40 Tahun

Print Friendly, PDF & Email

Fase kehidupan manusia sering di bagi kepada beberapa fase; anak-anak, remaja, dewasa awal dan dewasa serta terakhir lanjut usia. Usia 40-60 dikelompokkan pada fase dewasa, ada yang menyebutnya fase dewasa pertengahan. Sedangkan dari 60 tahun sampai tutup usia itu disebut  fase usia lanjut.

Fase ini disebut sebagai fase kematangan yang telah melewati selama 30 tahun lebih berbagai perkembangan baik fisik maupun psikis, masa pengenalan nilai dan pergumulan emosional; antara memilih dan menerima, menentukan dan melaksanakan serta keteguhan sikap sudah bisa terlewati dengan baik.

Dalam kehidupan Rasulullah SAW fase awal (masa mudanya) dimulai dengan prestasi gemilang berupa kejujuran, puncaknya dicapai pada usia 35 tahun dengan mendapat gelar al-Amīn (orang yang terpercaya). Sehingga para pemuka Quraisy mempercayakan kepadanya untuk menjadi penengah (mediator) dalam pertikaian antara para pemuka Quraisy saat meletakkan Hajar Aswad di Ka’bah ketika mereka merehab Ka’bah. Mediasinya berhasil dan keputusannya diterima oleh semua pihak dengan lega. Lalu pada usia 40 tahun Muhammad dewasa menerima wahyu pertama sehingga berstatus utusan Allah, dan menyebut nama beliau pun dianjurkan untuk disertai do’a kepadanya SAW. Ketika mengomunikasikan bahwa dirinya diangkat jadi Rasul kepada sanak keluarganya, beliau memulai dengan pertanyaan tentang prestasi kejujurannya, “Jika aku katakan kepada kalian bahwa di balik bukit itu ada kuda perang apakah kalian percaya?”  Tanyanya. “Ya, kami percaya, karena kami belum pernah mendengar engkau berbohong barang sedikitpun.” Jawab mereka serempak. Kemudian beliau menyampaikan bahwa beliau adalah Rasulullah SAW.

Dari kisah ini menggambarkan bahwa fase usia manusia dari 0-40 tahun adalah fase mengukir prestasi dan kepercayaan dari masyarakat. Sehingga berbagai keputusan dan informasi yang diberikan bisa dengan mudah diterima –secara teoritis—oleh masyarakat yang ada di sekelilingnya.

Fase kedewasaan ini tentu saja merupakan saat seseorang memiliki kekuatan untuk didengar dan diterima baik nasihat maupun informasi yang diberikan kepada mereka yang ada di bawah tanggungannya, terutama lingkungan keluarga, lalu lebih luas lagi tetangga dan masyarakat secara umum.

Tapi jangan lupa bahwa prestasi gemilang yang dicapai setelah 40 tahun juga merupakan buah dari “pewarisan” orang tua dan perjuangan mereka dalam membina, mendidik dan membesarkannya. Maka tidak heran jika pada usia itu diingatkan untuk berbuat baik kepada orang tua. Dalam surat al-Ahqaf ayat 15 diungkapkan bagaimana proses orang tua membesarkan si bayi keci, dari proses hamil hingga menyusui dan seterusnya. Untuk kemudian ketika sudah sampai dewasa, si bayi yang baik itu berterima kasih dengan senantiasa berdu’a untuk kedua orang tuanya seraya memohon kepada Tuhannya:

“….hingga jika sampai masa dewasa, dan sampai pada usia 40 tahun, ia berkata: Ya Tuhanku, berilah kami ilham (kemampuan) untuk mensyukuri ni’mat-Mu yang telah Engkau berikan kepadaku dan kedua orang tuaku, dan berilah kami ilham untuk selalu berbuat amal sholeh yang Engkau ridlai, dan perbaikilah keturunanku, aku bertaubat kepada-Mu dan aku termasuk orang-orang muslim (yang berserh diri kepada-Mu).

Tuntunan lain juga diungkap al-Qur’an dalam surat al-Isra ayat 24.

“….dan katakanlah; wahai Tuhanku, sayangilah keduanya sebagaimana mereka mengasuhku waktu kecil.”

Mungkin di bawah usia 40 tahun masih sulit menemukan kesadaran seperti itu, lain halnya ketika sudah sampai usia tersebut, akan terbayang berbagai kebaikan orang tua dan perjuangannya, si bayi itu kini sudah belajar menjadi orang tua dan memiliki tanggung jawab dan menghadapi problem yang kurang lebih sama dengan mereka para orang tua.  Sehingga kini mampu berterima kasih, selepas 40 tahun.