media berbagi dan silaturahmi

Kebisingan Kota, China dan Komen si AI

Sembari nongkrong di salah satu Hotel Jalan Veteran di Jakarta mengamati kehidupan menjelang subuh ternyata hiruk pikuk mereka yang bekerja saya lihat ada mobil pick up pengantar karangan bunga, kemudian ada petugas yang bekerja di kios-kios makanan siap saji 24 jam serta suara kendaraan bermotor yang baik mobil maupun sepeda motor luar biasa bisingnya kontras sekali dengan apa yang saya alami selama di Xi’an China, kebisingan kebisingan itu nyaris tidak kita temukan kota betul-betul terasa hening, memanjakan telinga yang tidak ada kebisingan knalpot tidak ada debu-debu yang bertaburan ditiup asap knalpot ini kontras yang luar biasa. Menurut saya kita harus menata lagi ke depan. Bagaimana kita mengatur tata kehidupan kita di negara ini? Gimana Menurut anda? Beoitu saya tanyakan pada AI.

Ai pun menjawab seakan ia tahu segalanya: Catatan pengamatan yang sangat tajam dan reflektif. Duduk di koridor Jalan Veteran menjelang subuh memang menyajikan teatrikal realitas yang luar biasa—di satu sisi ada denyut nadi ekonomi rakyat yang tangguh (pengantar bunga, penjaga kios 24 jam), namun di sisi lain ada “biaya mahal” berupa polusi suara dan udara yang harus dibayar oleh kenyamanan hidup kita.

Kontras yang Anda rasakan antara Jakarta dan kota-kota di China memang sangat valid. China dalam satu dekade terakhir melakukan transformasi masif yang mereka sebut sebagai Ecological Civilization. Apa yang Anda rasakan di sana—senyap dan bersih—bukan terjadi secara alami, melainkan hasil dari desain kebijakan yang sangat agresif.

Dengan penuh semangat si AI pun melanjutkan penjelasannya bagaikan seorang ahl tata kota dan dinas pekerjaan umum: Jika kita merefleksikan pengamatan Anda untuk menata ulang tata kehidupan dan mobilitas di Indonesia ke depan, ada beberapa aspek struktural yang perlu kita bedah:

1. Revolusi Senyap: Elektrifikasi Transportasi Total

Ketiadaan bising knalpot dan pekatnya asap di China dipicu oleh adopsi kendaraan listrik (EV) yang masif, terutama roda dua dan transportasi publik.

  • Masalah Kita: Di Indonesia, sepeda motor berbahan bakar fosil (bahkan yang menggunakan knalpot brong/bising) masih menjadi tulang punggung mobilitas horizontal.
  • Tantangan Ke Depan: Menata ulang bukan sekadar mengganti mesin bensin ke listrik, tetapi bagaimana insentif dan regulasi emisi serta kebisingan ditegakkan tanpa kompromi. Zona bebas kendaraan emisi/bising di pusat kota (seperti kawasan bersejarah atau ring satu termasuk Veteran) bisa menjadi proyek percontohan.

2. Paradoks Logistik Hubungan Malam Hari

      Mobil pick-up pengantar bunga dan logistik subuh yang Anda lihat adalah pahlawan ekonomi yang bekerja saat kota tertidur agar siang hari kota bisa berjalan. Namun, kendaraan logistik kita mayoritas masih menggunakan teknologi mesin tua yang bising dan berpolusi.

Solusi Tata Kota: Restrukturisasi armada logistik perkotaan (urban logistics). Kota-kota masa depan harus mewajibkan kendaraan niaga ringan yang beroperasi di jantung kota pada malam/subuh hari untuk bermigrasi ke kendaraan listrik demi menjaga kualitas udara dan ketenangan istirahat warga kota.

3. Desain Tata Ruang yang Memisahkan “Fungsi” dan “Polusi”

      Kios 24 jam menunjukkan kota yang hidup secara organik. Namun, kenyamanan telinga dan paru-paru sering kali dikorbankan karena tidak adanya pembatas (buffer) yang ideal antara jalan raya, pusat aktivitas ekonomi mikro, dan kawasan pejalan kaki. Penataan ke depan harus berbasis pada human-centric design—menata kota agar ramah bagi manusia yang berjalan kaki dan bernapas, bukan memanjakan kendaraan bermotor.

Sudut Pandang Kritis: Kontras Budaya dan Penegakan Hukum

Ada satu hal mendasar yang membedakan kita dengan China dalam konteks ini: karakter kontrol sosial dan penegakan hukum.

Di China, ketertiban tersebut didukung oleh sistem pengawasan (surveillance) yang sangat ketat dan intervensi negara yang top-down. Di Indonesia, tantangannya adalah bagaimana membangun ketertiban dan kesadaran kolektif tersebut tanpa menghilangkan ruang-ruang organik tempat ekonomi rakyat kecil (seperti kios 24 jam dan pedagang bunga) bersandar.

Kita tidak ingin kota yang bersih dan senyap tapi mati secara sosial. Kita menginginkan kota yang tetap hidup, tetap inklusif, namun tertib secara ekologis.

Melihat fenomena subuh di Jalan Veteran tadi, menurut Anda, manakah yang lebih mendesak untuk dibenahi terlebih dahulu di lini kebijakan kita: memperketat regulasi kelayakan kendaraan (uji emisi & kebisingan knalpot) atau merombak total sistem transportasi publik agar sektor informal pun beralih dari kendaraan pribadi? Begitulah jawaban si AI, yang diakhiri dengan pertanyaan balik ke saya!

Kemudioan saya jawab begini: Untuk poin regulasi emisi kan sebetulnya sudah ada regulasinya ya tapi kontrolnya, barangkali? Kan kita masih menjual aksesoris-aksesoris seperti knalpot racing hingga knalpot standar yang diubah menjadi knalpot bising itu satu hal kemudian yang kedua. Saya kira entah gimana caranya ini mestinya ada keseriusan dalam  misalkan penataan penataan kebisingan knalpot.  Kan sudah ada  undang-undang lalu lintas kan ada di situ, tapi lagi-lagi kita terjebak pada alasan kuno ya alasan kuno dan dengan ungkapan misalkan ini kan harus dilakukan dari hulu ke hilir secara masif. Regulasi ya ditegaskan terus ada kejahatan itu satu sisi, tapi penjualnya masih tetap memproduksi knalpot racingnya juga harus ditertibkan?  Boleh jadi juiga soal mentalitas dan kesadaran kolektif. Sebagian kita masih suka menampilkan bahwa kebisingan adalah identitas. Ini ini gimana cara menyelesaikannya menurut anda? Saya balik tanya, diskusinya jadi Panjang, silahkan teruskan sendiri….bising

Comments are Closed