Ramadlan Tempo Dulu

Print Friendly, PDF & Email

Ketika menjelang Ramadlan tiba, dulu di kampungku biasanya ada gerakan, entah apa namanya, yang diingat hanya suka ada acara keramas dan mandi di sungai, dengan sampo terbuat dari daun randu yang diulek-ulek mamakai batu, atau juga kulit jengkol, sabun mandi juga unik, memakai daun petai selon (bahasa kampung saya namanya pelending), gosok giginya pun memakai abu atau pecahan genting tanah merah yang dihaluskan, ada juga memakai daun eurih (semacam ilalang) yang disewir-sewir. Semua orang sekampung pada mandi di sungai, karena hanya itu sarana bersih-bersih yang ada waktu itu.

Selesai gerakan bersih-bersih yang masip dan individual, biasanya digerakkan juga bersih-bersih mushala atau mesjid sebagai persiapan shalat tarawih bersama. Sawang-sawang disapu, lantai dibersihkan, tikar pandan dicuci, tentu saja anak-anak sangat menikmati suasana ini, mereka bisanya senang main air dalam rangka mencuci lantai, asyiik.

Kemudian saat tiba masa Ramadalan, menjelang hari pertama, pada sore harinya ada kunjungan sambil membawa bingkisan dalam lantang (semacam tempat makanan terbuat dari kaleng yang tersusun) berisi nasi serta lauk pauk, biasanya dari orang anak ke orang tua, atau kepada kerabat yang lebih tua, namanya hantaran munggah; artinya naik, maksudnya mempersiapkan diri untuk naik menuju puasa.

Lalu setelah masuk Ramadlan   ada pembagian jadwal memberi konsumsi bagi peserta shalat tarawih. Setiap rumah kebagian gilirannya untuk menyediakan konsumsi –wedang bahasa kampungnya– model konsumsinya juga sebatas makanan kampung, semacam lontong, buras yang dibungkus daun pisang, serta ranginang, opak singkong,  dan kuping (terbuat dari tepung beras yang digoreng) rebus ubi, talas, singkong dan makanan hasil bumi lainnya, air teh dan kopi juga tersedia.

Usai ngawedang (menyantap konsumsi yang tersedia) dilanjutkan dengan tadarus bersama, tidak langsung pulang ke rumah seperti kebanyakan yang terjadi sekarang.  Tidak ada pengeras suara waktu itu, anak-anak membaca al-Qur’an orang tua juga baca, sesekali jika ditemui keslahan bacaan anak-anak ada pembetulan dari yang tua. Sementara sebagian lain juga ada yang mengobrol dengan tema-tema keseharian, kadang diisi juga tanya jawab sekitar puasa.

Ketika puasa sudah berjalan, di mesjid atau mushala terlihat orang-orang ada yang duduk sambil berdzikir, ada yang baca al-Qu’an, ada pula yang tidur siang, baik pagi hari mapun siang hari ba’da dzuhur. Sementara sore harinya ba’da ashar ibu-ibu sibuk menyiapkan makanan untuk buka, anak-anak dan para pria bergerombol di hadapan rumah sambil ngobrol ke sana ke mari, menunggu datangnya waktu buka, semuanya sudah bersih siap berpakaian rapi (biasanya sarungan) ada yang sekedar main di tepi jalan atau ke tempat yang lebih luas seperti pinggiran sawah tempat konsentrasi masa para penunggu waktu buka, main sepeda hilir mudik di jalan biasanya dilakukan anak-anak, nama kegiatan keluar rumah ba’da ashar sambil menunggu buka itu disebut ngabuburit (menunggu sore).

Ada yang tak kalah serunya, bagi masyarakat makanan pembuka untuk buka puasa itu makan atau minum yang manis-manis, kolak, bubur kacang serta sirop itu biasnya pilihan menu yang disediakan oleh keluarga di bulan Ramadlan. Kebiasaan ini pun melahirkan budaya jalan sore sambil membeli es batu yang hanya tersedia di kota kecamatan.

Adapun malam harinya anak-anak muda biasa membuat kelompok untuk membangunkan sahur, mereka berkeliling dengan terlebih dahulu membuat sendiri alat-alat  seperti kentongan, calung dan gendang yang dipukul secara berirama di malam hari untuk membangunkan sahur keliling kampung.

Dari tadarus yang dilakukan setiap malam itu, bahkan ditambah waktu-waktu shalat lalu diagendakan khataman, biasanya setiap mushala atau mesjid mnegadakan kahatamn sudah terjadwal tanggalnya, untuk mushala sekitar rumah misalnya sekitar tanggal 27 Ramadlan.

Sementara aktifitas keseharian seperti meladang atau pekerjaan pembangunan rumah dan lainnya tidak ditemui di bulan Ramadlan, bulan itu menjadi sangat khusus untuk beribadah. Tak ada nonton TV tak ada sinetron apalagi publikasi iklan, kreratifitas mengisi Ramadlan bagi anak-anak yang libur sekolah adalah dengan mengaji –menggeser jadwal mengaji dari malam hari ke siang hari, ba’da dzuhur. ada juga perlombaan MTQ yang diselenggarakan oleh pengurus mesjid tertentu.

Masa itu kegiatan ceramah juga tidak terlalu banyak seperti sekarang, pertanyaan-pertanyaan sekitar  tata cara puasa dan hukum-hukum lainnya disampaikan dengan dialog saja ba’da shalat. Tidak ada kuliah subuh atau kultum sebelum tarawih, karena budaya kultum dan kuliah subuh baru muncul belakangan. Pengajaran untuk ibu-ibu ada juga peserta bapak-bapak hanya melalui majlis taklim  yang sudah terjadwal harinya di masing-masing mushala, mereka biasanya keliling selama satu minggu dari mesjid atau mushala ke mesjid lainnya.

Begitulah potret aktivitas Ramadlan masa sekitar tahun 70an atau mungkin sebelumnya sudah berjalan. Belum ada buka bersama atau tarawih keliling seperti yang disaksikan sekarang, tidak ada lari pagi seperti yang banyak mewarnai Ramadlan saat ini, kehidupan pada tempo dulu banyak mencerminkan kemandirian setiap keluarga di satu sisi dan peguyuban yang kuat di sisi yang lain.

Zaman terus melaju berbagai pasilitas terus berkembang, kini budaya itu sudah berubah seperti yang dapat disaksikan, bahkan semakin terus berubah macam-macam saja gayanya, yang dulu tidak terlalu banyak macam tapi banyak makna, kini –mudah-mudahan salah duga– semakin banyak macam sedikit makna.