Landasan Paradigmatik dan Epistemologis Komunikasi Pendidikan Islam
M. Tata Taufik
- Mengapa Diperlukan Paradigma Baru?
Dalam perjalanan sejarah peradaban, manusia berulang kali menyaksikan lahirnya anomali, yaitu keadaan ketika pengetahuan atau keyakinan yang selama ini dianggap benar kemudian digantikan oleh pengetahuan baru yang lebih mampu menjelaskan realitas. Pergeseran semacam ini merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari perkembangan ilmu pengetahuan. Pada masa-masa awal, misalnya, manusia meyakini bahwa bumi berbentuk datar karena demikianlah yang tampak dalam pengalaman sehari-hari. Bahkan sebagian ulama besar pada Abad Pertengahan masih menafsirkan ayat-ayat tentang bumi berdasarkan pemahaman tersebut. Namun, seiring berkembangnya ilmu astronomi dan eksplorasi manusia terhadap alam semesta, keyakinan itu bergeser dan kini diterima secara luas bahwa bumi berbentuk bulat. Pergeseran tersebut menunjukkan bahwa pengetahuan manusia tidak pernah berhenti berkembang. Oleh karena itu, manusia tidak boleh berhenti bertanya, sebab setiap pertanyaan membuka kemungkinan lahirnya pengetahuan baru yang lebih mampu menjelaskan kenyataan.
Akan tetapi, perkembangan pengetahuan tidak selalu diikuti oleh perubahan perilaku. Jika pada contoh pertama anomali melahirkan perubahan pengetahuan, pada kenyataannya terdapat fenomena lain yang justru menunjukkan keadaan sebaliknya: pengetahuan telah berubah, tetapi perilaku manusia tetap bertahan pada kebiasaan lama.
Hingga hari ini kita masih mudah menemukan warung mi rebus yang menawarkan telur setengah matang. Menariknya, pilihan itu tetap diminati, padahal sejak puluhan tahun lalu berbagai penelitian telah menyebutkan bahwa telur matang lebih baik dikonsumsi. Pada dekade 1980-an saya membaca sebuah artikel hasil penelitian yang membahas pertanyaan sederhana: manakah yang lebih baik dikonsumsi, telur setengah matang atau telur matang? Hasil penelitian tersebut menyimpulkan bahwa telur matang lebih baik dikonsumsi dibandingkan telur setengah matang. Secara ilmiah persoalan itu seolah-olah telah selesai.
Namun, realitas berkata lain. Puluhan tahun telah berlalu, masyarakat tetap mempertahankan keyakinan dan kebiasaannya. Di warung-warung mi rebus, baik di kota maupun di kampung, menu telur setengah matang masih menjadi pilihan favorit. Seolah-olah hasil penelitian tersebut tidak pernah hadir dalam ruang kesadaran mereka. Pengetahuan telah berubah, tetapi perilaku tidak ikut berubah.
Fenomena sederhana inilah yang kemudian mengusik saya. Mengapa pengetahuan yang benar tidak otomatis mengubah perilaku? Mengapa informasi ilmiah sering kali kalah oleh kebiasaan, budaya, pengalaman, bahkan keyakinan yang telah lama hidup di tengah masyarakat? Bukankah tujuan pengetahuan bukan sekadar diketahui, melainkan diwujudkan dalam tindakan?
Pertanyaan-pertanyaan tersebut mengantarkan saya pada satu kesadaran bahwa persoalan pendidikan bukan semata-mata persoalan penyampaian pengetahuan. Yang jauh lebih mendasar adalah bagaimana pengetahuan itu dikomunikasikan sehingga mampu mengubah cara berpikir, membentuk sikap, menggerakkan tindakan, dan akhirnya melahirkan karakter. Dengan demikian, persoalan utama yang dihadapi bukan lagi kekurangan informasi, melainkan bagaimana proses komunikasi mampu mentransformasikan informasi menjadi kesadaran, kesadaran menjadi tindakan, dan tindakan menjadi kepribadian.
Selama berabad-abad pendidikan Islam terbukti berhasil melahirkan manusia, masyarakat, bahkan peradaban yang besar. Akan tetapi, mekanisme komunikasi yang menjadi penggerak keberhasilan tersebut belum memperoleh konstruksi teoritis yang memadai sebagai sebuah disiplin ilmu. Di sinilah letak anomali yang mendorong lahirnya paradigma baru. Jika pendidikan Islam mampu membentuk manusia dan peradaban, sementara teori komunikasi yang berkembang saat ini belum mampu menjelaskan mekanisme transformasi tersebut secara utuh, maka diperlukan suatu paradigma yang berbeda untuk menjelaskannya. Paradigma itulah yang dalam buku ini disebut Komunikasi Pendidikan Islam, yaitu paradigma yang memandang komunikasi bukan sekadar proses penyampaian pesan, melainkan mekanisme pembentukan manusia, masyarakat, dan peradaban berdasarkan ajaran Islam.
- Pergeseran Paradigma
Gagasan mengenai Epistemologi Komunikasi Islam yang dikembangkan dalam buku ini bukanlah pemikiran yang lahir secara tiba-tiba. Benih-benihnya telah dirumuskan sejak penelitian disertasi pada tahun 2007 melalui proposisi bahwa besarnya peradaban Islam mengisyaratkan adanya sistem komunikasi yang khas dalam proses pembentukan dan pengembangannya. Pada saat itu, Komunikasi Islam didefinisikan sebagai komunikasi yang berlandaskan ajaran Islam, bertujuan menyebarluaskan ajaran Islam, serta membangun masyarakat berdasarkan nilai-nilai Islam. Penelitian tersebut juga menyimpulkan bahwa perbedaan landasan filosofis dan landasan etik akan melahirkan perbedaan teori maupun praktik komunikasi. Rumusan inilah yang kemudian menjadi fondasi awal bagi pengembangan paradigma Komunikasi Islam (Taufik M. , 2012).
Perjalanan kajian berikutnya mengantarkan pada pertanyaan yang lebih mendasar, yaitu dari manakah sistem komunikasi Islam memperoleh dasar epistemologisnya. Pertanyaan ini menggeser fokus kajian dari sekadar menjelaskan komunikasi berdasarkan ajaran Islam menuju penelusuran tentang proses lahirnya pengetahuan komunikasi dalam perspektif Islam. Dari sinilah dirumuskan konsep Epistemologi Komunikasi Islam, yaitu kajian mengenai proses lahirnya sistem komunikasi yang bersumber dari wahyu Allah, dipahami melalui mekanisme epistemologi Islam, kemudian diwujudkan dalam praktik komunikasi yang membentuk manusia, masyarakat, dan pada akhirnya melahirkan peradaban Islam. Dengan demikian, Komunikasi Islam tidak lagi dipahami hanya sebagai aktivitas penyampaian pesan, melainkan sebagai sistem pembentukan (system of formation) yang berakar pada wahyu dan berorientasi pada terwujudnya kehidupan sesuai dengan ajaran Islam.
Pergeseran paradigma tersebut bukanlah koreksi terhadap paradigma sebelumnya, melainkan proses penyempurnaan yang berlangsung secara alamiah dalam perkembangan ilmu pengetahuan. Setiap perkembangan pemikiran melahirkan pertanyaan-pertanyaan baru yang menuntut penjelasan yang lebih mendasar, sehingga suatu disiplin ilmu dapat dibangun di atas landasan epistemologis yang semakin kokoh. Dengan demikian, perubahan paradigma merupakan bagian dari proses pendalaman terhadap objek kajian, bukan penolakan terhadap gagasan yang telah lebih dahulu dirumuskan.
Dalam filsafat ilmu, istilah paradigma sering dipahami secara sederhana sebagai cara pandang atau teori besar. Padahal, menurut Thomas S. Kuhn, paradigma memiliki makna yang jauh lebih luas. Paradigma merupakan keseluruhan kerangka berpikir yang digunakan oleh suatu komunitas ilmiah dalam memahami realitas, merumuskan pertanyaan, menentukan metode, menetapkan ukuran kebenaran, hingga memilih contoh-contoh penelitian yang dijadikan acuan. Setelah suatu paradigma diterima, para ilmuwan tidak lagi disibukkan oleh pencarian paradigma baru, melainkan memusatkan perhatian pada penyelesaian berbagai persoalan ilmiah (puzzle solving) dalam kerangka paradigma tersebut. Oleh karena itu, paradigma sesungguhnya merupakan seperangkat aturan dasar yang mengarahkan perkembangan suatu disiplin ilmu (Kuhn, 2012).
Perkembangan epistemologi modern Barat pada umumnya menempatkan pengalaman empiris, keraguan, maupun anomali sebagai titik awal lahirnya pengetahuan. Tradisi empirisme memulai ilmu dari observasi terhadap realitas, sedangkan tradisi rasionalisme menempatkan aktivitas berpikir sebagai titik berangkat pencarian kebenaran. Landasan epistemologis tersebut kemudian memengaruhi perkembangan berbagai disiplin ilmu hingga saat ini.
Dalam konteks itulah, sebelum membangun Komunikasi Pendidikan Islam, terlebih dahulu perlu ditegaskan paradigma yang menjadi titik tolak pengembangannya. Paradigma menentukan bagaimana realitas dipahami, bagaimana pengetahuan dibangun, bagaimana komunikasi dimaknai, dan bagaimana pendidikan diarahkan. Dalam perspektif Islam, realitas dipahami berdasarkan petunjuk wahyu, pengetahuan dibangun melalui mekanisme epistemologi Islam, kemudian diwujudkan menjadi perubahan melalui komunikasi. Atas landasan paradigma inilah pembahasan mengenai Epistemologi Komunikasi Pendidikan Islam selanjutnya disusun.
- Epistemologi Islam: Proses Allah Menganugerahkan Pengetahuan kepada Manusia
Kalau dipetakan secara historis Al-Ghazali hampir selalu menjadi titik awal ketika berbicara epistemologi Islam, Dalam Al-Munqidh min al-Dalal beliau menjelaskan perjalanan memperoleh pengetahuan. Sumber ilmu menurut beliau antara lain: indera, akal, dan wahyu (serta pengetahuan yang Allah anugerahkan). Pertanyaannya adalah: Bagaimana manusia memperoleh pengetahuan yang benar? Beliau belum membahas bahwa pertanyaan adalah mesin awal proses itu. Selanjutnya Ibn Taymiyyah: Dalam Dar’ Ta’arud al-’Aql wa al-Naql (Ibn Taymiyyah, 1991), beliau menolak pertentangan antara akal dan wahyu. Intinya: akal sehat, wahyu yang sahih, tidak mungkin bertentangan. Ini epistemologi yang sangat kuat. Tetapi lagi-lagi fokusnya hubungan akal dan wahyu. Mutahhari sedang membangun epistemologi ilmu. Beliau membicarakan tentang: Hakikat pengetahuan, hubungan akal dan wahyu, empirisme, rasionalisme, intuisi, realisme, dan bagaimana manusia mengetahui kebenaran (Muthahhari, 2010).
Adapun Syed Muhammad Naquib al-Attas (Al-Attas, Islam and Secularism, 1978) Al-Attas berbicara tentang: hakikat ilmu, adab, Islamisasi ilmu, worldview Islam. Beliau mengatakan bahwa krisis ilmu modern adalah loss of adab, hilangnya penempatan sesuatu pada tempatnya. Jadi beliau bergerak pada level worldview. Ismail Raji al-Faruqi (Al-Faruqi I. R., 1982): Beliau terkenal dengan Islamization of Knowledge. Fokusnya bagaimana seluruh disiplin ilmu dibangun kembali berdasarkan tauhid. Ini proyek besar, tetapi lebih banyak berbicara tentang struktur ilmu.
Ziauddin Sardar (Sardar, 1985). Sardar mengkritik krisis peradaban modern. Beliau menawarkan worldview Islam untuk membangun kembali ilmu. Tetapi beliau tidak merumuskan mekanisme komunikasidari pertanyaan menuju makna.
Tabel 1
Perkembangan Epistemologi Islam
| Tokoh | Masa Hidup | Konteks Peradaban | Pokok Epistemologi | Kata Kunci |
| Abu Hamid al-Ghazali | 1058–1111 M | Masa kejayaan Abbasiyah, konflik antara filsafat, teologi, dan tasawuf | Pengetahuan yang sah berasal dari integrasi wahyu, akal, pengalaman empiris, dan penyucian hati (kasyf). Kritik terhadap rasionalisme yang melampaui batas. | Wahyu, Akal, Kasyf, Tazkiyah |
| Ibn Taymiyyah | 1263–1328 M | Masa pasca-serangan Mongol dan kemunduran politik Islam | Menolak dikotomi wahyu dan akal. Akal yang benar pasti selaras dengan wahyu. Mengkritik logika Aristoteles sebagai satu-satunya ukuran kebenaran. | Wahyu, Fitrah, Akal Sehat |
| Murtadha Muthahhari | 1920–1979 | Kebangkitan pemikiran Islam modern menjelang Revolusi Iran | Mengembangkan sintesis wahyu, filsafat, dan ilmu pengetahuan modern. Menegaskan bahwa Islam bersifat rasional sekaligus spiritual. | Integrasi Wahyu-Akal |
| Syed Muhammad Naquib al-Attas | 1931–2026 | Krisis sekularisasi ilmu pengetahuan | Pengetahuan adalah datangnya makna dari Allah kepada jiwa manusia. Menawarkan konsep Islamisasi ilmu melalui koreksi terhadap worldview Barat. | Worldview Islam, Adab |
| Ismail Raji al-Faruqi | 1921–1986 | Dominasi paradigma ilmu Barat di dunia Islam | Menawarkan proyek Islamisasi seluruh disiplin ilmu dengan menjadikan tauhid sebagai paradigma dasar ilmu. | Tauhid, Islamisasi Ilmu |
| Ziauddin Sardar | 1951–sekarang | Era globalisasi, postmodernisme, dan krisis peradaban | Mengembangkan epistemologi Islam yang bersifat multidisipliner, kontekstual, dan berorientasi pada pemecahan masalah umat. Menekankan pentingnya ijtihad dan masa depan peradaban Islam. | Futures Studies, Ijtihad, Peradaban |
Secara umum, mereka membahas: Al-Ghazali; bagaimana manusia memperoleh pengetahuan. Ibn Taymiyyah membahas bagaimana memvalidasi pengetahuan. Muthahhari membahas bagaimana mengintegrasikan rasio dan wahyu. Al-Attas membahas bagaimana membangun worldview Islam. Al-Faruqi membahas bagaimana mengislamkan ilmu. Sardar bagaimana membangun ilmu untuk masa depan peradaban.
Selama ini epistemologi sering dipahami sebagai cabang filsafat yang membahas asal-usul, metode, dan validitas pengetahuan manusia. Pertanyaan yang diajukan umumnya berbunyi: bagaimana manusia memperoleh pengetahuan? Pertanyaan tersebut menempatkan manusia sebagai titik awal kajian. Islam memandang persoalan ini dari sudut yang berbeda. Sebelum membahas bagaimana manusia mengetahui, Islam terlebih dahulu menjelaskan bahwa kemampuan mengetahui merupakan anugerah Allah. Pengetahuan bukan sekadar hasil kerja indera dan akal, melainkan bagian dari sunnatullah dalam penciptaan manusia.
Karena itu, epistemologi Islam dapat didefinisikan sebagai kajian tentang bagaimana Allah memberikan, mengembangkan, memvalidasi, dan mengarahkan pengetahuan kepada manusia agar manusia mampu menjalankan fungsi kekhalifahan dan pengabdian kepada-Nya. Dengan demikian, subjek utama dalam epistemologi Islam bukan hanya manusia sebagai pencari ilmu, melainkan Allah sebagai sumber ilmu, sedangkan manusia adalah penerima amanah pengetahuan yang diberi kemampuan untuk mengembangkannya.
Pandangan ini berangkat dari prinsip dasar bahwa Allah adalah al-’Alīm, Maha Mengetahui, sementara seluruh pengetahuan manusia berasal dari-Nya. Al-Qur’an menegaskan bahwa Allah mengajarkan kepada manusia apa yang sebelumnya tidak diketahuinya, mengajarkan nama-nama kepada Nabi Adam, serta mengajarkan manusia melalui pena dan berbagai sarana pembelajaran. Bahkan kemampuan berpikir, mengingat, mengamati, dan menyimpulkan merupakan bagian dari karunia Allah kepada manusia. Dengan kata lain, seluruh aktivitas ilmiah manusia sesungguhnya berlangsung di dalam sistem pengetahuan yang telah Allah ciptakan.
Dari perspektif ini, proses lahirnya pengetahuan tidak berhenti pada penerimaan informasi. Allah juga menyediakan mekanisme agar pengetahuan berkembang melalui pengamatan terhadap alam, penggunaan akal, pengalaman hidup, dialog, pendidikan, penelitian, hingga pewarisan ilmu antar generasi. Semua aktivitas tersebut merupakan bagian dari ikhtiar manusia dalam mengelola potensi yang telah dianugerahkan Allah. Oleh sebab itu, kegiatan ilmiah bukanlah aktivitas yang berdiri sendiri, melainkan bagian dari pelaksanaan amanah kekhalifahan.
Islam juga mengenal mekanisme validasi pengetahuan. Tidak semua informasi diterima sebagai kebenaran. Wahyu menjadi standar tertinggi, sedangkan akal, pengalaman empiris, dan kesaksian manusia bekerja dalam koridor yang tidak bertentangan dengan wahyu. Karena itu, validitas pengetahuan dalam Islam tidak hanya diukur melalui koherensi logis atau pembuktian empiris, tetapi juga melalui kesesuaiannya dengan petunjuk Allah. Dengan demikian, wahyu bukan penghambat ilmu pengetahuan, melainkan kompas yang mengarahkan perkembangan ilmu agar tetap berada pada jalan yang benar.
Akhir dari seluruh proses epistemologi Islam bukanlah sekadar bertambahnya pengetahuan, melainkan terbentuknya manusia yang mampu menjalankan tugas kekhalifahan dan pengabdian kepada Allah. Ilmu bukan tujuan akhir, melainkan sarana untuk membangun peradaban yang sesuai dengan kehendak-Nya. Oleh sebab itu, keberhasilan epistemologi Islam tidak hanya diukur dari banyaknya pengetahuan yang dihasilkan, tetapi juga dari sejauh mana pengetahuan tersebut melahirkan iman, amal saleh, keadilan, kemaslahatan, dan kemajuan peradaban.
Dengan demikian, epistemologi Islam merupakan suatu sistem yang utuh. Ia dimulai dari Allah sebagai sumber pengetahuan, dilanjutkan dengan proses pemberian potensi belajar kepada manusia, pengembangan ilmu melalui akal dan pengalaman, validasi berdasarkan wahyu dan akal yang sehat, serta diakhiri dengan penggunaan ilmu untuk melaksanakan fungsi kekhalifahan dan pengabdian kepada Allah.
- Epistemologi Komunikasi Islam:
Epistemologi Islam menjelaskan bagaimana pengetahuan berasal dari Allah, diterima manusia melalui wahyu, akal, fitrah, pengalaman, dan berbagai sarana lainnya. Namun pengetahuan tidak berhenti pada proses diketahui. Pengetahuan baru memiliki makna sosial ketika dikomunikasikan sehingga mampu mengubah cara berpikir, sikap, perilaku, bahkan melahirkan perubahan masyarakat dan peradaban. Pada titik inilah lahir kebutuhan untuk mengembangkan Epistemologi Komunikasi Islam.
Epistemologi Komunikasi Islam mengkaji bagaimana Allah mentransmisikan pengetahuan kepada manusia melalui proses komunikasi sehingga melahirkan perubahan individu, masyarakat, dan peradaban. Dengan demikian, objek kajiannya bukan semata-mata asal-usul pengetahuan, melainkan proses komunikasi yang menjadikan pengetahuan itu hidup, dipahami, diterima, diamalkan, dan diwariskan antar generasi.
Secara sederhana perbedaan orientasi beberapa pendekatan tersebut dapat digambarkan sebagai berikut. Epistemologi klasik bertanya, bagaimana manusia mengetahui? Islamisasi ilmu bertanya, bagaimana ilmu dibangun sesuai dengan prinsip tauhid? Worldview Islam bertanya, bagaimana realitas dipahami menurut pandangan hidup Islam? Adapun Epistemologi Komunikasi Islam mengajukan pertanyaan yang berbeda, yaitu: bagaimana pengetahuan ilahi dikomunikasikan sehingga melahirkan perubahan manusia dan peradaban? Bagaimana komunikasi menjadi mekanisme pembentukan makna, keyakinan, tindakan, dan kehidupan sosial menurut paradigma Islam?
Dalam tradisi ilmu modern, sumber pengetahuan umumnya diletakkan pada pengalaman empiris, rasio, observasi, dan eksperimen. Kebenaran diuji melalui konsistensi logis, verifikasi empiris, replikasi, dan prinsip falsifiability. Tujuan akhirnya adalah menjelaskan gejala, menyusun teori, dan bila memungkinkan memprediksi fenomena.
Tradisi keilmuan Islam memperlihatkan struktur yang berbeda. Al-Qur’an tidak hanya menyampaikan informasi, tetapi menghadirkan pengetahuan dalam bentuk komunikasi yang hidup. Berulang kali wahyu menggunakan pola dialogis yas’alūnaka… qul (“mereka bertanya kepadamu…, katakanlah…”), sehingga pengetahuan lahir sebagai jawaban atas pertanyaan manusia. Pengetahuan ditransmisikan melalui komunikasi antara Allah, Rasul, dan umat, bukan sekadar sebagai kumpulan proposisi yang berdiri sendiri.
Pola komunikasi tersebut berlanjut dalam tradisi intelektual Islam. Kitab-kitab tafsir, fikih, ushul fikih, ilmu kalam, hingga karya-karya filsafat Islam lazim memulai pembahasannya dengan ungkapan fa in qīla (jika dikatakan), fa in qulta (jika engkau bertanya), atau fa in sa’ala sā’il (apabila seseorang bertanya), sebelum menyampaikan argumentasi dan kesimpulan. Struktur ini menunjukkan bahwa proses komunikasi bukan sekadar media penyampaian ilmu, melainkan bagian dari cara ilmu itu dibangun. Pengetahuan berkembang melalui dialog, pertanyaan, jawaban, argumentasi, klarifikasi, dan penyempurnaan makna.
Berdasarkan kenyataan tersebut, dapat diajukan hipotesis bahwa dalam Epistemologi Komunikasi Islam, pertanyaan(al-su’āl) merupakan titik awal lahirnya komunikasi ilmiah. Pertanyaan membangkitkan pencarian, pencarian melahirkan dialog, dialog mengarahkan metode, metode menghasilkan pengetahuan, dan pengetahuan yang dikomunikasikan melahirkan perubahan. Dengan demikian, komunikasi bukan sekadar saluran penyampaian informasi, tetapi mekanisme utama transformasi pengetahuan menjadi perubahan kehidupan.
Pandangan ini sekaligus menawarkan perspektif baru terhadap perkembangan ilmu. Apabila Thomas S. Kuhn menjelaskan bahwa perubahan paradigma didorong oleh akumulasi anomali yang tidak lagi dapat dijelaskan oleh paradigma lama, maka dalam perspektif Epistemologi Komunikasi Islam perubahan justru dimulai sejak lahirnya pertanyaan baru. Anomali bukan penyebab pertama perubahan ilmu, melainkan akibat dari munculnya pertanyaan-pertanyaan yang tidak lagi dapat dijawab secara memadai oleh paradigma yang sedang berlaku. Pertanyaan menjadi penggerak komunikasi ilmiah, komunikasi melahirkan pencarian, pencarian menghasilkan paradigma baru, dan paradigma baru kemudian membentuk peradaban.
Dengan demikian, Epistemologi Komunikasi Islam menjelaskan bagaimana pengetahuan yang berasal dari Allah ditransmisikan melalui proses komunikasi sehingga dapat dipahami manusia. Akan tetapi, proses mengetahui belum otomatis melahirkan perubahan. Pengetahuan yang telah diterima masih harus diinternalisasikan, dihayati, dibiasakan, dan ditransformasikan menjadi kepribadian serta perilaku. Persoalan inilah yang menjadi wilayah kajian Epistemologi Komunikasi Pendidikan Islam.
- Epistemologi Komunikasi Pendidikan Islam:
Salah satu pertanyaan mendasar dalam kajian pendidikan adalah: mengapa seseorang yang telah mengetahui kebenaran belum tentu berubah menjadi pribadi yang lebih baik? Banyak orang memahami ajaran agama, menguasai berbagai ilmu pengetahuan, bahkan mampu menjelaskan nilai-nilai moral kepada orang lain, tetapi pengetahuan tersebut tidak selalu terwujud dalam sikap, perilaku, maupun karakter. Pertanyaan inilah yang menjadi titik tolak lahirnya Epistemologi Komunikasi Pendidikan Islam.
Jika Epistemologi Islam mengkaji bagaimana pengetahuan berasal dari Allah, diperoleh, divalidasi, dan digunakan oleh manusia, sedangkan Epistemologi Komunikasi Islam mengkaji bagaimana pengetahuan tersebut dikomunikasikan sehingga melahirkan perubahan, maka Epistemologi Komunikasi Pendidikan Islam mengkaji bagaimana proses komunikasi yang benar mampu mentransformasikan manusia menuju kedewasaan dan kepribadian Islam. Dengan demikian, objek kajiannya bukan lagi sekadar pengetahuan ataupun komunikasi, melainkan proses transformasi manusia melalui komunikasi yang berlandaskan wahyu.
Dalam paradigma komunikasi modern, komunikasi umumnya dipahami sebagai proses penyampaian informasi, persuasi, atau interaksi sosial. Keberhasilan komunikasi sering diukur dari tersampaikannya pesan, perubahan sikap, atau tercapainya kesepahaman antar pihak. Perspektif ini memberikan kontribusi besar terhadap perkembangan ilmu komunikasi, tetapi belum sepenuhnya menjelaskan bagaimana komunikasi mampu membentuk manusia secara utuh.
Dalam perspektif Islam, komunikasi pendidikan memiliki tujuan yang lebih mendasar, yaitu membentuk manusia agar mampu menjalankan fungsi kekhalifahan dan pengabdian kepada Allah. Oleh karena itu, paradigma komunikasi pendidikan Islam tidak berhenti pada keberhasilan menyampaikan pesan, melainkan diarahkan pada keberhasilan membentuk cara berpikir, cara bersikap, cara bertindak, dan akhirnya membentuk kepribadian. Komunikasi dipahami sebagai proses pembinaan yang berlangsung terus-menerus hingga pengetahuan berubah menjadi kesadaran, kesadaran menjadi amal, amal menjadi kebiasaan, dan kebiasaan membentuk karakter.
Paradigma ini menempatkan dialog sebagai mekanisme utama pembentukan manusia. Dialog bukan sekadar percakapan dua arah, melainkan proses intelektual dan spiritual yang membangkitkan kesadaran melalui pertanyaan-pertanyaan yang benar. Pertanyaan tidak hanya berfungsi menggali informasi, tetapi juga menggerakkan akal, hati, dan kemauan untuk mencari kebenaran. Dengan demikian, pendidikan dipahami sebagai proses memanusiakan manusia melalui dialog yang melahirkan pengetahuan, perubahan, dan pembentukan karakter.
Atas dasar itu, Epistemologi Komunikasi Pendidikan Islam dapat didefinisikan sebagai kajian tentang sumber, cara memperoleh, memvalidasi, dan menggunakan pengetahuan mengenai proses komunikasi yang Allah tetapkan untuk mentransformasikan manusia sehingga terbentuk pribadi, masyarakat, dan peradaban Islam berdasarkan wahyu, sunnah, akal, pengalaman, dan realitas sejarah.
Pandangan ini sejalan dengan pemikiran Al-Ghazali yang menegaskan bahwa ilmu tidak memiliki nilai apabila tidak melahirkan amal. Pengetahuan merupakan awal perjalanan, sedangkan kesempurnaannya terletak pada perubahan perilaku. Prinsip tersebut selaras dengan firman Allah dalam QS. An-Najm [53]:39, “Dan bahwa manusia tidak memperoleh selain apa yang telah diusahakannya,” serta QS. At-Taubah [9]:105, “Dan katakanlah: Bekerjalah kamu, maka Allah, Rasul-Nya, dan orang-orang mukmin akan melihat pekerjaanmu.” Kedua ayat ini menunjukkan bahwa ukuran keberhasilan bukan terletak pada banyaknya pengetahuan yang dimiliki, tetapi pada perubahan nyata yang diwujudkan dalam amal dan kehidupan.
Dengan demikian, Epistemologi Komunikasi Pendidikan Islam menggeser ukuran keberhasilan pendidikan dari sekadar “mengetahui” ke “menjadi.” Pendidikan tidak berhenti ketika peserta didik memahami suatu konsep, tetapi baru mencapai tujuannya ketika pengetahuan tersebut bertransformasi menjadi keyakinan, perilaku, akhlak, dan akhirnya membentuk peradaban Islam. Di sinilah komunikasi pendidikan menemukan kedudukan strategisnya sebagai mekanisme transformasi yang menjembatani ilmu dengan amal, pemahaman dengan kepribadian, serta wahyu dengan kehidupan manusia.
- Kerangka Paradigmatik dan Epistemologis Komunikasi Pendidikan Islam
Untuk memudahkan memahami hubungan antarkonsep yang telah dibahas pada bab ini, berikut disajikan kerangka paradigmatik dan epistemologis Komunikasi Pendidikan Islam. Kerangka ini bukan dimaksudkan untuk menyusun hirarki kemuliaan, melainkan untuk menggambarkan alur konseptual bagaimana Allah membimbing manusia hingga lahir pengetahuan, komunikasi, pendidikan, dan akhirnya peradaban.
Pada tingkatan pertama diletakkan Allah SWT sebagai sumber segala pengetahuan dan hidayah. Landasan ini mengacu pada penjelasan Ahmad Mustafa al-Maraghi dalam kitabnya Tafsir al-Maraghi, ketika menafsirkan (ihdina), khususnya pada QS. Al-Fatihah ayat 5 (ihdinash-shirāthal-mustaqīm). Kemudian dirujuk juga oleh Muhammad Abduh, Allah membimbing manusia melalui empat tingkatan hidayah. Pertama, Hidayah al-Wijdān al-Ṭabī’ī, yaitu petunjuk berupa insting atau dorongan alami yang telah Allah tanamkan sejak lahir, seperti tangisan bayi ketika lapar atau haus. Kedua, Hidayah al-Ḥawās wa al-Masyā’ir, yaitu petunjuk melalui pancaindra yang memungkinkan manusia mengenali dan berinteraksi dengan lingkungan. Ketiga, Hidayah al-’Aql, yaitu petunjuk berupa akal yang memungkinkan manusia berpikir, menganalisis, serta mengoreksi keterbatasan pancaindra. Keempat, Hidayah al-Dīn, yaitu petunjuk melalui wahyu yang dibawa para nabi dan mencapai kesempurnaannya dalam Al-Qur’an. Keempat bentuk hidayah tersebut merupakan satu kesatuan anugerah Allah yang membimbing manusia dalam memperoleh dan mengembangkan pengetahuan (Muṣṭafā al-Marāgiy , 1946).
Paradigma Islam ditempatkan pada tingkatan berikutnya karena pada titik inilah wahyu dipahami oleh manusia melalui potensi akal yang telah dibimbing oleh hidayah Allah. Paradigma Islam bukanlah wahyu itu sendiri, melainkan cara memandang realitas yang dibangun berdasarkan petunjuk wahyu. Dalam proses tersebut terjadi interaksi antara wahyu, akal, pengalaman, dan realitas kehidupan. Ada manusia yang menerima petunjuk wahyu sejak awal, ada yang menolaknya, dan ada pula yang melalui proses dialog, pencarian, serta pergulatan intelektual yang panjang sebelum sampai pada keyakinan. Dari paradigma inilah kemudian berkembang Epistemologi Islam, Epistemologi Komunikasi Islam, dan Epistemologi Komunikasi Pendidikan Islam sebagai landasan lahirnya teori, metode, dan praktik pendidikan.
Bagan 1
Kerangka Epistemologi Komunikasi Pendidikan Islam
Bibliography
Al-Zarnuji, B. (2005). Ta‘līm al-Muta‘allim Ṭarīq at-Ta‘allum. Beirut: Dār al-Kutub al-‘Ilmiyyah.
Qutb, S. (1985). Fi Zhilal al-Qur’an. Beirut: Dar al-Shuruq.
Al-Attas, S. M. (1995). Prolegomena to the Metaphysics of Islam. Kuala Lumpur: ISTAC.
Al-Attas, S. M. (1978). Islam and Secularism. Kuala Lumpur: ABIM.
Al-Attas, S. M. (1991). The Concept of Education in Islam. Kuala Lumpur: ISTAC.
Al-Faruqi, I. R. (1982). Islamization of Knowledge: General Principles and Work Plan. Herndon: IIIT.
Al-Faruqi, I. (1992). Al-Tawhid: Its Implications for Thought and Life. IIIT.
Rahman, F. (1982). slam and Modernity: Transformation of an Intellectual Tradition. Chicago: University of Chicago Press.
Taufik, M. (2023). Familial Approach. Penguatan Pesantren Mu’adalah Jawa Barat. Cirebon: LPD Al-Bahjah.
Taufik, M. (2012). Etika Komunikasi Isalm. Bandung: Pustaka Setia.
Ibnu Taimiyyah, A. A. (1984). Al-Amru bil-ma’ruf wan-nahyu ‘anil-munkar . Beirut: Dar al-Kitab al-Jadid.
Mowlana, H. (1996). Global Communication in Transition The End Of Diversity? London: Sage Publication.
Mowlana, H. (2004 , 10 16). The Function of Media.
Ibn Hisyam. (1990). Sirah Nabawiyah. Beirut: Dar al-Kutub al-‘Ilmiyyah.
Muthahhari, M. (2010). Pengantar epistemologi islam: sebuah pemetaan dan kritik Epistemologi Islam atas paradigma pengetahuan ilmiah dan relevansi pandangan dunia. Shadra Press.
Kuhn, T. (2012). The Structure of Scientific Revolutions (4th ed.). Chicago: University of Chicago Press.
Muṣṭafā al-Marāgiy , A. (1946). Tafsīr al-Marāgiy. (t. 1371 H) an-Nāsyir: Syirkah Maktabah wa Maṭba‘ah Muṣṭafā al-Bābiy al-Ḥalabiy wa Awlāduh bi Miṣr.
Ibn Taymiyyah. (1991). Dar’ Ta’arud al-’Aql wa al-Naql. Riyadh: Jami’at al-Imam Muhammad ibn Saud.
Al-Ghazali. (n.d.). Al-Munqidh min al-Dalal. Beirut: Dar al-Kutub al-’Ilmiyyah.
Sardar, Z. (1985). Islamic Futures: The Shape of Ideas to Come. London: Mansell.

Comments are Closed