media berbagi dan silaturahmi

Familial Approach (5)

Familial Approach Sebagai Metodologi Pendidikan

Mengingat bahwa pesantren merupakan bangunan keluarga, dan rumah keluarga bagi santrinya, maka yang harus dibidik adalah  “Ruh Kekeluargaan” sebagai metodologi, bukan sekadar status administratif. Dalam pesantren, “keluarga” bukan hanya soal tinggal satu atap, tapi soal transfer nilai (transmisi) yang terjadi secara alami melalui keteladanan dan kedekatan emosional. Membawa perspektif kekeluargaan ke dalam sistem pendidikan pesantren, sedikitnya ada tiga pilar yang harus dibangun: Hubungan Relasional, Pembelajaran  melalui Osmosis Budaya dan Komunikasi yang bersifat Mendidik.

Hubungan Relasional

            Hubungan relasional adalah hubungan timbal balik antara dua individu atau lebih yang saling memengaruhi melalui interaksi yang berkelanjutan. Dalam dunia pendidikan, ini bukan sekadar “kenal”, melainkan adanya ikatan emosional, kepercayaan, dan tujuan bersama untuk bertumbuh. Jika di sekolah umum hubungan ini sering bersifat profesional-akademis, di pesantren, hubungan relasional memiliki karakteristik yang jauh lebih mendalam dan sakral. Profesional akademis di satu sisi dan kekeluargaan di sisi lain, bersifat padu dan holistik. Dalam konsep kekeluargaan pesantren, hubungan tersebut bersifat relasional: Guru (Kiai/Ustadz) berperan sebagai orang tua spiritual yang memiliki tanggung jawab moral atas keselamatan dan masa depan anak didik, bukan sekadar nilai akademiknya.

            Suatu saat saya mengobrol dengan guru saya H.D Hidayat, pada masanya tahun 1986 beliau adalah ketua jurusan bahasa Arab di Fakultas Tarbiyah IAIN Jakarta, tempat saya menempuh S1. Beliau mengisahkan bagai mana ia belajar di pesantren. Sebenarnya ketika saya mesantren di Sukabumi, saya tidak berarti belajar seperti yang dibayangkan sekarang. Cuma saya rajin menemani Kiai, beliau ke pasar saya ikut, membawakan belanjaannya, beliau bepergian, saya ikut bantu membawakan kopernya, begitulah saya mesantren. Sampai suatu saat saya dipanggil dan diarahkan untuk melanjutkan pendidikan di IAIN Jakarta, beliau menyarankan agar saya menghubungi seorang dosen di sana. Ketika di IAIN pun saya tetap berkhidmah, mengantar dosen tersebut, membawakan kopernya jika bepergian dan lain sebagainya. Begitulah saya mesantren pungkasnya.

            Dalam perjalanan mengunjungi beberapa pesantren di wilayah Indonesia penulis menemukan banyak tradisi dan budaya yang variatif antara satu pesantren dengan lainnya. Saya menyaksikan bagaimana santri dan tamu menunggu berjam-jam untuk bisa diterima Kiai, kemudian setelah saatnya pintu rumah Kiai dibuka, mereka masuk dengan tertib, setelah bersalaman lalu duduk dengan rapi, muka menunduk, menunggu kesempatan untuk di sapa, mengenalkan diri, serta menyampaikan maksud kedatangannya. Pada saat itu santri yang bertugas di rumah kiai (biasanya santri senior) menyajikan minuman, secangkir kopi atau teh. Setelah hidangan dan kudapan tersedia, Kiai mempersilahkan untuk minum, sambil beliau sendiri memulainya –istilah anak muda sekarang Ngopi Bareng—selang beberapa saat santri yang bertugas mengantarkan sepiring nasi yang sudah dicampur dengan lauknya, semua yang hadir mendapatkannya, kemudian Kiai tersebut –dengan sepiring hidangan yang sama– mulai menyantap bersama dengan para tamu yang ada di hadapannya. Selama proses ini menyampaikan pesan-pesan dan mengisahkan berbagai cerita terkait dengan perjalanan pendidikan, sejarah dan perkembangan dakwah Islam di Indonesia. Setelah dirasakan cukup beliau pamit untuk mengimami shalat, pertemuan itu pun selesai.

            Sebelum pergi beliau bertanya kepada saya, bawa mobil? Saya jawab; bawa pak Kiai. Kamu kan bisa jamak shalatnya, tunggu, saya shalat dulu, nanti kita lanjutkan mengobrolnya. Sampai di luar saya melihat ada santri menunggu di depan pintu, dan ternyata dia menyiapkan sandal Kiai. Kemudian terlihat juga sandal-sandal para tamu yang sudah tersusun rapi menghadap ke arah luar pintu. Pemandangan ini sangat mengesankan bagi saya seraya bergumam, pengalaman ini mengajari saya! I am Learning.

            Kisah ini menggambarkan bagaimana hubungan Santri dengan Kiainya, bagaimana tradisi dan budaya terlembagakan, bagaimana penghormatan mewujudkan bentuknya. Dari sini  saya juga –secara pribadi– belajar bagaimana menerima tamu, bagaimana konsep Kiai mengajarkan menjadi tuan rumah, menerima tamu dan seterusnya. Inilah hubungan relasional antara Kiai dengan tamu, dengan alumni dan dengan santri. Inilah potret saling menghargai dan menghormati terjalin secara nyata. Saya berpikir, betapa masih jauhnya saya untuk bisa menerapkan nilai-nilai kebaikan terutama dalam konteks interaksi relasional.

            Dari sini terlihat bukan saja tamu, alumni dan santri “menghargai dan menghormati Kiai,” tapi terlihat juga bagai mana “Kiai menghormati dan menghargai kami semua yang hadir.” Tradisi ini tidak bisa dipahami dan ditafsirkan dengan menggunakan teori kekuasaan atau teori sosiologi, karena tafsir tersebut hanya akan mengikis “makna” dari suatu proses, memahaminya harus dengan “kacamata nilai” dan ajaran serta keterlibatan emosional (rasa dan pengalaman). Artinya memahami setiap tindakan (seperti santri menyiapkan sandal Kiai, atau menata sandal tamu Kiai) bukan sebagai beban kerja, melainkan sebagai perwujudan nilai ta’dzim (hormat) dan ibadah. Serta berusaha “menyelami” aspek psikologis dan keberagamaan individual untuk merasakan bagaimana kasih sayang dan pengabdian mengalir dalam hubungan tersebut.

            Hubungan Relasional di pesantren terdiri dari  relasi Kiai-Santri, relasi Ustadz-Kiai, relasi Santri-Ustad-Kiai dan relasi Santri-Santri. Semua hubungan ini unik, karena melampaui batas ruang kelas dan jam pelajaran.

Relasi Kiai-Santri berbentuk pola hubungan “Bapak dan Anak.” Kiai tidak hanya dipandang sebagai pengajar materi (mu’allim), tetapi juga sebagai orang tua spiritual dan pembimbing akhlak (murabbi). Peran Kiai: Mengayomi, mendoakan, dan memberi teladan hidup 24 jam.

Sikap Santri: Menganggap kiai sebagai pengganti orang tua kandung selama di perantauan (mondok). Dalam konteks ini konsep Ta’dzim dan Barokah mewarnai relasi tersebut, inilah pembeda utama relasi di pesantren dengan lembaga lain. Melalui sikap Ta’dzim (Hormat) Santri menunjukkan rasa hormat yang sangat tinggi (seperti menunduk saat lewat atau mencium tangan) bukan karena takut, melainkan sebagai bentuk pemuliaan terhadap ilmu yang dimiliki kiai. Bahkan sampai pada keyakinan bahwa kepatuhan dan pengabdian kepada guru akan mendatangkan “keberkahan” sebuah nilai spiritual yang membuat ilmu tersebut bermanfaat dan hidupnya tenang di masa depan. Mengingat bahwa berkah sendiri secara bahasa berarti bertambahnya kebaikan.

  • Relasi Kiai-Santri ini merupakan hubungan patronase yang luwes: Hubungan bersifat personal dan sering kali tidak terbatas waktu. Bahkan bisa berlangsung seumur hidup: Meskipun santri sudah lulus (menjadi alumni), hubungan relasional dengan kiai biasanya tetap terjaga. Santri akan tetap merasa memiliki ikatan batin dan sering kembali untuk meminta nasihat hidup.

Diperkuat dengan konsep Khidmah (Pengabdian): Santri sering membantu pekerjaan kiai di luar urusan mengaji (seperti membantu di sawah atau mengurus rumah tangga pondok) sebagai bagian dari proses pendidikan karakter dan kerendahan hati. Sebagaimana yang terlihat dari penuturan kisah H.D Hidayat ketika ia nyantri bahkan sampai ketika kuliah masih tetap “membawa” kesantriannya dalam lingkungan yang lebih modern; perguruan tinggi.

Seiring dengan perjalanan dan perkembangan zaman pola Relasi-Kiai bertransformasi ke arah egaliter. Di pesantren modern atau yang mulai terbuka, hubungan ini mulai bergeser menjadi lebih dialogis. Santri mulai didorong untuk lebih berani berdiskusi dan kritis, namun tetap tanpa menghilangkan esensi rasa hormat kepada kiai.

  • Relasi Ustadz-Kiai-Santri: Relasi ini pada praktiknya hampir sama dengan relasi Kia-Santri karena ustadz yang ada dipesantren biasanya diangkat dari santri yang sudah dinyatakan lulus masa studinya di pesantren tersebut atau pesantren lain. Jadi pada hakikatnya santri juga.  Hanya saja derajat ta’dzim dan khidmah serta konsep berkahnya pada relasi Ustadz dan Santri berada sedikit di bawah relasi Kiai-Santri. Namun pola hubungan Bapak-Anak antara Ustadz-Santri tetap berlaku sesuai dengan perannya.
  • Relasi Santri-Santri: Pada dasarnya relasi ini berupa relasi saudara kandung, relasi antara kak adik, santri yang nyantri lebih awal (senior) berperan sebagai kakak bagi adiknya yang baru nyantri. Dalam konteks ini ukurannya bukan usia santri tapi pada lama atau barunya nyantri. Inilah keunikannya, sering kali santri yang sudah tamat s1 (sarjana) tetap taat dan patuh pada pengurus yang dari sisi usia masih belasan. Jadi ada tergambar ketulusan dalam menaati aturan pesantren serta menghargai fungsi dan peran santri satu dengan lainnya.

Maka relasi dan interaksi yang dikelola dan melembaga di pesantren seperti tersebut di atas merupakan metode pedagogis pesantren dalam pendidikannya, penanaman nilai agama dan sosial kemasyarakatan, perubahan sikap dan pewarisan “tradisi baik” merupakan hasil metode pendidikan dengan pendekatan kekeluargaan. Bersambung

Comments are Closed