As-Sakīnah

Print Friendly, PDF & Email

As-Sakīnah kata yang tidak asing di telinga kita, terlebih jika ada acara pernikahan, kata ini bisa disebut berkali-kali oleh setiap pembicara pada acara tersebut. Para mufasir mengartikannya dengan kata At-Thuma’ninah yang berarti ketenangan.

Dalam al-Qur’an kata As-Sakīnah dengan bentuk mashdar disebutkan dua kali keduanya ada pada surat Al-Fath ayat ke 4 dan ayat ke 18. Ayat pertama menjelaskan bahwa Allah SWT menurunkan As-Sakīnah (ketenangan) pada hati orang-orang yang beriman untuk menambahkan keimanan atas iman yang telah mereka miliki dan ayat ke 18 belas juga masih pada kejadian yang sama, yaitu memberikan ketenangan kepada kaum muslimin, ketika mereka melakukan baiat kepada Rasulullah SAW bahwa mereka akan siap berperang bersama Rasulullah SAW.

Dalam bentuk mashdar yang lain; Sakīnatahu disebutkan 3 kali; pada suat at-Taubah ayat 26 dan 40. Ayat 26 berkenaan dengan gejolak jiwa kaum muslimin pada saat perang Hunain, kala itu kaum muslimin bangga dengan jumlah yang banyak dan memiliki keyakinan akan menang karena jumlahnya. Nyatanya mereka dipukul mundur karena kebanggaannya itu, saat terpukul itu kemudian Rasulullah menyeru para sahabatnya untuk kembali, dengan menyeru para sahabat yang mengikuti baiat di Huadibiyah, ahkirnya mereka berkumpul lagi sekeliling Rasulullah SAW. Adapun ayat 26 surat al-Fath masih tentang perdamaian Hudaibiyah dab Baiat Ridwan.

Sedangkan ayat 40 mengisahkan tentang ketenangan yang diberikan Allah SWT saat Rasulullah SAW dan Abu Bakar berada di Gua Tsur dalam perjalanan hijrah ke Madinah (Yastrib). Saat Abu Bakar bersedih dan berada dalam kekhawatiran turunlah ayat itu, Jangan bersedih, Sesungguhnya Allah bersama kita. Lalu Allah menurunkan ketenangan kepada keduanya.

Melihat kejadian dari kisah turunnya ayat bertemakan As-Sakīnah ini maka dapat dipahami bahwa kata tersebut merupakan salah satu bentuk ni’mat Allah yang diberikan kepada manusia yaitu berupa  perasaan “ketenangan” sat menghadapi kondisi kekhawatiran dan gejolak jiwa yang mencerminkan antara harapan dan rasa takut, serta sedih yang berkecamuk di dalam dada. Emotional setting  yang biasa dihadapi manusia ketika menemui kegagalan, kekecewaan dan amarah yang melanda dirinya. Saat itulah pertolongan Allah tiba dalam bentuk ketenangan yang diberikan.

Berikutnya bisa juga dilihat bahwa As-Sakīnah sesuatu yang harus diminta juga dalam do’a ketika menghadapi emosional setting  seperti itu dalam perjalanan kehidupan yang sedang terancam bahaya.

Ini berbeda dengan ketika al-Qur’an menjelaskan tanda-tanda kekuasaan Allah SWT di antaranya adalah menciptakan pasangan dari jenis yang sama (manusia) yakni laki-laki dan perempuan untuk hidup bersama sebagai suami istri, seperti diungkap dalam surat ar-Rum ayat 21. Kata litaskunu ilayha  menunjuk pada makna “hidup bersama” dan tinggal menetap di suatu rumah, sebagai pasangan hidup saling mencintai dan menyayangi satu sama lain. Walaupun di masyarakat dikembangkan konsep sakinah mawadah dan rahmah dalam pernikahan yang diambil dari ayat ini, tampaknya perlu penjelasan lebih lanjut. Hal tersebut karena berhubungan dengan kata li taskunu sebagai tindakan menjadikan perempuan sebagai pasangan hidup, yang dari situ terbangun suasana cinta kasih antara keduanya.

Kalaupun istilah As-Sakīnah akan tetap digunakan dalam konsep keluarga, untuk bisa sejalan dengan proses penurunah As-Sakīnah seperti diungkap di awal tulisan ini, maka suasana keluarga yang penuh gejolak, kekecewaan serta kekhawatiran yang memenuhi kedua belah pihak suami dan istri sebagai alasan untuk memohon dilimpahkannya As-Sakīnah. Artinya As-Sakīnah sebagai kondisi ideal yang diharapkan dan dimohonkan saat kondisi emosional itu terjadi dalam keluarga.

Kembali ke pembahasan, akhir-akhir ini semua masyarakat menerima banyak informasi dan keadaan yang mengkhawatirkan, posisi emosionalnya dalam  tekanan yang tinggi dipenuhi oleh ketakutan di satu sisi dan harapan pada sisi lain, posisi kejiwaan dan mental yang tertekan ini membutuhkan As-Sakīnah; ketenangan dan ketenteraman serta keyakinan yang kuat akan kemampuan diri untuk tetap bertahan sehat, dan mampu menghadapi akibat-akibat ikutan dari wabah ini, suatu saat diperlukan kekuatan dari yang Maha Kuat untuk bisa memberikan As-Sakīnah bagi masyarakat secara umum, termasuk anda dan saya, kita.