Menulis

Print Friendly, PDF & Email

Pada tahun 1984 waktu itu masih santri kelas VI C di pondok, pelajaran bahasa Indonesia, ustad menugaskan santri untuk menulis resensi,  setelah memberi materi cara meresensi, penulis mencoba meresensi buku yang berjudul Klasifikasi Ayat al-Qur’an, resensi tersebut kemudian oelah ustad dimuat dalam majalah Himmah, sebuah terbitan yang diselenggarakan oleh DEMA IPD (Institut Pendidikan Daarussalam). Bahagia rasanya waktu itu.

Setelah lulus dari pesantren kebetulan di rumah orang tua berlangganan salah satu majalah Panji Masyarakat waktu itu menjadi master piece majalah Islam di bawah pelopor Buya Hamka. Sampai sekarang masih ingat beberapa rubrik yang tersedia, di antaranya yang diasuh sendiri oleh Buya Hamka rubrik “Dari Hati ke Hati” selain rubrik unggulan seperti Tafsir dan Mudzakarah. Beberapa nama yang kemudian menjadi tokoh nasional terpampang dalam deretan redaksi sperti  Ridwan saidi, Su’bah Asa, Fachri Ali, Azumardi Azra, Komarudin Hidayat, Hadimulyo dan tentu saja Rusydi Hamka, Akmal Stanza, Afif Amrullah, Badri Yatim, Abdurrauf S,  serta belakangan Didin Sirojudin AR (yang kemudian lebih mengembangkan seni kaligrafi al-Qur’an).

Sambil otak-atik berbagai tulisan panjimas, lalu penulis coba ketak-ketik dan mengirimkannnya ke Panjimas, alhmadulillah selang beberapa bulan dikembalikan dengan lampiran kriteria pemuatan artikel di majalah tersebut. Surat pengembalian tersebut oleh orang tua diberikan kepada penulis sambil berkata: “ini barang kali kamu mau kembangkan menulis.” Surat itu lalu dibawa ke Jakarta dan sesekali dibuka untuk mempelajari kriterianya.

Kemudian pada suatu ketika masa semester 1 Tarbiyah B Arab, tahun 1987an ada kegiatan jaman itu namanya Upgrading Jurnalistik yang diselenggarakan BPKM IAIN Jakarta. terangsang kembali minat menulis yang selama ini terpendam, kemudian mengikuti acara tersebut. Pengalaman mengikuti upgrading tersebut tentu saja menambah wawasan jurnalistik penulis; beberapa istilah baru yang mulai dikenal antara lain 5 W 1 H, Piramida terbalik, feature, laporan utama, serta istilah jurnalistik lainnya. Adapun pengisi materi waktu itu dari HU Pelita ada AK Yakubi, kemudian Rusydi Hamka dari Panjimas, beberapa jurnalis dari Kompas dan Tempo, semuannya menjadi pegalaman baru bagi penulis.  Bbeerpa informasi juga didapat seperti ungkapan bahwa para penulis tidak langsung jadi, mereka merasakan berkali-kali tulisannya ditolak redaksi, untuk menulis puisi kononseorang penyair bisa menghabiskan waktu berbulan-bulan, satu puisi ditulis,lalu disimpan dibawah kasur, kemudian dibaca lagi setelah seminggu, lalu ditulis lagi dan seterusnya sampai akhirnya bisa tembus di media masa.

Pada masa tahun 1987an kegandrungan mahasiswa Ciputat untuk menulis sangat tinggi– mungkin karena pengarus para seniornya di atas., ada yang menjadi kontributor majalah remaja, akatifis koran kampus dan beberapa penerjemah buku. Pada saat itu muncul karya monumental Muqadimah Ibnu Khaldun yang diterjemahkan oleh Ahmadi Taha, Helmi Hidayat menerjemahkan Hay Bin Yakdan, serta beberapa tulisan karya mahasiswa s 1 yang muncul pada rubrik artikel di HU Pelita seperti Ade Komarudin, Dani Ramdani dan lainnya.

Pada waktu yang sama penulis terus belajar meulis dengan berbagai cara, pernah pada saat mempelajari tulisan dengan meneliti suatu artikel dari surat kabar ternama dengan meneliti jumlah huruf dari kiri ke kanan dihitung baris demi baris, berapa jumlah baris dari  halamn kwarto, berapa kata per paragraf  sehingga tergambar berapa halaman kwarto maksimal dari sebuah artikel, bagaimaa menyusun paragraf dan mengembangkannya. masa itu menulis hanya bersandar pada mesin tik, tidak natifikasi jumlah kata pada suatu tulisan seperti sekarang yang ditawarkan microsoft word misalnya. Semua sangat tergantung pada ketelitian saat menulis.

Sambil terus belajar menulis artikel populer, tak lupa menulis resensi buku –yang menjadi andalan penulis– tetap dijalankan. beberapa resensi dimuat setiap minggu di HU Pelita, lumayan dapat menambah percaya diri dan memotivasi untuk terus meresensi. Sampai seorang teman jika mengenalkan saya dia akan menyebut penulis resensi –entah serius entah mengejek– tapi ya itu kenyataan yang diterima.

Keadaan demikian cukup mengasyikan saat ada suasana saling memperhatikan karya sesama teman, jika ada tulisan para penulis ciputat yang terbit di media satu sama lain saling memberitahu, bahkan tidak jarang berakhir dengan diskusi konten tulisan tersebut. Secara tidak sengaja tampak terbentuk komunitas para penulis muda dengan berbagai keahlian.

Setelah sekian lama menjadi penulis resensi sebenarnya banyak yang didapat minimal belajar membaca secara kritis, menemukan ide yang ditawarkan penulisnya sambil coba- coba mengomentari ide tersebut, meneliti buku mulai dari penulisnya, outline dan jumlah halaman serta nama penerbit dan tahun terbitnya. secara subyektif penulis membuat juga kaidah pribdai; dari satu buku yang dibaca harus melahirkan satu tulisan.

Kaidah tersebut terus dikembangkan, ketika membaca buku yang dipikirkan adalah bagaimana bisa melahirkan satu tulisan dari buku tersebut.

Tepat pada hari ulang tahun penulis tahun 1987 pertama kali tulisan dalam bentuk artikel dimuat di Harian Terbit, sebuah harian di Ibu Kota yang baru muncul di era itu. Percaya diri tentu saja semakin terbangun, maka mulai dicoba menembus panjimas pertama kali berupa artikel terjemahan dari Majalah Ahlan Wa Sahlan sebuah majalah milik Saudi Airlines, dari artikel budaya kemudian dengan mencoba memasukkan resensi juga ke Panjimas dan tembus.  Dikirim atau tidak dikirim usaha untuk menulis artikel terus dilakukan sampai pada suatu saat ada kunjungan teman seorang wartawan Masakini Yogyakarta, penulis tunjukkan artikel yang sudah rampung, tapi belum ada judul. Eh ini saya ada artikel buat Panjimas, baiknya diberi judul apa ya? mana saya baca, katanya, setelah usai baca wah ini bagus, judulnya supaya punya magnitude ini saja “refleksi kritis terhadap idiom-idiom Islam”  katanya. ternyata jitu, artikel denganjudul tersebut masuk ke Panjimas, setelah itu semakin semangat menulis artikel, terutama yang bersifat analisis kebahasaan dan bernuansa tafsir. dengan misi meluruskan beberapa permalasahan makna yang beredar di masyarakat.

Tak ada satu kegiatan tidak melahirkan tulisan. Ketika mengikuti KKN sudah diazam akan membuat tulisan tentang kegiatan KKN dan alhamdulillah terlakasana.  Setelah pulang kampung tradisi menulis itu tetap dilaksanakan baik di media lokal mapun nasional, bahkan banyak permintaan tulisan untuk jurnal.

Belakangan, ketika sedang kuliah, menulis artikel tidak lagi jadi perhatian, selanjutnya ingin mengebangkan kepada penulisan buku. Beberapa tugas makalah dihimpun dan sengaja memilih judul-judul yang merupakan outline dari sebuah buku, maka usai perkuliahan satu semester makalah-makalah itu bisa diterbitkan dalam bentuk buku. Tradisi menulis ini kemudian dijadikan juga sebagai dasar dalam penulisan tesis maupun disertasi, semuanya disetting untuk bisa jadi buku dan menyajikan suatu yang baru.

Lanjut ke masa kini, saat internet memfasilitasi  semuanya, maka kegemaran menulis ini terus dikembangkan dengan media baru yang lebih mandiri, yaitu berupa halaman website. beberapa tulisan dimuat di website pribadi, kemudian pada gilirannya dihimpun menjadi sebuah buku. Tafsir Inspiratif I dan Tafsir Inspiratif II adalah  himpunan artikel di website. karena teringat kata -kata pak KH Imam Zarkasyi:

Andaikata muridku tinggal satu, akan tetap kuajar, yang satu ini sama dengan seribu, kalaupun yang satu ini pun tidak ada, aku akan mengajar dunia dengan pena.