun pengetahuan mereka sendiri berdasarkan pengalaman masa lalu. Teori Sosiokultural: Vygotsky berpendapat bahwa perkembangan manusia adalah hasil dari interaksi dinamis antara individu dan masyarakat. Anak-anak belajar melalui pertukaran sosial yang bermakna, meniru orang dewasa, dan berkolaborasi dengan teman sebaya.
Maka menurut Vygotsky, koper yang basah dan teguran mudabbir di depan BBPM bukanlah sekadar sial, melainkan dialog sosial. Di sanalah terjadi transisi pengetahuan: dari aturan yang tadinya milik ‘pondok’ (eksternal), menjadi prinsip hidup milik ‘saya’ (internal). Saya menjadi santri karena saya ‘berdialog’ dengan lingkungan saya.”
- Teori Humanisme (Aktualisasi Diri): Teori ini memandang belajar sebagai cara untuk memenuhi potensi manusia secara utuh. Fokusnya bukan hanya pada nilai akademik, tapi pada perasaan dan motivasi siswa. Konsep Utamanya: Hirarki Kebutuhan (seseorang sulit belajar jika kebutuhan dasarnya, seperti rasa aman, belum terpenuhi). Dikumandangkan oleh Abraham Maslow & Carl Rogers yang digambarkan berbentuk piramida kebutuhan manusia terdiri dari lima tingkatan (Maslow, 1968).
Maslow berpendapat bahwa manusia terdorong untuk memenuhi kebutuhan dari yang paling dasar (fisik) hingga yang paling tinggi (aktualisasi diri). Berikut adalah analisis pada pengalaman saya tahun 1979: Tingkat dasar Kebutuhan Fisiologis (Dasar). Ini adalah level terbawah piramida (makan, minum, tidur, kebersihan). Transisi dari kampung (mandi di sungai, belum ada listrik) ke pondok adalah upaya otak saya untuk menata ulang pemenuhan kebutuhan dasar ini.
Insiden Koper Basah: Saat saya menyimpan air di mug dalam koper, saya sedang berusaha memenuhi kebutuhan dasar (akses air minum yang dekat). Namun, sistem pondok memiliki aturan kebersihan yang berbeda. Ketika pakaian basah, kebutuhan fisiologis saya (pakaian kering) terganggu. Ini menciptakan “krisis” di level dasar yang memaksa saya belajar dengan cepat
Kebutuhan Rasa Aman (Safety Needs). Di lingkungan baru seluas Gontor, seorang anak 12 tahun akan mencari rasa aman. Rasa aman di pesantren diperoleh dengan mematuhi aturan. Pengumuman Magrib yang “senantiasa dikumandangkan” adalah penanda batas keamanan. Jika saya mengikuti aturan (tidak belanja di orang kampung, berkumpul tepat waktu), saya aman dari hukuman. Insiden saya ditegur karena hanya berhanduk adalah momen di mana “rasa aman” saya terusik oleh teguran otoritas (mudabbir), yang kemudian memicu saya untuk segera beradaptasi demi keamanan sosial.
Kebutuhan Sosial (Belongingness and Love) saya menulis tentang “ikut-ikutan yang lain” membeli piring, sendok, dan mug. Tindakan “ikut-ikutan” ini bukan sekadar perilaku tanpa alasan. Secara Maslow, ini adalah upaya untuk merasa memiliki (sense of belonging). saya ingin menjadi bagian dari kelompok “santri”, bukan lagi “anak kampung.” Saya meniru perilaku kelompok agar diterima dalam komunitas baru tersebut.
Tingkat berikutnya Kebutuhan Harga Diri (Esteem): Saat saya menyebut insiden koper sebagai “cerita kebodohan”. Maka perasaan “bodoh” atau malu saat ditegur karena tidak pakai baju adalah tanda bahwa Harga Diri saya sedang dibentuk. Maslow membagi ini menjadi dua: harga diri dari diri sendiri (merasa kompeten) dan penghargaan dari orang lain. Di pesantren, harga diri saya tumbuh ketika saya mulai mampu mengelola lemari, mencuci sendiri, dan berpakaian rapi sesuai norma. Saat itu saya merasa “lulus jadi santri” karena saya sudah menguasai kompetensi dasar tersebut.
Level berikutnya Aktualisasi Diri: Menjadi Santri Seutuhnya. Ini adalah puncak piramida, di mana seseorang menjadi versi terbaik dari dirinya. Proses dari tahun 1979 hingga tulisan ini dibuat (2025) menunjukkan perjalanan aktualisasi diri. Pengalaman pahit (pakaian basah) dan lucu (berhanduk di jalan) adalah “pupuk” bagi pertumbuhan karakter saya. Saya tidak lagi hanya sekadar “ikut-ikutan”, tapi sudah menginternalisasi nilai-nilai tersebut menjadi identitas diri yang utuh.
Pesantren tidak hanya mengajari saya membaca kitab atau buku teks, tapi memaksa saya mendaki Piramida Maslow secara mandiri. Dimulai dari perjuangan mengelola pakaian kering (fisik), mencari rasa aman di balik aturan, hingga akhirnya menemukan harga diri sebagai seorang santri. Kebodohan-kebodohan kecil di masa lalu adalah harga yang harus dibayar untuk mencapai aktualisasi diri hari ini.
- Teori Inkuiri (Crow & Crow): Dalam buku How to Study, Crow & Crow menekankan bahwa belajar yang efektif adalah sebuah penyelidikan yang terarah. Walapun teori ini tidak sepopuler teori belajar sebelumnya, saya menambahkannya untuk mengenalkan bagaimana teori inkuiri ini bekerja dalam proses belajar kita. Mereka berdua membagi proses belajar ke dalam langkah-langkah praktis yang sangat cocok dengan “cerita kebodohan” saya:
Fase Kesadaran akan Masalah (Awareness of a Problem): Inkuiri dimulai saat ada gangguan. Pakaian yang basah dalam koper adalah “masalah nyata”. Menurut Crow & Crow, ini adalah momen belajar terbaik karena otak saya dipaksa mencari solusi secara aktif. Berikutnya fase Pengamatan dan Pengumpulan Data: Saat saya ditegur karena hanya berhanduk di depan BBPM, saya sedang melakukan pengamatan lapangan. saya mendapatkan “data” baru bahwa di area publik pesantren, ada standar berpakaian tertentu.
Kemudian Pembentukan Kebiasaan Belajar (Study Habits): Crow & Crow sangat mementingkan efisiensi. Kejadian koper basah membuat saya mengembangkan teknik manajemen barang yang lebih efisien (misalnya: tidak menyimpan cairan di koper). Ini adalah bentuk study habit yang lahir dari inkuiri mandiri.
Dan fase terakhir, Evaluasi Diri: Refleksi saya di tahun 2025 terhadap kejadian 1979 adalah puncak dari metode inkuiri. Saya mengevaluasi kegagalan masa lalu dan menarik makna darinya. Dalam perspektif Crow & Crow, insiden koper basah dan lilitan handuk adalah sebuah proses Inkuiri mandiri. Belajar dimulai dari sebuah ‘masalah’ yang nyata. Ketika saya mengalami kebuntuan (pakaian basah/tidak punya baju), otak saya tidak tinggal diam. Saya melakukan observasi, evaluasi diri, dan akhirnya menemukan cara baru untuk bertahan hidup. Inilah bentuk disiplin mental yang lahir dari pengalaman penemuan, bukan sekadar hafalan aturan.
Dalam sosiologi dan pendidikan, osmosis budaya (sering disebut juga sebagai enculturation atau sosialisasi terselubung, adalah proses penyerapan nilai, norma, dan perilaku secara tidak sadar hanya dengan berada di dalam lingkungan tersebut. Ia terjadi secara perlahan, tanpa instruksi formal, persis seperti air yang meresap melalui membran.
Tekanan Lingkungan yang “memaksa” Penyerapan, dalam osmosis biologis, zat berpindah dari konsentrasi tinggi ke rendah. Di pesantren, Konsentrasi Tinggi berupa tradisi disiplin, bahasa, dan kesederhanaan yang sudah mapan. Adapun Konsentrasi Rendah: Santri baru (kasus saya di tahun 1979) yang masih membawa “budaya kampung.” Prosesnya, melalui insiden koper basah dan teguran saat hanya berhanduk, Saya “terpaksa” menyerap cairan budaya pondok agar terjadi keseimbangan (agar saya bisa bertahan hidup dan diterima).
Sering kali orang salah menyebut dinamika di pesantren sebagai Hidden Curriculum. Namun bagi saya, apa yang saya alami di tahun 1979 adalah sebuah wujud dari Holistic Curriculum. Di pesantren, tidak ada momen yang ‘bukan pelajaran’. Koper yang basah dan teguran saat hanya berhanduk adalah bab-bab penting dalam kurikulum kehidupan yang sengaja dirancang untuk membangun kedewasaan saya, jauh melampaui apa yang tertulis di dalam kitab.
Mengapa Harus Holistic Curriculum? Dalam konteks pesantren, apa yang tampak seperti “kejadian kebetulan” (seperti inspeksi lemari oleh pengurus atau teguran mudabbir di jalan) sebenarnya adalah bagian integral dan desain sadar dari sistem pendidikan. Ia merupakan satu kesatuan, belajar tidak hanya terjadi di bangku kelas dari jam 07.00 – 12.00 misalnya. Belajar terjadi saat makan, saat mencuci, bahkan saat saya atau Anda mengatur mug di dalam koper. Semuanya adalah “kurikulum” yang sengaja diciptakan untuk membentuk karakter.
Dalam kurikulum holistik ini, metode inkuiri Anda atau saya (belajar dari koper basah) bukan “kecelakaan belajar”, melainkan laboratorium kemandirian yang memang sudah disediakan oleh sistem pesantren. Pesantren sengaja membiarkan santri “mengalami masalah” (seperti mengelola pakaian sendiri) agar inkuiri itu terjadi. Inilah bentuk Osmosis yang terencana: Jika kita gunakan istilah Holistic Curriculum, maka osmosis budaya yang kita bahas tadi adalah proses penyerapan yang didesain. Kiai dan pengurus tahu bahwa dengan menciptakan lingkungan yang konsisten, santri akan menyerap nilai tanpa perlu diceramahi terus-menerus.
Melalui teori Osmosis ini terjadi Perubahan Tanpa Sadar (Subconscious Learning) dari cerita yang telah kita diskusikan tadi, pelajaran adalah saya tidak sadar sedang “belajar” saat itu; saya merasa sedang mengalami “kebodohan” atau “kesialan”. Namun, di tahun 2025, saya menyadari bahwa rentetan kejadian itu membentuk siapa saya sekarang. Itulah ciri khas osmosis: Anda –sengaja ganti sebutan jadi Anda– tidak merasa sedang berubah, sampai akhirnya Anda sudah menjadi pribadi yang berbeda.
Gontor tahun 1979 bagi saya misalnya, bukanlah sekadar tempat menuntut ilmu, melainkan sebuah wadah osmosis budaya. Pakaian saya yang basah karena mug di koper bukan sekadar kecerobohan, melainkan momen di mana ‘zat’ kedisiplinan pondok mulai meresap paksa ke dalam pori-pori kesadaran saya, menggantikan sisa-sisa cara hidup kampung yang tidak lagi relevan. Bersambung

Comments are Closed