Star Wars

Print Friendly, PDF & Email

Star Wars ini bukan judul film garapan George Lucas  tahun 1977, atau terma yang dipakai Ronald Reagan dalam strategi pertahanannya saat ia memerintah. Tulisan ini akan mencoba menggambarkan kondisi Dunia yang berperang melawan wabah di tahun 2020.

Tanggal 14 Mei lalu masyarakat Dunia diseru untuk berdu’a dalam rangka menolak wabah yang melanda Dunia dengan tajuk “du’a untuk kemanusiaan.” Akirnya kaum muslimin pun diseru untuk berdu’a bersama di malam Jum’at itu. Du’a adalah senjata umat Islam demikian Rasulullah SAW dalam hadisnya menyatakan. Maka seruan untuk berdu’a khusus berkenaan dengan menolak wabah sama dengan menyeru untuk mengangkat senjata yang dimiliki umat ini untuk memeranginya.

Berdu’a itu merupakan perintah Allah surat Ghafir ayat 60: “Dan Tuhanmu berfirman: berdu’alah kepada-Ku pasti akan Aku kabulkan…” dan dalam surat al-Baqarah ayat 186: “ Jika hamb-Ku bertanta kepadamu tentang Aku, Aku adalah dekat, Aku menjawab semua permohonan hamba-Ku jika mereka memohon kepada-Ku, hendaknya mereka menjawab juga seruan-Ku, dan beriman kepada-Ku, mudah-mudahan mereka selalu berada dalam kebenaran.”

Dari kedua ayat di atas dapat dilihat bahwa ber’dua adalah merupakan perintah Allah dan melakukannya termasuk ibadah. Jadi kegiatan berdoa itu merupakan ibadah dan wujud dari keimanan. Ditegaskan  dalam hadis Rasulullah SAW: Dua’a adalah ibadah (Bulugul Maram hadis ke 1338).

Masih terbayang berita perang Irak vs Kuwait pada tahun 1990an (kejadian ini dijadikan contoh karena secara visual bisa terbayang dalam ingatan) terlihat bagaimana rudal Irak dengan rudal Kuwait yang didukung Saudi saling bertabrakan di langit, yang satu menyerang yang satu menahan, dan begitu pemandangan yang tampak dalam berbagai berita visual. Itulah gambaran perang yang terjadi di langit dan bisa disaksikan.

Demikian juga halnya dengan du’a sebagai senjata kaum muslimin, ketika du’a dipanjatkan dengan sungguh-sungguh kepada sang Pemilik Seluruh Alam maka ia akan menaik ke langit dan menolak berbagai macam bala  laksana peluru kendali yang diluncurkan menghantam peluru kendali yang sama-sama siap menerjang sebagai lawannya.

Gambaran seperti ini dijelaskan Imam Nawawi ketika menerangkan tentang kadar/takdir dari hadis kedua dari hadis arba’īn yang dihimpunnya; “bahwa dua’a dan bala berperang antara langi dan bumi, dan du’a menolak bala’ sebelum bala’ itu turun.” Ada banyak keterangan hadis yang senada dalam topik ini; seperti hadis dari Anas; “Berdu’alah karena dua;a bisa menolak  qada.” Hadis Aisyah ra bahwa Rasulullah SAW bersabda:  “Kadar tidak bisa dihindari, dan du’a bermanfaat baik untuk kadar yang sudah terjadi atau yang belum terjadi, karena du’a akan bertemu dengan bala dan bertempur sampai hari kiamat.” (Hadis Riwayat Tabrani). Hadis Muadz Ibnu Jabal: “Tidak akan berguna menghindari kadar, tapi dua’a berguna menghadapi kadar baik yang sudah terjadi atau yang belum terjadi, maka hendaklah kalian berdu’a wahai hamba Allah.” (HR Ahmad dan Tabrani).

Kata balā’ berarti musibah yang datang menimpa seseorang atau kelompok masyarakat, berarti juga kesedihan dan sesuatu yang sangat berat diderita.

Istilah lain yang sering menyertainya adalah wabā’ dalam bahasa Indonesia wabah, artinya penyakit yang keras dan menular dari tempat ke tempat lain yang mengenai manusia atau binatang, dan kadang sangat mematikan. Sehingga dalam memanjatkan dua’a sering keduanya diruntutkan beriringan;

اللّٰهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا الْبَلَاء وَاْلوَبَاءَ واْلفَخْشَاءَ وَالْمُنْكَرَ وَالْمِحَنَ وَالْفِتَن مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ مِنْ بلَدِناَ هَذَا خَاصَّةً وَمِنْ بلُدَانِ الْمُسْلِمِيْن عَامَّةً

Ya Allah, hindarkanlah kami dari bencana, wabah, kekejian, kemungkaran, cobaan-cobaan, dan fitnah, yang tampak dan yang tidak tampak dari Negara kami khususnya dan dari negara-negara Muslim pada umumnya. Mari berdu’a untuk ketemu kadar/takdir yang lebih baik terlebih di 10 akhir Ramadlan, saat malam kadar diturunkan.