Familial Approach (4)
Family Engagement di Pesantren: Membangun Kemitraan Strategis
Di pesantren, Family Engagement bukan sekadar teknis komunikasi, melainkan upaya menyatukan dua ekosistem keluarga (biologis dan pesantren) untuk mencapai tujuan yang sama. Istilah ekosistem pesantren merujuk pada sebuah lingkungan hidup yang unik di mana pendidikan, ibadah, ekonomi, dan pengabdian masyarakat menyatu dalam satu kesatuan. Pesantren bukan sekadar “sekolah berasrama”, melainkan sebuah komunitas mandiri yang memiliki tata nilai dan struktur sosialnya sendiri. Adapun Ekosistem keluarga adalah sebuah “organisme hidup” yang berfungsi sebagai lingkungan pertama dan utama bagi pertumbuhan manusia, di mana terjadi pertukaran energi berupa kasih sayang, transfer nilai-nilai luhur, dan pemenuhan kebutuhan dasar yang saling memengaruhi satu sama lain.
Kasus ketidakpuasan beberapa wali santri dengan interaksi dan komunikasi transaksional yang bersifat Template atau kerangka kerja yang baku seperti acara Silaturahmi Wali Santri, bisa dijadikan modal dasar untuk melakukan perubahan model dari transaksional menjadi relasional; keterlibatan keluarga sebagai partner dalam pendidikan pesantren untuk mencapai tujuan bersama, kesuksesan santri dalam belajar dan mengembangkan kepribadiannya. Dikatakan modal karena terlihat dari “ketidakpuasan” tersebut ada hasrat wali santri untuk membangun komunikasi yang lebih mendalam dengan pihak pesantren. Komunikasi yang lebih humanis berisikan nuansa etis dan spiritual.
Di suatu pesantren terbaca himbauan berbunyi begini: “Semakin sering wali santri mengunjungi putranya di pesantren semakin besar kemungkinan kegagalan putranya dalam mencapai tujuan pendidikannya.” Pernyataan dalam himbauan tersebut, merupakan sebuah prinsip klasik dalam dunia pesantren. Bisa saja himbauan tersebut dipahami larangan untuk berkunjung dan memutuskan hubungan komunikasi Orang tua -anak. Namun jika dilihat dari sudut kemitraan keluarga dengan pesantren, sebenarnya pesantren sedang membangun suatu kemitraan yang positif antara Orang tua dengan pesantren. Maka kalimat yang dipakai juga dipilih kalimat berita, bukan perintah atau larangan. Di sini pesantren mengedukasi wali santri yang tentu saja berdasarkan pengalaman dan data yang ditemui dari kasus-kasus sebelumnya.
Mari kita bedah secara mendalam mengapa frekuensi kunjungan yang berlebihan dianggap bisa merusak ekosistem belajar santri:
Pertama, Pesantren dirancang untuk melatih kemandirian. Setiap kali orang tua datang membawa kenyamanan rumah (makanan enak, uang lebih, atau sekadar memanjakan emosi), proses adaptasi santri terhadap realitas pesantren terhenti. Ini akan menjadi Interupsi Proses Adaptasi dan Resiliensi. Ini bisa mengakibatkan mentalitas instan karena Santri yang terlalu sering dikunjungi cenderung sulit membangun daya juang (grit) karena merasa selalu ada “pintu darurat” (orang tua) yang akan menyelamatkannya dari kesulitan kecil di asrama.
Kedua, sering kali saat kunjungan (sambangan), interaksi yang terjadi justru tidak berkualitas. Orang tua datang membawa gadget atau fasilitas berlebih, sehingga di ruang kunjungan pun mereka mengalami fenomena yang kita bahas tadi: duduk bersama tapi asyik dengan dunia masing-masing. Ini mengaburkan fokus santri dari tujuan utamanya menuntut ilmu. Bahkan hanya akan menjadi efek “Separated Together” yang berpindah lokasi.
Ketiga, Gangguan Fokus pada Ekosistem Komunal, mengingat Pesantren adalah ekosistem yang mengandalkan kebersamaan antar santri. Maka santri yang terlalu sering dikunjungi bisa menciptakan jarak dengan teman sekamarnya yang jarang dikunjungi. Alias melahirkan kecemburuan sosial. Ini juga akan menciptakan keterikatan emosional yang tak kunjung putus. Padahal secara psikologis, santri butuh waktu untuk “menyapih” diri dari ketergantungan pada orang tua agar bisa menyatu sepenuhnya dengan kurikulum pesantren. Kunjungan yang terlalu sering membuat anak terus menoleh ke belakang (rumah), bukan melihat ke depan (pelajaran).
Keempat, Konsep “Tirakat” Orang Tua, dalam tradisi pesantren, keberhasilan santri adalah hasil dari sinergi antara belajarnya santri dan tirakatnya orang tua. Menahan rindu dan membatasi kunjungan dianggap sebagai bentuk pengorbanan (tirakat) orang tua. Ini juga Mengingat bahwa Kepercayaan Penuh (trust) kepada Kiai dan sistem pesantren adalah syarat mutlak. Sering berkunjung bisa dipandang sebagai bentuk “ketidakpercayaan” terselubung terhadap kemampuan pesantren mendidik anak tersebut.
Artinya pernyataan tersebut tidak bermaksud melarang kasih sayang, melainkan mengingatkan agar kasih sayang tidak berubah menjadi penghambat tumbuh kembang. Dalam konteks Ekosistem Keluarga, kunjungan yang terlalu sering adalah bentuk over-facilitating emosional. Anak tidak dibiarkan “lapar” akan tantangan, sehingga otot mentalnya tidak pernah terbentuk.
Ilustrasi di atas menawarkan peralihan pendekatan kekeluargaan dari Transaksional ke Relasional: karena menurut teori familial approach yang akhir-akhir ini dikembangkan dalam pendidikan, Pesantren harus mengedukasi wali santri agar tidak memandang hubungan secara transaksional (“saya membayar, Anda mendidik”). Rekonstruksi hubungan ini dilakukan dengan membangun kesadaran bahwa keberhasilan santri adalah hasil kolaborasi aktif, bukan sekadar “penitipan”.
Setelah bangunan hubungan relasional tercipta, maka pesantren menata dirinya menjadi Listening Schools: Sesuai teori Mapp & Kuttner, pesantren perlu menyediakan ruang bagi keluarga untuk menyampaikan “harapan dan kekhawatiran” secara terbuka. Ini bisa dilakukan melalui forum musyawarah wali santri yang tidak hanya berisi pengarahan dari Kiai, tetapi juga sesi diskusi kelompok untuk memetakan potensi masalah anak secara bersama-sama.
Bentuk pengembangan relasional selanjutnya bisa melangkah pada pemanfaatan empati dan keahlian wali santri: Wali santri tidak boleh hanya dipandang sebagai “user” atau klien. Pesantren perlu mengidentifikasi keahlian unik setiap wali santri untuk dilibatkan dalam ekosistem pendidikan (misalnya: wali santri yang ahli teknik membantu pembangunan, atau yang ahli kesehatan memberikan penyuluhan). Hal ini bisa terjadi jika trust wali santri terhadap pesantren sudah dinilai tinggi.
Untuk meningkatkan hubungan relasional bisa juga menjadikan Digital Engagement sebagai jembatan: Di era digital pemanfaatan platform digital (seperti aplikasi laporan perkembangan santri atau grup diskusi) harus diarahkan sebagai alat Doing With (bekerja bersama) bukan sekadar Doing To (memberitahu tagihan/aturan). Tujuannya agar wali santri merasa memiliki sense of belonging terhadap proses keseharian anak di asrama.
Menggunakan pendekatan Manajemen Konflik Berbasis Kekeluargaan juga tak kalah pentingnya, bahkan bisa menjadi inti dari keberhasilan Family Engagement: Ketika terjadi gesekan atau masalah disiplin, penyelesaiannya tidak menggunakan pendekatan otoritas intimidatif. Sebaliknya, sekolah dan keluarga duduk bersama sebagai mitra untuk mencari solusi yang paling maslahat bagi jiwa anak, sejalan dengan Family System Theory.
Poin berikutnya adalah Inklusivitas Pengasuh: Kebijakan keterlibatan harus mencakup wali atau pengasuh lain (ustadz, pengurus, dan lainnya) jika santri tidak memiliki hubungan aktif dengan orang tua kandung, untuk memastikan tidak ada “ikatan tunggal yang berdiri sendiri” dalam pengawasan santri. Singkatnya, inklusivitas adalah upaya untuk memastikan bahwa seluruh elemen pendukung siswa (siapa pun pengasuhnya) dilibatkan secara aktif sebagai mitra sejati dalam proses Pendidikan.
Dengan menerapkan poin-poin di atas, pesantren tidak lagi menjadi “pulau terpencil” yang terpisah dari orang tua, melainkan menjadi Rumah Kedua yang benar-benar terintegrasi secara emosional dan sistemik dengan Rumah Pertama santri.
Model Kekeluargaan yang telah dibahas adalah model pendekatan kekeluargaan yang biasa diterapkan di sekolah pada umunya, namun juga ditemukan dalam pendekatan kekeluargaan di pesantren. Hanya saja fokusnya terletak pada mengatur atau menyiasati hubungan antara keluarga inti dengan pesantren sebagai keluarga kedua; Bagaimana keluarga inti bersikap dan bermitra dengan keluarga pesantren. Konsep pendekatan ini berujung dengan program edukasi keluarga inti supaya bisa menjadi partner pesantren yang menuntut adanya program khusus bahkan dengan kurikulum tersendiri untuk menciptakan family engagment dengan panduan beberapa enam poin tadi: Peralihan dari Transaksional ke Relasional, Listening Schools, Pemanfaatan Empati dan Keahlian Wali Santri, Digital Engagement sebagai Jembatan, Manajemen Konflik Berbasis Kekeluargaan, terakhir Inklusivitas Pengasuh. Bersambung

Comments are Closed